Beberapa spesies gulma seperti Chromolaena odorata dan Mikania micrantha dikenal sebagai gulma yang sangat menganggu aktivitas di perkebunan kelapa sawit. Sifat gulma yang selalu tumbuh dan berkembang cepat mengharuskan pekebun menyemprotkan herbisida kimiawi secara rutin. Pengendalian gulma menggunakan herbisida kimiawi memang solusi yang mudah dan cepat. Namun, penggunaan herbisida yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi gulma. Selain itu, minyak kelapa sawit akan terkontaminasi akibat dari residu herbisida yang mengendap pada buah sawit. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tepat untuk meminimalkan penggunaan herbisida. Konsep pengendalian yang ramah lingkungan menggunakan Mucuna bracteata dinilai paling prospektif. Sebagai pesaing gulma, Mucuna bracteata akan merambat di atas gulma dan melilit batangnya, sehingga pertumbuhan gulma menjadi terhambat karena bersaing memperoleh sinar matahari.

Pengendalian gulma akan lebih baik jika kacangan Mucuna bracteata ditanam pada musim hujan untuk mengurangi tingkat cekaman air. Untuk mengatasi tingkat kematian bibit Mucuna bracteata di lapangan yang cukup tinggi, maka penanamannya disarankan sebanyak 3 kali jumlah tanaman kelapa sawit. Semakin tinggi populasi Mucuna bracteata, maka kecepatan penutupan akan semakin baik, sehingga semua areal tertutup dan pengendalian gulma akan semakin efektif. Penggunaan Mucuna bracteata juga dapat mengurangi pergerakan hama kumbang tanduk, di mana dengan penutupan lahan yang tebal dapat menghalangi terbangnya kumbang untuk mencari makan dan berkembang biak. Selain itu, Mucuna bracteata  memiliki bintil akar yang dapat memfiksasi nitrogen bebas dari udara menjadi nitrogen dalam bentuk ion yang tersedia bagi tanaman. Secara umum, jumlah unsur hara ayang dikandung tanah dengan adanya penanaman Mucuna bracteata di perkebunan kelapa sawit akan bertambah, baik dari sumbangan dalam bentuk serasah maupun fiksasi nitrogen bebas. Keunggulan lainnya dari  Mucuna bracteata adalah mampu menjaga kelembapan tanah dan mencegah erosi, toleran terhadap kekeringan dan relatif tahan terhadap naungan, serta tidak disukai oleh serangga hama maupun binatang ternak karena kandungan senyawa fenolik yang tinggi.

Mucuna bracteata memiliki batang yang tumbuh menjalar, merambat, berwarna hijau, bentuk bulat, halus, dan lunak. Setelah tua, batangnya akan berubah warna menjadi coklat, muncul bakal bintil akar berwarna putih, dan pada ruasnya muncul perakaran. Satu tangkai daun terdiri dari 3 helaian daun (trifolia) berbentuk oval dan berwarna hijau. Tanaman ini dapat diperbanyak melalui stek dan biji dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda. Perbanyakan dengan stek dapat dilakukan dengan sistem stek patah tebu, sistem sungkup, sistem stek ganda, sistem oyot, dan sistem tanam langsung. Adapun perbanyakan dengan biji dilakukan dengan penanaman di areal dengan ketinggian di atas 1000 mdpl dan bertopografi datar. Tanaman akan mulai berbunga pada umur 4,5 bulan setelah tanam. Bunga akan menjadi polong dalam rentang waktu 75-85 hari. Biji siap dipanen ketika polong berwarna cokelat tua dan menyebabkan gatal jika dipegang langsung dengan tangan. Perkecambahan biji dapat dilakukan dengan menggerus kulit biji secara langsung maupun dengan pencampuran larutan asam sulfat 85%.

 

Referensi:

  1. Seri Buku Saku 27- Mucuna bracteata Sebagai Tanaman Pengendali Gulma: Perbanyakannya dengan Stek dan Biji di Indonesia
  2. Seri Kelapa Sawit Populer 02 – Mucuna bracteata: Pengembangan dan Pemanfaatannya di Perkebunan Kelapa Sawit

Pemesanan Buku Melalui – T. Ichwan Mirza (0813 7030 8681)

atau https://publikasi.iopri.org/

Pemesanan Mucuna bracteata Melalui – Darmayanti (0813 7044 5324)

 

 

Translate »