Sebagian besar warga Kota Medan pastilah tahu dan pernah melintasi Jalan AVROS di daerah Kampung Baru. Jalan ini memiliki sejarah yang terkait dengan gedung megah yang berdiri tepat di sampingnya. Gedung yang terdaftar sebagai salah satu Cagar Budaya Kota Medan ini berdiri pada 1916. Beberapa kali nama gedung ini berubah mengikuti perkembangan zaman, sampai akhirnya dikenal sebagai gedung utama Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).

Sejarah Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) berawal dari dibentuknya A.V.R.O.S. (Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra) pada 27 Juni 1910. AVROS ini juga yang kemudian dijadikan nama jalan. Asosiasi pemilik, pekebun, dan pedagang karet di Pantai Timur Sumatra pada masa itu berinisiatif membangun pusat penelitian tersendiri dengan membeli tanah di Kampoeng Baroe, Medan. Akhirnya, pada 8 Desember 1916, pusat penelitian ini resmi berdiri dengan nama Algemeen Proefstation der AVROS (A.P.A) dan Dr. A.A.L. Rutgers sebagai direktur pertamanya. Publikasi Mededeelingen van het APA Rubber Serie No.1 yang menyampaikan tentang pengaruh penyadapan dan musim terhadap kebutuhan nutrisi tanaman karet menjadi salah satu indikator bahwa APA memberikan pelatihan/kursus karet untuk berbagai pemilik kebun karet.

Gedung APA pada 1916

Laporan (Mededeelingen) yang diterbitkan APA pada 1918 (kiri) dan kegiatan penyerbukan buatan pada tanaman karet di Kebun Percobaan Polonia pada Mei 1935 (kanan)

Sebagai media promosi, APA mengikuti beberapa kegiatan pameran untuk produk karet berskala internasional di London (1921), Brussel (1924), dan Paris (1927). Meskipun demikian, para peneliti APA tetap melakukan penelitian terhadap tanaman lainnya, terutama kelapa sawit. Salah satunya temuan mengenai irisan penampang buah kelapa sawit yang dilakukan untuk mengetahui asal benih kelapa sawit yang terdapat di Pantai Timur Sumatra. Investigations on Oilpalms terbitan APA merupakan buku hasil penelitian kelapa sawit pertama di Pantai Timur Sumatra yang pembahasannya mencakup semua aspek kelapa sawit.

Dokumentasi irisan penampang buah kelapa sawit

 

APA secara rutin menerbitkan laporan (Mededeelingen) dari setiap kegiatannya baik berupa hasil penelitian, nasihat, curah hujan, hingga laporan tahunan. Laporan Direktur APA terbitan Algemenee Serie No. 60 yang memuat kegiatan sepanjang tahun 1940 diterbitkan pada 1948 dan menjadi laporan terakhir APA yang memasuki masa nasionalisasi perkebunan. Pada 1957, APA berganti nama menjadi Balai Penyelidikan GAPPERSU atau Research Institute of The Sumatra Planters Association (RISPA) dan terus menerus berganti hingga menjadi Pusat Penelitian Perkebunan (Puslitbun) Medan pada 1987.

Sementara itu, Marihat Research Station (MRS) yang sekarang dikenal sebagai PPKS Unit Usaha Marihat, dibentuk pada 6 Juni 1964 dengan nama Pusat Penelitian Aneka Tanaman Sumatra (PUPENAS). Seiring berjalannya waktu, PUPENAS berganti nama menjadi MRS pada 1968 dan terus berganti lagi menjadi Puslitbun Marihat pada 1989 dengan kelapa sawit sebagai komoditi penelitian. Pada 1992 kembali dilakukan re-organisasi dua pusat penelitian perkebunan menjadi Puslitbun Marihat-Bandar Kuala. Akhirnya pada Desember 1992 dilakukan penggabungan Puslitbun Medan dengan Puslitbun Marihat-Bandar Kuala menjadi PPKS. Gabungan Puslitbun inilah yang hingga saat ini terus melakukan penelitian tentang kelapa sawit berkelanjutan dari hulu sampai hilir.

Marihat Research Station (kiri) dan Pusat Penelitian Kelapa Bandar Kuala (kanan)

 

Sumber:

Suprianto, E., Arrasyid, M.H., dan Siregar, H.H. 2016. INSPIGRAPH: Kelapa Sawit Era Kolonial dan Pasca Kemerdekaan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit: Medan.

Translate »