Kebutuhan energi terbarukan (renewable energy) berbasis biomassa sawit akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi di dunia. Salah satu negara yang ingin membangun pembangkit energinya dengan renewable energy biomassa sawit adalah Jepang. Pemerintah Jepang memprediksi kebutuhan negara tersebut terhadap cangkang sawit pada 2020 dapat mencapai 3,2 juta ton. Sebagai eksportir utama palm kernel pada 2017, Indonesia tentu akan mengambil kesempatan tersebut untuk memperbesar peluang ekspor biomassa sawit di pasar Jepang. Oleh karena itu, Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI), dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menghadiri kegiatan Business Forum and Business Matching serta 4th International Biomass Expo 2019 di Tokyo, Jepang yang berlangsung pada 25 Februari – 1 Maret 2019.

Businness Forum and Businnes Matching

Dr. Erwinsyah, peneliti PPKS sekaligus perwakilan tim DMSI dan PPKS, menyebutkan bahwa perusahaan pembangkit energi Jepang merespon dengan baik kerja sama bisnis biomassa sawit dengan Indonesia. Cangkang sawit juga diperkirakan akan menjadi produk yang memiliki nilai tambah, sehingga perlu dilakukan kajian pengembangan produk berbasis cangkang sawit. Kemudian, dalam rangka meningkatkan hubungan kerja sama bisnis kedua negara, Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang ingin mengetahui secara langsung tentang industri kelapa sawit dan membutuhkan informasi lebih lanjut terkait penerapan sistem sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).

4TH International Biomass Expo 2019

Sementara itu, pada 4th International Biomass Expo, Indonesia menampilkan berbagai jenis produk biomassa berbasis kelapa sawit. Perusahaan Jepang menunjukkan minatnya terhadap biomassa sawit, dan tertarik menjalin kerja sama bisnis maupun riset. Tim Indonesia juga mengikuti pertemuan dengan pihak Tokyo Organizing Committee of the Olympic and Paralympic 2020. Pada pertemuan tersebut, Pemerintah Jepang menyatakan hanya akan menerima produk yang telah memenuhi sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Meskipun demikian, Tim Indonesia menyampaikan kepada Pemerintah Jepang, bahwa saat ini Indonesia sedang menerapkan sistem ISPO yang bersifat mandatory dan juga telah memenuhi sertifikasi RSPO.

Translate »