Hasil Penelitian Sosio Tekno Ekonomi Tahun 2008
Sosio Tekno Ekonomi
Peneliti Sosio Tehnoekonomi
Dr. Angga Jatmika
Dr. Teguh Wahyono
Ir. Dja'far, MS.
Ambar Kurniawan, SP.
Ratnawati Nurkhoiry, SP.
Muhammad Akmal Agustira, SP.
Tuntutan industri kelapa sawit berkelanjutan menjadi perhatian utama dari kelompok peneliti sosio tekno-ekonomi untuk membantu masyarakat yang bergerak di industri kelapa sawit mendapatkan informasi tentang praktik terbaik, teknologi terbaru dan perkembangan pasar kelapa sawit. Kebutuhan akan pelaku industri kelapa sawit terutama petani rakyat akan teknologi terbaik dan informasi yang berhubungan dengan keberlanjutan usaha mereka sangat diperlukan mengingat masih rendahnya tingkat produktivitas dari petani rakyat dibandingkan perusahaan. Untuk itu tim PPKS melakukan kegiatan introduksi dan sosialisasi paket teknologi PPKS melalui diseminasi dan kegiatan Primatani. Selain itu, PPKS juga melakukan evaluasi terhadap penerapan RSPO di tingkat perusahaan untuk mengetahui tingkat kesiapan perusahaan kelapa sawit Indonesia dalam menerapkan prinsip dan kriteria RSPO.
Diseminasi Paket Teknologi Hasil-Hasil Penelitian Kelapa Sawit
Diseminasi merupakan salah satu cara untuk mengintroduksikan seluruh teknologi hasil-hasil penelitian PPKS dari pra panen sampai dengan pasca panen kepada seluruh stakeholder. Pelaksanaan kegiatan Diseminasi Paket Teknologi hasil hasil Penelitian PPKS diselenggarakan di Provinsi Bengkulu pada tanggal 11 Nopember dan di provinsi Jambi pada tanggal 24 Nopember 2008. Materi diseminasi tahun 2008 antara lain:
1. Paket teknologi yang bernilai tambah serta pengendalian dampak lingkungan pada perkebunan kelapa sawit
2. Paket teknologi tentang Best Management Practices pada industri kelapa sawit.
3. Paket teknologi tentang prospek usaha kebun kelapa sawit.
Diseminasi terselenggara atas kerjasama PPKS sebagai koordinator kegiatan dengan Dinas Perkebunan setempat. Diseminasi sangat berguna untuk mensosialisasikan seluruh teknologi yang dihasilkan PPKS kepada stakeholder. Apalagi pada saat ini produktivitas kelapa sawit sangat rendah yaitu 3,5 ton CPO/ha/tahun jauh dibawah potensi bahan tanaman yang dihasilkan PPKS yang mencapai 7-8 ton CPO/ha/tahun. Melalui diseminasi ini diharapkan para peserta dapat mengadopsi teknologi kultur teknis kelapa sawit yang tepat dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan pekebun.
Sosialisasi Teknologi Pra dan Pasca Panen Kelapa Sawit Kepada Petani Kelompok Tani yang Tercakup dalam Wilayah Prima Tani
Optimasi pemanfaatan sumber daya dapat dilakukan dengan mengadopsi secara benar teknologi baru pengelolaan industri kelapa sawit. Para petani kelapa sawit kecil umumnya belum optimal menyerap teknologi perkebunan kelapa sawit terkini, sedangkan pelaku usaha industri kelapa sawit besar lainnya di Indonesia sangat beragam baik dalam modal maupun kecepatan dalam mengadopsi teknologi baru.
Sosialisasi paket teknologi PPKS yang bernilai tambah pada perkebunan kelapa sawit adalah salah satu strategi untuk meyakinkan petani/kelompok tani bahwa teknologi yang dihasilkan adalah handal dan layak diusahakan secara komersial. Program Sosialisasi paket teknologi PPKS terarah akan mendukung adopsi hasil penelitian oleh petani/kelompok tani.
Secara rinci tujuan jangka panjang pelaksanaan Prima Tani adalah:
- Mensukseskan program pengembangan dan peningkatan produksi industri kelapa sawit di Indonesia.
- Meningkatkan pendapatan petani/kelompok tani dalam industri perkebunan kelapa sawit.
- Mempercepat sosialisasi paket teknologi yang dihasilkan PPKS kepada pekebun kelapa sawit.
