Teknologi berbasis sensor yang diaktifkan oleh IoT (Internet of Things) kini berkembang pesat di semua sektor, termasuk sektor industri kelapa sawit. Teknologi sensor menghasilkan data real time yang dapat dipantau dan dikontrol dari jarak jauh dengan jaringan internet, sehingga data dapat dipertanggungjawabkan dan mempermudah pekerjaan para pelaku industri kelapa sawit. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang teknologi berbasis sensor ini adalah Bosch Indonesia. Perusahaan ini merupakan cabang dari Bosch Jerman yang merakit produk dan solusi teknologi, termasuk alat diagnostik dan peralatan untuk otomotif, sistem keamanan, dan lain sebagainya. Saat ini, Bosch mulai memproduksi peralatan atau sensor terkait aplikasi di bidang pertanian, di antaranya Smart Spraying yang digunakan untuk aplikasi herbisida pada gulma tanpa mengenai tanaman utama, serta Deepfield Connect Monitoring digunakan pada tanaman stroberi yang merupakan sensor untuk suhu dan kelembaban udara.  Bosch Indonesia tertarik untuk membuat inovasi teknologi IoT berdasarkan sumber daya lokal Indonesia, dalam hal ini di bidang kelapa sawit. Sebagai produsen CPO (Crude Palm Oil) terbesar di dunia, Indonesia akan selalu dikaitkan denga kata kunci “kelapa sawit”. Bosch melihat hal ini sebagai peluang dalam pengembangan inovasi teknologi di komoditas ini. Untuk tujuan tersebut, Bosch mengutus perwakilannya ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan pada Rabu, 31 Juli 2019.

Diskusi bersama perwakilan Bosch Indonesia, Cut Ningtyas Wahyu, dan Peneliti PPKS

Cut Ningtyas Wahyu, perwakilan dari Bosch Indonesia, menyatakan informasi yang diperoleh akan dijadikan referensi bagi Bosch Jerman dalam mempersiapkan teknologi yang mampu menjawab tantangan di industri kelapa sawit, khususnya yang berbasis teknologi sensor. Dhimas Wiratmoko dan Iput Pradiko, Peneliti Ilmu Tanah dan Agronomi, menyebutkan bidang pra panen memerlukan teknologi untuk deteksi dini serangan Ganoderma, penentuan tingkat kematangan buah, pengukuran defisiensi hara, penentuan kadar rendemen, pengukuran Leaf Area Index (LAI), dan lain sebagainya. Dr. Frisda Rimbun Panjaitan, sebagai peneliti pasca panen PPKS, menyebutkan di bidang pengolahan hasil dan mutu kelapa sawit dibutuhkan teknologi cepat yang dapat digunakan dalam penentuan Asam Lemak Bebas (ALB) CPO selama penyimpanan di tangki pabrik kelapa sawit dan teknik separasi fraksi CPO. Secara konvensional, proses keduanya memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga diharapkan teknologi berbasis sensor akan mempercepat proses pengukurannya.

Selain itu, Dr. Suroso Rahutomo, Kepala Bagian Penelitian, mengusulkan teknologi sensor untuk deteksi tipe kelapa sawit, yaitu dura, pisifera, dan tenera. Teknologi molekuler yang digunakan sekarang masih cukup mahal untuk diterapkan dan membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan hasil analisis laboratoriumnya. Teknologi sensor untuk deteksi tipe kelapa sawit ini diperkirakan akan sangat diminati, baik oleh pihak pemerintah maupun swasta. Sebagai lembaga riset, PPKS sendiri sudah merakit beberapa teknologi sensor untuk diaplikasikan di industri kelapa sawit, namun masih banyak hal yang perlu dioptimasi. Oleh karena itu, PPKS siap bekerja sama jika pihak Bosch juga ingin berkolaborasi dalam proses perakitan teknologi sensor untuk industri komoditas ini. Dari audiensi ini diharapkan akan segera tercipta alat-alat berbasis teknologi sensor di industri kelapa sawit guna mempermudah para pelaku industri kelapa sawit dalam melakukan pekerjaannya.

Translate »