Pilihan Bahasa : 

Hasil Penelitian Proteksi Tanaman Tahun 2008

Proteksi Tanaman

 
Peneliti Proteksi Tanaman

Dr. Agus Susanto
Ir. Rolletha Yahya Purba, MS
Agus Eko Prasetyo, SP
Ahmad P. Dongoran, SP
Azhar Fadillah Lubis, SP

 

             Hama dan penyakit tanaman seringkali muncul pada setiap pelaksanaan budidaya tanaman kelapa sawit. Saat ini, masalah hama dan penyakit yang menjadi topik penelitian utama meliputi hama Oryctes rhinoceros, Coptotermes curvignathus di lahan gambut serta penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma boninense. Arah penelitian adalah menciptakan pedoman pengendalian hama terpadu (PHT) yang diselaraskan dengan konsep Rountable Sustainable on Palm Oil (RSPO) yang mengutamakan lingkungan.

Kisaran inang Ganoderma boninense

            Ganoderma boninense merupakan patogen penyebab penyakit busuk pangkal batang (BPB), penyakit utama di perkebunan kelapa sawit. Penyakit BPB sulit untuk dikendalikan, salah satunya disebabkan oleh kurangnya informasi dasar mengenai epidemi penyakit. Salah satu hasil penelitian Kelti Proteksi Tanaman PPKS adalah bertujuan untuk mengkaji kisaran inang Ganoderma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 60 isolat dari tubuh buah Ganoderma telah berhasil diisolasi dari tanaman kelapa sawit, kelapa, pinang, enau, rumbia, karet, akasia dan kayu hutan. Secara molekuler, DNA isolat Ganoderma dari tanaman kelapa sawit, pinang, kelapa dan enau terpotong oleh enzim restriksi Mlu I, sedangkan dari tanaman karet, akasia dan kayu hutan tidak. Persentase kejadian penyakit BPB pada bibit kelapa sawit umur tanam 9 bulan setelah diinokulasi dengan isolat Ganoderma dari kelapa sawit, pinang, kelapa, enau, rumbia, karet, akasia dan kayu hutan berturut-turut adalah 100%; 100%; 100%; 66,7%; 0%; 0%; 0% dan 100%. Isolat Ganoderma dari tanaman pinang, kelapa, enau dan kayu hutan berpotensi sebagai patogen pada tanaman kelapa sawit. Kajian epidemi Ganoderma seperti ini sangat dibutuhkan sebagai informasi mengenai upaya pembukaan lahan kelapa sawit baru atau untuk mencegah timbulnya kejadian penyakit BPB yang lebih parah.

Ganoderma di lahan gambut

             Perkembangan tingkat serangan penyakit Ganoderma di lahan gambut memiliki karakteristik tersendiri, relatif berbeda dengan di lahan mineral. Pola perkembangan penyakit Ganoderma di lahan gambut cenderung mengelompok mengikuti sumber inokulum penyakit awal. Penghitungan kejadian penyakit ini didasarkan pada status gejala penyakit yang dikategorikan dalam 4 stadia. Waktu perkembangan penyakitpun cukup cepat, pada kelapa sawit tahun tanam 1993 (umur 15 tahun) kejadian penyakit Ganoderma telah mencapat 29%.
Hal yang menarik dari gejala penyakit Ganoderma di lahan gambut adalah daerah pembusukan batang akibat terserang penyakit. Gejala upper stem rot disease lebih sering muncul dibandingkan dengan gejala basal stem rot dengan bentuk makro morfologi maupun mikro morfologi tubuh buah Ganoderma adalah sama. Ini membuktikan bahwa penyebaran Ganoderma di lahan gambut adalah melalui basidiospora (air borne disease) sehingga menjadi penyebab.

Sinergisme double-pheromone dalam pengendalian Oryctes rhinoceros dan Rhynchophorus spp.

        Sinergisme antara kumbang moncong Rhynchophorus spp. dengan kumbang penggerek pucuk Oryctes rhinoceros menimbulkan kerusakan tanaman yang berat. Rhynchophorus spp. masuk ke dalam batang tanaman kelapa atau kelapa sawit melalui luka yang sebagian besar disebabkan oleh serangan O. rhinoceros. Imago O. rhinoceros menggerek pelepah dan memakan pucuk tanaman sedangkan larva Rhynchophorus spp. berkembang dengan menggerek dan memakan batang kelapa sawit. Saat ini pengendalian yang paling ramah lingkungan adalah penggunaan feromon. Hasil penelitian pemasangan double-pheromone yakni antara ethyl-4-methyloctanoate (FEROMONAS) dan 4-methyl-5-nonanol (RHYNCHOMONAS) dalam satu perangkap pipa PVC menunjuk-kan adanya peningkatan jumlah tangkapan kumbang khususnya kumbang moncong Rhynchophorus spp.

Perangkap rayap Coptotermes curvignathus

        Rayap menjadi hama utama yang menyerang tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Gejala serangan akibat hama rayap hampir mirip seperti serangan penyakit Ganoderma, daun-daun tanaman yang terserang menguning diikuti dengan nekrosis dan akhirnya mengering secara keseluruhan dan mati dengan tanda serangan berupa adanya alur-alur seperti terowongan dari tanah yang berada pada batang tanaman, pelepah maupun tandan buah dari bagian bawah menuju ke atas. Solusi pengendalian yang diharapkan dapat mengurangi jumlah populasi rayap adalah dengan metode pemerangkapan. Perangkap dibuat dengan bahan pipa PVC diameter 4 inchi dan panjang 40 cm. Pengujian dibuat dengan beberapa perlakuan diantaranya pemberian beberapa bahan organik sebagai food atractan bagi rayap meliputi perlakuan kertas koran, serbuk gergaji, bambu dan fiber (limbah pabrik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media kertas koran merupakan bahan organik yang paling disukai oleh rayap dengan persentase perangkap dimasuki rayap paling tinggi yakni mencapai 100% pada 3 minggu setelah pemasangan.


Aktivitas penelitian yang lain
        Penelitian mengenai pengendalian hama dan penyakit lain adalah pengendalian hama ulat kantong Metisa plana menggunakan feromon, penggunaan berbagai mikrorganisme entomopatogen serta predator Eocanthecona furcellata untuk mengendaliakan larva ulat api Setothosea asigna, uji berbagai desain ferotrap untuk memperbanyak jumlah tangkapan Oryctes rhinoceros serta pengendalian penyakit Ganoderma di lahan endemik di lapangan dengan pemanfaatan lubang tanam besar, pengolahan tanah, penaburan belerang dan aplikasi agen antagonis Trichoderma koningii. Berbagai penelitian ini sebagain telah menghasilkan data dan sebagian yang lain masih berjalan.

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12167
  • Unique Visitor: 3100
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.100
  • Since: 2010-08-18