Prima Tani dilaksanakan di Kabupaten Belitung Provinsi Bangka Belitung pada tanggal 19-25 Juni 2008, dan Kabupaten Pasaman di provinsi Sumatera Barat pada tanggal 24 Nopember 2008, serta di Kabupaten Bengkalis provinsi Riau pada tanggal 9-13 Desember 2008.
Pada pelaksanaan kegiatan Prima Tani, umumnya petani mempunyai masalah dalam pengadaan benih unggul. Banyak kejadian petani mendapatkan benih palsu, sehingga produktivitasnya rendah. Informasi tentang bagaimana mendapatkan benih unggul PPKS dan cara antisipasi adanya benih palsu, banyak mendapat respon dari petani. Selain itu, dilakukan juga sosialisasi kultur teknis kelapa sawit, mulai dari pembibitan sampai panen.
Evaluasi Penerapan Prinsip dan Kriteria RSPO (Roundtable Sustainable on Palm Oil) Pada Industri Kelapa Sawit
Sebagian P&C RSPO sebenarnya telah dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Field test telah dicobakan pada beberapa perkebunan besar kelapa sawit dengan berpedoman pada Interpretasi Nasional yang dibuat oleh Indonesian National Interpretation Working Group (INA-NIWG). Kriteria yang digunakan ialah penilaian dari setiap indikator P&C RSPO sebagai berikut :
- Skor 1 apabila indikator tersebut tidak mungkin/tidak dapat dipenuhi.
- Skor 2 apabila indikator tersebut sulit dipenuhi atau memerlukan banyak perubahan/investasi/biaya untuk dipenuhi.
- Skor 3 apabila indikator tersebut dapat dipenuhi dan dapat diterapkan dengan perubahan/investasi/biaya minimal
- Skore 4 apabila indikator tersebut sudah dipenuhi.
Hasil field test menunjukkan tidak adanya perusahaan yang memperoleh nilai skor 1, ini mengindikasikan bahwa seluruh P&C RSPO dapat dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Dengan adanya nilai skor 2, berarti perusahaan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk penyempurnaannya agar kriteria P&C RSPO dapat terpenuhi. Untuk skor 2, Major range 1-3 dan Minor 1-3 menunjukkan ada perusahaan yang hanya menyempurnakan 1 indikator Major dan 1 Minor, dan ada yang harus menyempurnakan 3 indikator Major dan 3 indikator Minor. Dari total nilai range field test 71,58%-78,95% berarti skor terendah yang dicapai oleh suatu perusahaan dalam mengimplementasikan P&C RSPO sekitar 74,31%, dan nilai skor tertinggi implementasi dari P&C RSPO oleh perusahaan adalah 78,95%. Perusahaan lainnya umumnya memiliki nilai diantaranya. Perbedaan jumlah indikator dikarenakan adanya perusahaan yang tidak memiliki areal pengembangan sehingga indikator yang dinilai lebih sedikit.
Nilai penerapan P&C RSPO sebesar 71,58%-78,95% ini menunjukkan bahwa sebagian besar P&C RSPO sudah diimplementasikan oleh perusahaan dengan baik, namun masih perlu upaya untuk penyempurnaan. Upaya ini bergantung pada komitmen dan kebijakan serta kesiapan dari perusahaan untuk menerapkan P&C RSPO. Pada umumnya kriteria yang belum sepenuhnya dilaksanakan oleh perusahaan adalah yang bersifat non teknis yaitu yang berhubungan dengan lingkungan dan sosial. Untuk kegiatan kultur teknis lapangan pada umumnya sebagian besar telah dilaksanakan oleh perusahaan.

P&C RSPO yang belum terlaksana dengan baik dan perlu penyempurnaan antara lain (a) dokumentasi atau rekaman dari permintaan informasi dan sosial, (b) tidak menanami kelapa sawit pada daerah sepanjang aliran sungai (DAS), (c) pengendalian limbah agrochemical (B3), (d) kesehatan dan keselamatan pekerja (K3), (e) pelepasan hak atas lahan, (f) pengelolaan lingkungan dan partisipasi masyarakat, (g) identifikasi habitat yang dilindungi, perlindungan satwa, poster alat peringatan, dan tenaga ahli untuk identifikasi satwa, serta (h) penggunaan energi terbarukan.






