Pada Januari 2020, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) memutuskan untuk memangkas produksi minyak sebesar 2,1 juta barel per hari, di mana reduksi produksi terbesar dilakukan oleh Arab Saudi. Namun, Rusia menolak untuk mengikuti usulan tersebut. Ketidaksepakatan Arab Saudi-Rusia menjadikan masing-masing negara berencana untuk meningkatkan produksi minyak. Alhasil, perang harga minyak mentah (oil price war) pun terjadi sejak Maret 2020 dan membuat harga Brent Crude Oil, salah satu harga patokan utama untuk pembelian minyak di seluruh dunia, berada pada posisi paling rendah sejak 2016. Sebelumnya, U.S. Energy Information Administration (EIA) memproyeksi harga Brent Crude Oil sebesar US$61,25 per barel pada 2020. Setelah terjadinya oil price war, harga tersebut direvisi menjadi US$43,30 di 2020 (turun 32,73% dari tahun sebelumnya). Namun, harga Brent Crude Oil mulai melonjak kembali sejak awal April. Hal ini diduga karena OPEC akan mengadakan pertemuan pada 9 April untuk merancang ulang kesepakatan antara Arab Saudi-Rusia, sehingga kemungkinan perdamaian keduanya dapat terjadi.

Sumber: https://www.eia.gov/outlooks/steo/index.php

Meskipun demikian, sejumlah harga minyak nabati lainnya, termasuk CPO, ikut menurun sebagai dampak dari penurunan harga minyak mentah. Harga CPO 2020 terkoreksi dan menurun sebanyak 6,32% dari harga sebelum oil price war. Terlebih lagi, harga CPO selalu lemah dalam persaingan harga minyak nabati. Hasil studi simultan dari tim kajian Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menunjukkan apabila harga minyak mentah turun 10%, maka harga CPO turun sebesar 3,07% dan minyak kedelai turun sebesar 1,60%. Sebaliknya, apabila harga minyak mentah naik 10%, maka harga CPO hanya naik sebesar 3,38% dan minyak kedelai naik sebesar 10,15%.

Kondisi ini diperparah dengan merebaknya kasus COVID-19 yang menjadi bencana global. Hingga saat ini, lebih dari 200 negara mengkonfirmasi terinfeksi COVID-19. Negara-negara importir CPO seperti China, Uni Eropa, dan Amerika telah melakukan lockdown dan menyebabkan permintaan CPO menurun. Namun sebagai negara eksportir CPO, Malaysian Palm Oil Association (MPOA) meminta pemerintah Malaysia agar tetap mengijinkan industri kelapa sawit beroperasi. Berdasarkan kajian PPKS, COVID-19 akan mempengaruhi persediaan minyak nabati, termasuk CPO, antara negara importir dan eksportir. Puncak COVID-19 yang diperkirakan tejadi pada Maret sampai Juni 2020 juga akan menyebabkan CPO kehilangan momentum harga dan rebound kembali dari awal sampai akhir Idul Fitri 2020. Lockdown akan berdampak hingga Juli sampai Desember 2020, sehingga persediaan dan harga CPO selanjutnya dipengaruhi oleh produksi.

Translate »