Pilihan Bahasa : 

Hasil Penelitian Sosio Tahun 2007

Sosio Tekno Ekonomi

 

Peneliti Sosio Tehnoekonomi 

Dr. Angga Jatmika
Dr. Teguh Wahyono
Ir.   Dja'far, MS.
Ambar Kurniawan, SP.
Ratnawati Nurkhoiry, SP.
Muhammad Akmal Agustira, SP.

 


Pendahuluan

Sosial ekonomi dan lingkungan merupakan  aspek yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan industri kelapa sawit yang semakin meningkat dan dinamis. Untuk itu Kelompok Peneliti Sosio Teknoekonomi lebih menitik beratkan kajian penelitian  terhadap isu-isu lingkungan dan sosial ekonomi, terutama pada konsep pembangunan kelapa sawit lestari, dampak perkembangan investasi asing, analisis faktor peremajaan perkebunan kelapa sawit, kajian pengembangan perkebunan kelapa sawit di daerah perbatasan Kalimantan, diseminasi serta penyebaran informasi dan teknologi. 

Konsep Pembangunan Industri Kelapa Sawit Berdasarkan

Prinsip dan Kriteria RSPO (Roundtable Sustainable on Palm Oil)

Industri kelapa sawit Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat pada beberapa tahun terakhir ini dan pada tahun 2007 Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia mengungguli Malaysia. Perluasan lahan sawit yang begitu cepat mungkin saja menimbulkan masalah dari segi lingkungan sehingga dapat menimbulkan sentimen negatif terhadap industri kelapa sawit Indonesia. Untuk menjembatani berbagai kepentingan diantara negara-negara produsen dengan konsumen maka dibentuklah forum konferensi minyak sawit lestari (Rountable Sustainable on Palm Oil/ RSPO). Forum tersebut mengeluarkan pedoman untuk menghasilkan minyak sawit yang lestari yang disebut dangan prinsip dan kriteria SPO. 

Dalam rangka untuk menguji coba penerapan prinsip dan kriteria RSPO tersebut penelitian ini dilakukan. Tujuannya untuk mengetahui masalah dan hambatan yang dialami dalam penerapan prinsip dan kriteria RSPO pada perkebunan besar dan perkebunan rakyat.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa  8 prinsip dan 39 kriteria RSPO yang dijabarkan menjadi 113 indikator (60 mayor dan 53 minor) hampir dapat diterapkan oleh  perkebunan negara dan swasta di Indonesia.  Nilai rata-rata  penerapan yang diperoleh  sebesar 75,76 %.  Nilai ini masih mungkin untuk ditingkatkan dengan cara menertibkan rekaman/pencatatan kegiatan yang dilakukan di lapangan,  meningkatkan implementasi kriteria yang terkait dengan upaya mempertahankan kualitas air permukaan dan air tanah,  penanganan limbah,  keselamatan kerja.

Upaya mempertahankan kualitas air permukaan diantaranya dijabarkan dengan menjaga dan memelihara daerah aliran sungai (DAS) sesuai dengan kriterianya (sungai dengan lebar 5-10 m : 5 m  ; sungai 10-25 m : 15 m , 25 m  ; >100 m : 100 m) pada saat atau sebelum replanting.  Meski pemenuhan indikator ini kadangkala memerlukan koordinasi yang kuat, namun hal ini merupakan tantangan yang perlu diatasi demi tercapainya minyak sawit lestari Indonesia.

 

Pengaruh Investasi Asing pada  Industri Kelapa Sawit Indonesia
            Investasi asing di sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia bukan merupakan hal yang baru.  Sejak tahun 1967 investasi asing diawali dengan masuknya Anglo  Eastern grup asal Inggris. Akhir-akhir ini investor asing makin bergairah untuk menanamkan investasinya di Indonesia di bidang perkebunan kelapa sawit seiring dengan makin cerahnya prospek usaha ini.

            Total areal perkebunan sawit Indonesia pada tahun 2007 mencapai 6,6 juta ha, dengan share kepemilikan adalah 3,3 juta ha (50,8%) perusahaan swasta, 2,6 juta ha (38,8%) petani rakyat dan 0,7 juta ha (10,4%) perusahaan negara. Cadangan lahan di Indonesia yang masih luas dan tenaga kerja yang murah, membuat investor asing kian deras masuk dalam perkebunan sawit Indonesia.    

            Meskipun investor asal Asia Tenggara (Malaysia dan Singapura) baru mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Indonesia sejak awal tahun 1990an, namun investor dari negeri jiran ini saat ini menduduki peringkat teratas. Sejumlah perusahaan perkebunan Malaysia seperti PPB Group Berhad, Kulim Berhad, KL Kepong Berhad, Golden Hope Plantation Berhad, Tradewinds Berhad dan kumpulan Guthrie Berhad secara agresif  mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang  sebagian besar melalui proses akuisisi terhadap perusahaan perkebunan lokal.

            Menurut data Ditjenbun 2007, areal kebun kelapa sawit yang sudah ditanami oleh perusahaan asing adalah 539.000 ha, dimana perusahaan Malaysia mencapai 422.000 ha. Dengan cadangan lahan yang begitu besar, perusahaan Malaysia diperkirakan dapat menguasai 20% areal lahan kelapa sawit di Indonesia.

            Investasi asing di sektor industri kelapa sawit pada lima tahun terakhir sangat tinggi, yaitu mencapai 63,3% dari realisasi atau 14,3 trilyun rupiah (Tabel 2).  Jika dilihat dari penyerapan tenaga kerja (TK), investasi PMA mampu menyerap TK lebih banyak daripada PMDN, tetapi besaran nilai investasi per serapan TK, PMDN lebih kecil, sehingga investasi PMDN dinilai lebih efisien dalam menyerap TK.

            Menyikapi maraknya investasi asing di industri kelapa sawit, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang investasi asing, antara lain melalui PP No. 76 tahun 2007 dan UU No. 25 tahun 2007.

 

                                                                                                                                           selanjutnya.........

 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 1742
  • Unique Visitor: 622
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.98
  • Since: 2010-01-10