Pilihan Bahasa : 

Hasil Penelitian Ilmu Tanah dan Agronomi Tahun 2008

Ilmu Tanah dan Agronomi

 

Peneliti Ilmu Tanah & Agronomi 

Dr. Edy Sigit Sutarta
Dr. Witjaksana Darmosarkoro
Ir. Sugiyono, MSc
Dr. Hasril Hasan. Siregar
Dr. Iman Yani Harahap
Ir. Arsyad D. Koedadiri, MM
Ir. M. Lukman Fadli, MSi
Ir. Amir Purba, MS
Ir. Indra Eko Setyo, MSi

Winarna, SP, MP
Suroso Rahutomo, SP, MAgrst
Ir. Yusran Pangaribuan, MSi
Heri Santoso, SP
Nuzul Hijri Darlan, SP

Dhimas Wiratmoko, SP
Eko Noviandi Ginting, SP
Eka Listia, SP
Taufik Caesar Hidayat, SP

         Optimalisasi produktivitas tanaman kelapa sawit pada satuan unit lahan menjadi tuntutan utama dalam budidaya tanaman kelapa sawit. Luas tanaman kelapa sawit yang mencapai lebih dari 7 juta ha pada tahun 2008 baru mencapai tingkat produktivitas sekitar 3,5 ton CPO/ha/thn. Pada sisi lain industri kelapa sawit dihadapkan pada keterbatasan lahan dan tuntutan kelestarian lingkungan. Berkaitan dengan hal tersebut, kegiatan penelitian Kelti Ilmu Tanah dan Agronomi difokuskan pada upaya optimalisasi produktivitas, budidaya kelapa sawit ramah lingkungan, serta efisiensi dan efektivitas pemupukan.

Budidaya kelapa sawit di lahan eks tambang

         Lahan bekas tambang yang tersebar di beberapa daerah di wilayah Sumatera maupun Kalimantan merupakan lahan marginal yang dapat menjadi alternatif pengembangan tanaman kelapa sawit. Upaya memperbaiki kerusakan yang diakibatkan kegiatan penambangan dilakukan dengan berbagai kegiatan, terutama dengan aplikasi bahan organik untuk mengatasi faktor pembatas yang umumnya adalah tekstur yang didominasi pasir dan kandungan unsur yang beracun bagi tanaman. Tahap awal penelitian dilakukan untuk mengetahui kemungkinan penggunaan tanah yang berasal dari lahan bekas tambang sebagai media tanam bagi bibit kelapa sawit.  
        Hasil pengukuran bobot kering tanaman menunjukkan bahwa bobot kering total tertinggi terdapat pada media tanam menggunakan top soil. Pada media tanam menggunakan tailing timah, hasil pengamatan menunjukkan bahwa pengaruh aplikasi bahan organik berupa kompos TKS terhadap total bobot kering bibit pada percobaan ini masih lebih baik dibandingkan dengan aplikasi bahan-bahan kimia seperti aquasorb, zeolit, dolomite, dan humic acid.
       Hasil analisis terhadap serapan hara daun menunjukkan pola yang relatif sama dengan hasil pengukuran bobot kering tanaman. Serapan hara N, P, K, Ca, dan Mg  daun yang relatif lebih tinggi terdapat pada bibit yang ditanam pada media top soil dan tailing timah dengan perlakuan aplikasi kompos TKS. Dalam percobaan ini, pengaruh aplikasi bahan-bahan kimia seperti aquasorb, zeolit, dolomite, dan humic acid terhadap serapan hara relatif  belum sebaik aplikasi kompos TKS.
 

 
Emisi Karbon pada Perkebunan Kelapa Sawit di Lahan Gambut

    Pengukuran emisi CO2 pada lahan gambut dilakukan pada tiga site yang menggambarkan keragaman pengelolaan lahan gambut, yaitu pada areal hutan sekunder, areal TBM (tanaman belum menghasilkan), dan areal TM (tanaman menghasilkan). Alat yang digunakan sebagai perangkap emisi CO2 dari lahan gambut adalah Poly-acrylic chambers berukuran 0,6 m x 0,6 m x 0,4 m. Sampel CO2 yang terperangkap dalam chambers kemudian diambil menggunakan syringes 10 mL untuk kemudian diukur menggunakan portable gas chromatography. 

