Hasil Penelitian Proteksi Tanaman Tahun 2007
Proteksi Tanaman
Peneliti Proteksi Tanaman
Dr. Agus Susanto
Ir. Rolletha
Ahmad P. Dongoran, SP
Azhar Fadillah Lubis, SP
Pendahuluan
Konsep penelitian yang dikembangkan di Kelti Proteksi Tanaman selalu didasarkan pada pedoman Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang selaras dengan prinsip dan kriteria yang dikembangkan oleh Roundtable Sustainable on Palm Oil (RSPO).
Epidemiologi penyakit busuk pangkal batang (BPB)
Penelitian pada tahun sebelumnya mengenai epidemiologi Ganoderma telah menghasilkan 60 isolat Ganoderma yang berasal dari tanaman kelapa sawit, kelapa, pinang, enau, rumbia, karet, akasia dan kayu hutan. Isolat-isolat ini telah diuji
secara molekuler menggunakan primers ITS 1/4 dan enzim Mlu dan beberapa di antaranya menunjukkan jumlah pasang basa yang sama dengan G. boninense patogenik.
Pada tahun ini, sebanyak masing-masing 3 sampel isolat Ganoderma yang berasal dari berbagai tanaman di atas ditumbuhkan pada media kayu karet untuk diuji patogenisitasnya terhadap tanaman kelapa sawit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi apakah Ganoderma yang tumbuh pada tanaman non kelapa sawit dapat menyebabkan penyakit BPB pada tanaman kelapa sawit. Uji patogenisitas dilakukan dalam skala rumah kasa menggunakan polibeg yang dibuat dari kaca sehingga mudah diketahui perkembangan akar tanamannya.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada beberapa isolat Ganoderma dari tanaman non kelapa sawit dapat menyebabkan penyakit BPB pada bibit kelapa sawit. Persentase kejadian penyakit BPB pada bibit kelapa sawit umur tanam 10 bulan dengan inokulasi isolat Ganoderma dari akasia, karet, kelapa, enau, pinang, rumbia dan kayu hutan berturut-turut adalah 33,3%; 0%; 0%; 33,3%; 0%; 0% dan 66,7%. Kematian bibit kelapa sawit dimulai dari 2 bulan setelah inokulasi Ganoderma. Hal yang sangat menarik untuk dikaji adalah adanya perbedaan masa inkubasi dari masing-masing isolat. Beberapa tanaman telah mati tetapi beberapa tanaman yang lain masih tampak sehat walaupun media tanah di dalam polibeg telah sama-sama memunculkan tubuh buah Ganoderma. Hal lain yang jauh lebih menarik adalah adanya ke
mungkinan isolat Ganoderma dari tanaman non kelapa sawit menjadi penyebab utama munculnya penyakit ini pada generasi tanam kelapa sawit yang pertama dari bekas areal tanaman tersebut (akasia, enau dan kayu hutan). Berdasarkan hasil uji patogenisitas ini diduga bahwa isolat-isolat Ganoderma tersebut memiliki sifat patogenisitas yang sama dengan G. boninense yang berkembang pada tanaman kelapa sawit.
Hasil uji secara molekuler dengan pemotongan DNA menggunakan enzim restriksi Mlu 1 didapatkan hasil bahwa masing-masing isolat berpeluang memiliki urutan basa yang sama dengan isolat G. boninense patogenik terhadap kelapa sawit. Sampel DNA dari isolat tersebut selanjutnya dikirim ke Lembaga Eijkman untuk disequencing sehingga dapat dipastikan urutan basanya.
