Dengan berbagai tantangan yang dihadapi oleh kelapa sawit saat ini, Presiden Joko Widodo menyarankan para pelaku industri kelapa sawit untuk fokus di pengembangan produk hilir kelapa sawit. Sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, pemerintah tentu perlu mengupayakan peningkatan nilai tambah dari minyak sawit, salah satunya dengan cara menambah jenis produk turunan kelapa sawit yang dapat dikomersialkan secara berkelanjutan.  Akan tetapi, industri perkebunan kelapa sawit masih minim inovasi. Saat ini, Indonesia baru mengembangkan produk setengah jadi (intermediate), dan masih perlu pengembangan lebih lanjut untuk dijadikan produk siap pakai. Untuk mendukung terciptanya inovasi, maka pemerintah perlu menyusun kebijakan yang mengarah pada pengembangan industri sawit di bagian hilir. Oleh karena itu, Suharso Monoarfa, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (WANTIMPRES RI) menugaskan tim kajiannya untuk mengunjungi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada Kamis, 21 Maret 2019.

Tim Kajian WANTIMPRES RI dan Para Peneliti PPKS

Salah satu anggota tim kajian, Kemal Taruc, Sekretaris Anggota WANTIMPRES, menyatakan PPKS saat ini harus fokus untuk terus mendukung perkelapasawitan Indonesia. Para peneliti PPKS, Dr. Erwinsyah dan Dr. Muhammad Anshori Nasution, menanggapi pernyataan tersebut dengan menunjukkan hasil-hasil riset PPKS yang seharusnya bisa dikomersialkan, namun belum bisa dipasarkan ke masyarakat luas, seperti produk bio-energi, produk kayu, produk pharmaceutical, minyak sawit merah, dan produk-produk lainnya yang berbasis minyak sawit. Dukungan pemerintah untuk terus mendorong kegiatan riset sangat diperlukan agar produk-produk potensial ini terus dapat dikembangkan dan diserap sektor industri.

Translate »