         Pada musim kemarau (Agustus 2008), hasil pengukuran menunjukkan bahwa emisi CO2 tahunan dari berbagai sistem pengelolaan lahan gambut (hutan sekunder, TBM2, dan TM 12) hampir sama, yaitu berkisar 33.682-34.738 kg/ha. Hal ini diduga terkait dengan kedalaman muka air tanah yang hampir sama, yaitu sekitar 55 cm. Kondisi di antara permukaan tanah hingga kedalaman 55 cm ini merupakan kondisi aerobik sehingga dekomposisi bahan organik mudah terjadi dan menghasilkan emisi CO2. Karena berada pada kedalaman muka air tanah yang hampir sama, diduga emisi CO2 yang dihasilkan juga relatif sama.  Pada musim penghujan (Nopember 2008), hasil pengukuran menunjukkan bahwa emisi karbon yang terjadi berkisar 8.305-51.884 kg/ha. Emisi CO2 tertinggi terjadi pada areal hutan sekunder dan terendah pada areal tanaman kelapa sawit TBM-2. Rendahnya emisi CO2 pada areal TBM-2 ini diduga terkait dengan kedalaman muka air tanah yang hanya sekitar 35 cm, lebih dangkal dibandingkan pada areal hutan sekunder maupun TM.

 

 

 

 


Teknik Peresapan Air Bebas Aliran Permukaan dalam Upaya Peningkatan Produksi Kelapa Sawit

       Musim kemarau yang jelas pada wilayah-wilayah di sebelah selatan katulistiwa, menyebabkan tidak optimalnya produksi tanaman kelapa sawit. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa upaya untuk meningkatkan peresapan air ke dalam tanah sehingga dapat meningkatkan cadangan air di dalam tanah. Dalam hal ini, PPKS bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor untuk menguji teknik konservasi tanah dan air (teras gulud dan rorak) dalam meningkatkan peresapan air di dalam tanah sehingga produksi tanaman kelapa sawit pada musin kemarau dapat ditingkatkan.
          Hasil pengamatan menunjukkan bahwa overlandflow, baseflow + interflow, dan total runoff yang terjadi selama tahun 2008 pada blok 3 (perlakuan rorak) adalah yang terkecil (12,6 mm) daripada blok 1 (perlakuan teras gulud; 103,2 mm), dan blok 2 (kontrol; 359,9 mm). Selain itu, erosi tanah secara berturut pada blok percobaan yaitu sebesar 1,4 kg/ha; 127,8 kg/ha; dan 2,6 kg/ha. Angka ini masih jauh di bawah erosi yang masih dapat dibiarkan (tolerable soil loss, 20 ton/ha/tahun). Dengan demikian, secara keseluruhan nilai koefisien runoff blok 3 (perlakuan rorak) yaitu sebesar 9,0% lebih kecil dari pada blok 1 (perlakuan guludan), sebesar 13,7% dan lebih kecil dari blok 2 (perlakuan kontrol) sebesar 23,3%.
       
Data produksi menunjukkan bahwa aplikasi teras gulud memberikan produksi yang lebih baik dari pada aplikasi rorak, sementara aplikasi rorak memberikan hasil lebih baik dari pada kontrol (tanpa perlakuan konservasi tanah dan air).  Blok yang mendapat perlakuan teras gulud menghasilkan produksi TBS tertinggi (25,2 ton/ha) dibandingkan blok dengan aplikasi rorak (23,6 ton/ha) dan jauh lebih tinggi dari pada blok kontrol (20,8 ton/ha). Dengan kata lain, produksi TBS blok dengan aplikasi guludan dan rorak lebih tinggi dibandingkan kontrol sebesar 21,0% dan 13,5%.

                                                                                                                                       selanjutnya.........

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12785
  • Unique Visitor: 3190
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.100
  • Since: 2010-08-18