China memutuskan untuk menolak impor kertas bekas dalam upaya membersihkan negaranya dari polusi lingkungan (CNBC News, 2018). Untuk memenuhi konsumsi brown paper, China akhirnya memilih impor dari negara lain, salah satunya adalah Indonesia. Bagi Indonesia, hal ini tentu berdampak positif dari sisi ekonomi, namun justru kebalikan jika dilihat dari sisi lingkungan. Faktanya, industri kertas Indonesia harus mengimpor kertas bekas lebih banyak untuk didaur ulang menjadi brown paper, sehingga dapat memenuhi konsumsi brown paper di dalam maupun luar negeri. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di Indonesia pun memutuskan untuk tetap mendorong peningkatan industri daur ulang, namun harus ada efektivitas penggunaan sumber daya yang dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu sumber daya yang tersedia cukup di Indonesia adalah tandan kosong kelapa sawit.

Untuk melakukan penelitian mengenai produksi kertas liner (brown paper) dan furfural dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), Kemenperin mengutus Dr. Evi Oktavia, peneliti muda Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK), salah satu lembaga riset di bawah Kemenperin, untuk mengunjungi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada Selasa, 16 Juli 2019.

Diskusi peneliti BBPK, Dr. Evi Oktavia, dengan peneliti PPKS, Dr. Eka Nuryanto dan Dr. Erwinsyah, terkait peningkatan mutu cetak kertas liner (brown paper) dan produksi furfural dari TKKS

Menurutnya, produksi pulp dan furfural dengan teknik kraft membutuhkan bahan baku 1.000 ton/hari. Oleh karena itu, hanya TKKS yang sesuai sebagai bahan baku untuk pulp, karena lebih ekonomis dan persediaannya melimpah. Selain itu, Indonesia belum memiliki industri pulp dari bahan baku TKKS, dan kebutuhan furfural yang tinggi masih 100% impor, sehingga teknologi dengan bahan baku TKKS ini bisa direkomendasikan.

Peneliti PPKS, Dr. Erwinsyah dan Dr. Eka Nuryanto, menyambut baik ide penelitian tersebut. Namun, ada beberapa hal yang harus dikaji ulang. Dr. Erwinsyah menyebutkan, biomassa sawit memang paling besar persediaannya, tapi tidak cukup jika digunakan untuk kapasitas industri pulp. Satu Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dapat menghasilkan TKKS maksimal 180 ton/hari. Untuk mencapai kapasitas 1.000 ton/hari, minimal diperlukan TKKS dari 6 PKS. Selain itu, TKKS telah menjadi primadona sebab dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk di kebun kelapa sawit. Dengan kata lain, masih banyak kendala untuk menjadikan TKKS sebagai satu-satunya bahan baku industri pulp. Dr. Erwinsyah menyarankan, TKKS hanya dijadikan bahan baku furfural saja. Jika kapasitas bahan baku untuk pembuatan furfural 120 ton/hari, maka setiap PKS bisa memiliki 1 pabrik furfural. Dr. Evi Oktavia memberikan respons positif terhadap saran tersebut, dan mengajak PPKS untuk bekerja sama dalam penelitian ini, terutama dalam hal teknologi industri pemanfaatan biomassa kelapa sawit serta analisis dampak sosio-tekno ekonomi.

 

Translate »