Global Yield Gap Atlas (GYGA)-Indonesian Oil Palm merupakan proyek internasional yang diinisiasi oleh para peneliti dari University of Nebraska-Lincoln (UNL) dan Wageningen University, yang bekerja sama dengan Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). GYGA-Indonesian Oil Palm bertujuan untuk membangun suatu atlas produktivitas dari tanaman kelapa sawit di Indonesia.  Pada Maret 2019, Workshop GYGA–Indonesian Oil Palm bersama PPKS telah dilakukan dengan tujuan menganalisis gap produktivitas di perkebunan kelapa sawit. Dari proyek tersebut diperoleh bahwa gap produktivitas terbesar terdapat pada perkebunan kelapa sawit rakyat, yaitu mencapai 47%.

Mengetahui hal tersebut, proyek ini dilanjutkan ke tahap kedua dengan obyek khusus untuk menemukan solusi terkait gap produktivitas yang lebar di perkebunan rakyat melalui kerja sama dengan Non-Government Organization (NGO) lokal. Oleh karena itu, workshop tahap kedua kembali diselenggarakan di PPKS Medan pada 14-15 Januari 2020 dengan tema “developing solutions to close the yield gap on smallholders plantation”. Workshop tersebut dihadiri oleh sekitar 40 orang perwakilan instansi yang terlibat di proyek GYGA, di antaranya peneliti PPKS, BBSDLP, dan NGO lokal, seperti Setara Jambi, Plan B, Wahana Riset Indonesia (WRI), Bentang Kalimantan, dan Posyantek.

Foto bersama peserta workshop GYGA

Pada workshop kali ini, fokus tim GYGA adalah mengidentifikasi penyebab utama gap produktivitas di kebun sawit rakyat sekaligus mencetuskan solusi atas permasalahan tersebut. Proyek dilakukan di 6 provinsi, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Proyeknya sudah berjalan sejak pertemuan perdana di Bogor pada Juni 2019. NGO sudah mulai melakukan farmer diary data, yaitu pengumpulan data-data kebun petani, dari 200 petani kebun rakyat independen. NGO juga memetakan lokasi kebun milik petani. Setelah selesai, tim dari PPKS yang akan melakukan survei lokasi kebun rakyat di tiap-tiap provinsi tersebut. Hingga kini, dua survei sudah dilakukan, yaitu di Riau sekitar akhir Oktober-November 2019 dan di Kalimantan Tengah sekitar awal Desember 2019. Sementara itu, tim BBSDLP akan lebih fokus ke analisis survei tanah dan pihak UNL fokus pada komparasi plot yang diterapkan Best Management Practice (BMP) dan tidak.

Secara garis besar, tujuan utama GYGA adalah menjadikan hasil riset bersama ini sebagai dasar untuk implementasi intensifikasi lahan. Dari hasil sementara, lahan kebun sawit rakyat sudah memenuhi syarat kelas kesesuaian lahan yang baik, namun perlu dioptimalkan kembali agar dapat mencapai produktivitas potensialnya, terutama dari segi pemilihan bahan tanaman yang tersertifikasi (non illegitime). Selanjutnya, penerapan praktik-praktik agronomis yang tepat pada perkebunan rakyat di 6 provinsi ini, dapat menjadi acuan terkait manfaat dari penerapan upaya agronomis yang tepat bagi optimalisasi potensi lahan dan produktivitas tanaman.

Kunjungan peserta workshop GYGA ke Galeri Riset Kelapa Sawit dan Unit Produksi di PPKS Medan

Translate »