Program

PPKS mempunyai tugas utama yaitu melakukan penelitian dan pengembangan dalam segala aspek industri kelapa sawit, dan menyalurkan hasil penelitian tersebut dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat industri kelapa sawit. Dari kegiatan tersebut PPKS harus mampu memenuhi kebutuhan dana, baik untuk menjalankan kegiatan sehari-hari maupun investasi yang sebagian besar kebutuhan PPKS diperoleh dari usaha sendiri. Lingkup penelitian yang dilakukan PPKS saat ini adalah meliputi: pemuliaan dan bioteknologi tanaman, ilmu tanah dan agronomi, proteksi tanaman, rekayasa teknologi dan pengelolaan lingkungan, pengolahan hasil dan mutu, dan sosio tekno ekonomi. Sementara berbagai bentuk pelayanan PPKS disediakan oleh bagian usaha dan satuan usaha strategis bahan tanaman.

Perakitan bahan tanaman unggul tetap memperoleh perhatian utama, melalui program Reciprocal Recurrent Selection (RRS) dan Family Individual Palm Selection (FIPS). Selain itu juga dilakukan perkaitan bahan tanaman dengan kualitas minyak yang tinggi. Sementara agar tanaman mampu menunjukkan potensi produksinya, maka upaya perbaikan kultur teknis pada lahan marjinal masih menjadi perhatian PPKS. Upaya antisipasi kekeringan masih bertumpu  pada konservasi tanah dan air. Selain itu, penelitian emisi karbon mulai dilakukan pada tahun 2008 untuk menjawab tuntutan Uni Eropa.

Penelitian pengendalian Ganoderma sp. masih menjadi perhatian dalam upaya perlindungan tanaman. Beberapa isolat Ganoderma sp. dari tanaman non sawit seperti pinang, kelapa, enau, maupun menimbulkan busuk pangkal batang pada bibit kelapa sawit umur 10 bulan, dengan presentase kejadian 100%. Sementara itu berbagai upaya juga dilakukan untuk pengendalian hama penting seperti Oryctes rhinoceros, Rhynchoporus, dan rayap Coptotermes curvignathus.

Peningkatan daya saing kelapa sawit perlu dilakukan melalui diversifikasi produk oleo pangan dan oleo kimia. Upaya penjumputan beta karoten, vitamin E pharmaceutical dari minyak sawit yang mulai diteliti pada tahun 2007 dan hingga saat ini masih terus dilakukan. Selain itu, dilakukan penelitian pemanfaatan limbah PKS untuk bahan makanan ternak ruminansia. Pada tahun 2008 juga dilakukan survei terhadap 178 PKS di berbagai daerah di Indonesia. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bahwa secara umum kisaran Asam Lemak Bebas (ALB) sudah dibawah 5%, kadar air dan kotoran sudah sesuai SNI pada kisaran 0,01-0,19%; kandungan karoten 554 ppm; bilangan iodin sesuai standar minimal. Begitupun masih dijumpai beberapa PKS yang nilai Deterioration of Bleach-ability Index (DOBI) dan bilangan iodinnya perlu diperbaiki. Untuk mendukung hal ini, rekayasa alat dan mesin maupun optimasi kegiatan PKS juga dilakukan, termasuk pengelolaan manajemen lingkungan pabrik dan kebun yang ramah lingkungan. Pengembangan  teknologi Reaktor Anaerobik Unggun Tetap (RANUT) dan aplikasi teknologi sel elektrokoagulasi merupakan teknologi yang diteliti untuk mengolah limbah PKS.

Dalam hal kemampuan perkebunan menerapkan Principles & Criteria RSPO, hasil penelitian Kelti Sosio Tekno Ekonomi menujukkan bahwa tingkat penerapan hal tersebut berkisar 71,58 – 78,95% yang masih dapat ditingkatkan jika dilakukan berbagai penyempurnaan, terutama yang menyangkut dokumentasi dan perekaman serta aspek-aspek yang berhubungan dengan lingkungan dan sosial. Sosialisasi teknologi juga dilakukan melalui berbagai kegiatan, baik untuk perkebunan swasta maupun pertani perkebunan dalam program prima tani dan diseminasi paket teknologi hasil penelitian kelapa sawit.

 

Translate »