Kegiatan epidemiologi Ganoderma yang lain adalah penanaman bibit kelapa sawit pada bekas bonggol tanaman kelapa sawit underplanting yang ditumbuhi tubuh buah Ganoderma. Hasil survey penghitungan jumlah tanaman yang telah direplanting yang memunculkan tubuh buah Ganoderma pada lokasi underplanting di Kebun Bukit Sent
ang adalah 72%, sedangkan pada lokasi replanting dengan sistem rumpukan batang adalah 26%. Padahal, daerah ini sebelumnya tidak menampakkan adanya serangan penyakit BPB yang serius. Penanaman bibit tersebut merupakan uji patogenisitas di lapangan, sedangkan untuk tingkat laboratorium, sampel tubuh buah Ganoderma yang muncul akan diamati baik sifat mikroskopis maupun molekuler sehingga dapat dibandingkan dengan G. boninense yang patogenik terhadap kelapa sawit. Nantinya akan dilakukan juga uji patogenisitas di pembibitan kelapa sawit sehingga hasil akhirnya adalah informasi kemungkinan tubuh buah Ganoderma ini dapat menjadi sumber inokulum penyakit bagi tanaman kelapa sawit yang baru atau tidak. Hasil pengamatan uji patogenisitas Ganoderma di lapangan selama 10 bulan belum menampakkan adanya gejala penyakit BPB pada tanaman kelapa sawit yang ditanam.
Efikasi jamur entomopatogen terhadap ulat api Setothosea asigna
Jamur entomopa-togen yang digunakan adalah Cordyceps militaris untuk mengendalikan pupa ulat api S. asigna. Perlakuan yang diaplikasikan adalah (A) pupa ulat api yang terinfeksi jamur Cordyceps, (B) Cordyceps dalam jagung giling dengan aplikasi bentuk suspensi (siram), (C) Cordyceps dalam jagung giling dengan aplikasi tabur dan kontrol (tanpa perlakuan jamur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupa ulat api mulai terinfeksi C. militaris pada minggu keempat setelah aplikasi. Pada minggu kedelapan (2 bulan setelah aplikasi) mortalitas pupa ulat api terinfeksi C. militaris tertinggi pada perlakuan C, B, A dan kontrol berturut-turut adalah 83,3%; 76,7%; 73,3% dan 0%. Hasil ini membuktikan bahwa jamur ini berpeluang sebagai agens pengendali hayati pupa ulat api di lapangan dan memerlukan penelitian dalam skala yang luas di lapangan.
Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanaman kelapa sawit memiliki beberapa keterbatasan, salah satunya adalah sifatnya yang mudah terbakar ketika musim kemarau. Oleh karena itu, lahan ini memerlukan tanaman penutup tanah yang secara cepat menutupi lahan, dan dapat berkembang dengan baik tanpa mengganggu aktivitas tanaman kelapa sawit, serta dapat menjaga tingkat kelembaban tanah guna mengurangi resiko kebakaran. Hasil survei di salah satu daerah lahan gambut ditemukan tanaman dengan tipe merambat yang terlihat sangat baik menutupi lahan sehingga berpeluang menjadi tanaman penutup tanah lahan gambut. Tanaman ini kemudian diidentifikasikan ke Bagian Botani LIPI dan diketahui dengan nama Cyclea atjhensis (Familia Manispermaceae). Tanaman ini masih menjadi objek penelitian yang sangat panjang terutama dalam hubungannnya dengan tanaman kelapa sawit dan lahan gambut.
Aktivitas penelitian yang lain
Penelitian mengenai pengend
alian hama dan penyakit yang dilakukan pada tahun 2007 antara lain : pengendalian hama rayap Coptotermes curvignatus di lahan gambut dengan menggunakan feromon,
Hal lain yang sedang naik daun dewasa ini adalah adanya permintaan pasar yang luar biasa mengenai agen hayati berbagai hama dan gulma kelapa sawit. Dalam hal ini, upaya perbanyakan agen-agen hayati tersebut dilakukan di
Kelti Proteksi Tanaman PPKS, dimana pemanfaatannya di perkebunan kelapa sawit diharapkan dapat menciptakan keseimbangan hayati pada perkebunan kelapa sawit, sesuai dengan konsep kelestarian lingkungan yang dikembangkan oleh RSPO. Agen-agen hayati tersebut adalah predator tikus, burung hantu Tyto alba; patogen ulat api, virus MNPV; predator ulat api, Eocanthecona dan Sycanus; dan serangga pengendali gulma Chromolaena odorata, ulat Actinote anteas dan lalat Argentina Cecidochares conexa.






