Kumbang tanduk Chalcosoma atlas merupakan salah satu hama minor di perkebunan kelapa sawit. Gejala kerusakan paling umum yang ditimbulkannya yaitu patahnya pelepah muda (biasanya pelepah daun ke 9-17) pada bagian tengah pelepah akibat gerekan kumbang (Susanto et al., 2015). Patah pelepah ini tidak mengakibatkan potongan daun seperti huruf V terbalik yang sering terlihat pada serangan hama kumbang badak Oryctes rhinoceros (Susanto et al., 2012). Pengendalian yang sudah dilakukan sebelumnya menggunakan insektisida, namun biayanya cukup mahal dan aplikasinya tergantung musim. Saat ini banyak laporan terkait alternatif pengendaliannya, di antaranya dengan pemanfaatan buah nanas (Ananas comosus). Meskipun demikian, kajian mengenai hasil tangkapan dan pengaruhnya terhadap tingkat kerusakan tanaman kelapa sawit belum pernah dipublikasikan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pun berinisiatif melakukan eksperimen dan pengamatan untuk mengkaji hal tersebut.

Gejala serangan kumbang Chalcosoma atlas pada pelepah daun kelapa sawit

PPKS melaksanakan pemasangan perangkap dan pengamatan intensif selama 6 bulan. Jenis nanas yang digunakan tidak ditentukan dan harus dalam kondisi matang. Nanas yang  dipotong-potong dimasukkan ke dalam botol yang berlubang-lubang. Botol tersebut diletakkan di dalam sebuah ember atau potongan jirigen bekas yang dimodifikasi dengan menempatkan dua potongan seng yang disusun berbentuk tanda + (plus). Perangkap buah nanas ini lalu  digantung pada tiang dengan ketinggian sekitar 2,5 m dan dipasang pada setiap pinggir blok pada jarak sekitar 100-200 m.

Perangkap buah nanas

Secara umum, hasil pengamatan menunjukkan terdapat beberapa serangga di dalam perangkap buah nanas, termasuk kumbang C. atlas. Pemasangan sebanyak 238-375 perangkap pada luasan 2.963,89 ha selama 6 bulan mampu menangkap 650.691 kumbang C. atlas, baik kumbang jantan maupun betina. Jumlah kumbang C. atlas yang tertangkap cenderung menurun seiring dengan penurunan intensitas serangan hama dari 23,08% menjadi 10,14% dalam waktu 6 bulan. Dengan kata lain, pemerangkapan massal menggunakan buah nanas cukup efektif mengurangi populasi kumbang di lapangan, sekaligus memutus siklus hidup hama. Intensitas serangan mungkin akan turun lebih besar lagi jika jumlah perangkap ditambah dan periode pemasangan perangkap dilanjutkan sampai populasi hama di bawah ambang ekonomi.

Kumbang Chalcosoma atlas betina (a), jantan minor (tanduk pendek) (b), dan jantan mayor (tanduk panjang) (c)

Kandungan gula pada nanas diduga menjadi daya tarik bagi kumbang C. atlas, atau ada senyawa lain yang perlu diteliti lebih lanjut. Selain itu, tingkat kesegaran buah juga diduga turut berkontribusi dalam pemerangkapan massal. Jumlah tangkapan kumbang C. atlas meningkat tajam pada hari kedua setelah pemasangan dan kemudian cenderung menurun hingga hari ketujuh. Hal ini dikarenakan potongan buah nanas telah mengering, sehingga potongan buah nanas harus diganti setiap seminggu sekali.

 

 

Sumber:

Prasetyo, A.E., Pradana M.G., Sitompul, P., Daulay, A.S., & Pasaribu, H. (2019). Pemerangkapan Massal Hama Chalcosoma atlas Menggunakan Perangkap Buah Nanas di Perkebunan Kelapa Sawit. Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 24(3), 93-102.

Translate »