Pemanfaatan lahan gambut dan areal bekas hutan untuk perkebunan kelapa sawit turut mendorong perubahan status serangga tertentu menjadi hama, salah satunya adalah rayap. Spesies rayap yang paling umum dijumpai di perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Coptotermes curvignathus dan Macrotermes gilvus. Gejala umum serangan rayap terjadi pada kelapa sawit yang ditanam berdekatan dengan tunggul pohon atau sisa-sisa kayu hutan yang tidak dibongkar. Keberadaan tunggul berkontribusi terhadap terjadinya serangan rayap yang terus berulang di lapangan. Serangan dari bagian luar tanaman ditandai dengan terbentuknya lorong-lorong tanah mulai dari bagian bonggol tanaman hingga menutupi potongan pangkal pelepah. Adapun serangan dari bagian dalam batang ditandai dengan terjadinya akumulasi daun tombak, daun yang menguning, dan pelepah sengkleh. Pada intensitas berat, serangan dari bagian dalam batang dapat menyebabkan kematian tanaman. Serangan rayap di lahan gambut bekas hutan juga menyebabkan tanaman tumbang akibat kerusakan berat pada bonggol dan sistem perakaran tanaman.

Koloni rayap pada sisa kayu hutan dan menyerang tanaman kelapa sawit muda yang ditanam berdekatan dengan sisa kayu tersebut

Gejala serangan rayap yang merusak jaringan dalam batang tanaman TT 2005 di lahan gambut bekas hutan di Kabupaten Bengkalis, Riau

 

Tindakan pengendalian rayap C. curvignathus yang sukses bergantung pada timing dan monitoring yang tepat. Kegiatan monitoring dan pengendalian sebaiknya dilakukan di waktu yang bersamaan. Monitoring serangan rayap dapat dilakukan melalui sensus dengan rotasi 2 minggu apabila terdapat > 3% pohon yang terserang rayap dan 1 bulan jika serangan < 3%. Sementara itu, pengendalian rayap di perkebunan kelapa sawit lahan gambut saat ini masih menggunakan termisida berbahan aktif fipronil, sipermetrin, atau klorpirifos.

Pelaksanaan monitoring dan pengendalian dapat dilakukan oleh 3 tim, yaitu tim sensus, tim pembongkar, dan tim penyemprot. Tim sensus mengamati dan menandai pohon-pohon yang terserang rayap di blok yang akan dikendalikan. Kemudian tim pembongkar melakukan sanitasi terhadap lorong-lorong tanah yang dibuat oleh rayap. Sanitasi dilakukan dengan cara membongkar tanaman pada tanaman belum menghasilkan (TBM) dan mengupas batang atau sisa pelepah terserang dengan menggunakan dodos pada tanaman menghasilkan (TM). Selanjutnya, tim penyemprot mengaplikasikan termisida pada batang yang telah dikupas. Setelah itu, penyiraman termisida juga dilakukan pada tanah dengan radius 30 cm dari pangkal batang tanaman terserang dan pada 6 tanaman di sekelilingnya sebagai tindakan pencegahan. Evaluasi terhadap efektivitas pengendalian perlu dilakukan 2 minggu setelah aplikasi termisida. Umumnya, pengulangan aplikasi termisida dilakukan dengan rotasi 5-6 bulan jika menggunakan bahan aktif fipronil atau 2-3 bulan jika menggunakan sipermetrin atau klorpirifos.

Selain metode di atas, pengendalian juga dapat dilakukan dengan metode perangkap yang lebih dikenal dengan termite baiting system (TBS) atau juga dengan melakukan tindakan pencegahan menggunakan jamur Metarhizium anisopliae. Beberapa metode pengendalian yang disarankan telah dicoba dan dibuktikan oleh para peneliti PPKS. Mengingat semakin luasnya penggunaan lahan gambut untuk pertanaman kelapa sawit, petani dan pekebun memerlukan informasi dan pengetahuan mengenai cara pengendalian serangga rayap ini.

Pipa berisi umpan berupa gulungan kertas kardus ditanam di sekeliling tanaman terserang rayap di lahan gambut (termite baiting system)

 

Referensi:

Priwiratama, H., Madiyuanto, Rozziansha, T.A.P., Prasetyo, A.E., & Susanto, A. (2018). Kenali dan kendalikan serangan rayap di areal kelapa sawit lahan gambut dan eks-hutan. Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 23(3), 91-98.

Translate »