Presiden RI, Joko Widodo, menyampaikan keinginannya untuk implementasi mandatori Biodiesel 50% (B50) akhir 2020. Rencana tersebut disampaikan dalam rapat terbatas soal evaluasi pelaksanaan penggunaan biodiesel di Kantor Presiden, Jakarta, pada Senin, 12 Agustus 2019. Hal ini didasari pada fakta bahwa implementasi kebijakan B20 sejak 2018 telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dari sisi ekonomi. Arcandra Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), usai rapat evaluasi di Kantor Kementrian Perekonomian, menyatakan penerapan B20 sepanjang Januari-Juli 2019 berhasil menghemat pengeluaran negara sekitar US$ 1,66 miliar. Selain itu, implementasi B20 juga meningkatkan permintaan Crude Palm Oil (CPO) dalam negeri di tengah lesunya ekspor. Program B20 ini membuktikan Indonesia sudah melangkah lebih jauh dibandingkan Malaysia yang masih berkutat di penerapan B10 menuju B20.

Mobil Toyota Innova Diesel untuk road test B50 PPKS

Sebelum B50 digaungkan pemerintah, PPKS telah melakukan pengembangan B50 dan  bahkan sudah menyelesaikan road test B50 sepanjang 12885 km, termasuk menempuh rute Medan-Jakarta-Medan serta tampil pada ajang GIIAS (GAIKINDO Indonesia Internasional Auto Show) pada Juli 2019 di Jakarta. Peneliti Biodiesel PPKS, Dr. Muhammad Anshori Nasution, menyebutkan bahwa hasil sementara rata-rata emisi gas buang mobil berbahan bakar  B50 lebih ramah lingkungan dibandingkan mobil berbahan bakar B20. Sekali lagi, PPKS mampu membuktikan bahwa Indonesia siap memanfaatkan produk hilir kelapa sawit berbasis riset serta  menjadi langkah antisipasi Indonesia untuk merasa bargaining position yang lebih baik dalam menghadapi black campaign Uni Eropa.

Referensi:

 

Translate »