Energi listrik dan bahan bakar cair dengan kualitas tinggi merupakan sumber energi yang paling banyak dibutuhkan masyarakat dunia (Ketua Umum IKABI, 2019). Akan tetapi, kedua energi tersebut berasal dari sumber energi yang tak terbarukan. Untuk mengantisipasi persediaan batu bara dan minyak bumi yang kian menipis, Indonesia mulai fokus mencari sumber energi baru dan terbarukan dari sumber nabati. Kelapa sawit dinilai sebagai salah satu bahan baku yang menjanjikan karena potensi produktivitasnya yang tinggi. Dengan predikat negara produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan energi listrik dan bahan bakar, baik di dalam maupun luar negeri, meskipun batu bara dan minyak bumi habis di masa depan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkolaborasi dengan Deutsche Gesellschaft fṻr Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH dalam proyek kerja sama pembangunan internasional, Strategic Exploration of Economic Mitigation Potentials through Renewables (ExploRE). Dalam rangka mendapatkan informasi aktual industri kelapa sawit Indonesia, GIZ mengutus perwakilannya, Karl Segschneider dan Dody Setiawan, ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada Rabu, 4 September 2019.

Karl Segschneider, Principal Advisor GIZ, bersama Dr. Suroso Rahutomo, Kepala Bagian Penelitian PPKS, di Galeri Riset Kelapa Sawit PPKS

GIZ merupakan perusahaan internasional milik pemerintah federal Jerman yang sering beroperasi atas nama Kementerian Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi Federal (BMZ). Sebelumnya, GIZ sudah pernah berkolaborasi dengan Dr. Muhammad Ansori Nasution, peneliti PPKS di bidang Rekayasa Teknologi dan Pengelolaan Lingkungan, dalam pembuatan palm oil mapping. Pada kunjungan kali ini, GIZ ingin mendiskusikan opsi dan strategi peningkatan penggunaan energi terbarukan di sektor energi, iklim, pembangunan, dan keuangan di Indonesia.  Karl menyebutkan, suatu bahan baku perlu memiliki nilai tambah jika ingin dijadikan sumber energi baru dan terbarukan, seperti kelapa sawit. Pesatnya produksi minyak kelapa sawit mentah juga meningkatkan produksi Palm Oil Mill Effluent (POME). Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi dalam POME memberikan potensi untuk konversi listrik, melalui penangkapan gas metana yang dihasilkan oleh serangkaian tahapan proses pemurnian. Selain menjadi sumber energi terbarukan, proses ini juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.

Implementasi dari proyek ini tentu membutuhkan jangka waktu panjang.  Oleh karena itu, Karl Segschneider menyatakan, GIZ ingin membantu EBTKE menyusun peraturan yang efisien dan tepat untuk mendukung energi terbarukan dari POME tersebut. Hal ini dapat dimulai dengan berinvestasi untuk penelitian dan memberikan insentif untuk mendukung sektor swasta berinvestasi dalam energi terbarukan. Kemudian, GIZ juga mengajak PPKS bekerja sama untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap keekonomian sumber energi listrik dari POME. Rencananya, GIZ akan kembali ke PPKS untuk berdiskusi, atau mengikutsertakan peneliti PPKS pada diskusi publik di Eropa untuk proyek baru GIZ di awal 2020 mendatang.

Penulis : CMD
Foto : IPS

Referensi :

Sawit Masa Depan Energi Terbarukan

Translate »