Hasil Penelitian Pengolahan Hasil dan Mutu Tahun 2008
Pengolahan Hasil & Mutu

Peneliti Pengolahan Hasil & Mutu
Dr. Donald Siahaan
Dr. Tjahjono Herawan
Drs. Eka Nuryanto, MSi
Frisda R. Panjaitan, S.T., M.T.
Hasrul Abdi Hasibuan, S.Si.
Meta Rivani, S.T.
elompok Penelitian Pengolahan Hasil dan Mutu bertanggung jawab untuk melakukan penelitian dan pengembangan produk-produk berbasis minyak kelapa sawit meliputi: (a) oleopangan khususnya specialty fats dan nutrasetikal, (b) oleokimia khususnya in specialty oleochemical dan biofuel, (c) pakan ternak dari hasil samping industri, dan (d) analisa dan sistem mutu. Dengan aktivitas ini, Kelti Pengolahan Hasil dan Mutu akan berkontribusi memfasilitasi peningkatan viabilitas dan daya kompetisi industri kelapa sawit Indonesia. Pada 2008, penelitian difokuskan pada pengembangan teknologi ekstraksi dan konsentrasi karoten sawit sebagai bahan nutrasetikal dan farmasetikal, pengembangan lanjut pakan ternak sapi dan survei CPO Indonesia.
Pre-Konsentrasi Karoten Sawit
Penelitian pada 2008 merupakan kelanjutkan dari penelitian sebelumnya dalam hal pre-konsentrasi karoten sawit dari metil ester dengan teknik solvolytic micellization (SM) pada skala laboratorium (100 ml). Proses telah dikembangkan pada skala 2,5 liter ester/batch. Kondisi optimum proses pada rasio volume alkohol rantai pendek 1:6, % pelarut minor yang digunakan adalah 2,9% dan tahapan SM 6 dengan hasil konsentrasi karoten di atas 50 ribu ppm seperti pada skala laboratorium.
Pakan Ternak Berbasis Kelapa Sawit
Kebun dan pabrik kelapa sawit menghasilkan biomassa yang melimpah yang sesuai digunakan sebagai pakan ternak. Sejalan dengan jatuhnya harga tandan buah segar sehingga pendapatan petani kelapa sawit juga turun, alternatif usahatani lain termasuk ternak sapi perlu dieksplorasi. Penggunaan biomassa yang disebut di atas telah dievaluasi oleh PPKS.
Pakan ternak telah dapat diproduksi menggunakan alat pencacah pelepah & blending terpadu kapasitas: 200 kg/jam dengan alat penggerak 8 PK dan mampu menyediakan pelepah bagi 100 ekor sapi dengan masa kerja 3,6 jam/hari.
Penelitian pemanfaatan produk samping industri perkebunan sawit untuk aplikasi pakan lengkap untuk ternak sapi dilakukan di kebun Aek Pancur, PPKS, selama 16 minggu. Jenis sapi yang digemukkan adalah Ongole, Brahman, Brangus dan Madras. Sarana penggemukan menggunakan kandang mandiri, dan ternak sapi hanya mengkonsumsi pakan lengkap yang sudah diformulasikan sebanyak 6 kg/ekor/hari. Kenaikan bobot badan tertinggi dengan penggunaan pakan formula 1 mencapai rata-rata 0,78 kg/ekor/hari sapi peranakan Brahman, sedangkan sapi peranakan Brangus dan Ongole masing-masing 0,59 dan 0,52 kg/ekor/hari.
Mutu CPO Indonesia
Sampel CPO dari 178 pabrik kelapa sawit (PKS) dari seluruh Indonesia telah dievaluasi dalam hal: asam lemak bebas, kadar air dan kotoran, kandungan karoten, DOBI dan bilangan iod. Sampel berasal dari propinsi Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.
Kadar asam lemak bebas (ALB) pada sampel CPO Indonesia 3,15%, masih jauh di bawah batas maksimum menurut Standar Nasional Indonesia/SNI (5%). Kisaran kandungan ALB di setiap propinsi sudah di bawah 5% sesuai SNI kecuali untuk propinsi Lampung (4-97-5,34%), Kalimantan Barat (3,50-10,66%) dan Kalimantan Tengah (1,71-8,21%).
Kadar air dan kotoran pada sampel sesuai dengan persyaratan SNI (<0,5%) bahkan untuk semua sampel. Rata-rata kadar air dan kotoran adalah 0,03% pada kisaran 0,01-0,19%.
Kandungan karoten rata-rata sampel adalah 554 ppm, masih dalam kisaran yang sesuai dengan Codex Alimentarius (500 - 2000 ppm). Sekitar 16 PKS tidak menghasilkan CPO dengan kandungan di atas 500 ppm. CPO dari Sumatera Barat dan Kalimantan Barat rata-rata mengandung karoten di bawah 500 ppm, pada kisaran masing-masing 454-528 ppm dan 396-577 ppm.
Deterioration of Bleacheability Index (DOBI) sebagai rasio karoten terhadap produk oksidasi sekunder (dibaca di spektrofotometer UV-VIS), adalah parameter mutu penting dalam penggunaan CPO lebih lanjut dalam industri refinasi dan fraksionasi. Indonesia belum mempunyai standar untuk parameter DOBI, namun Malaysia merekomendasi PKSnya menghasilkan CPO dengan DOBI minimal 2,3. Sampel CPO Indonesia masih memiliki DOBI lebih rendah dari 2,3 (rata-rata 2,24, kisaran 0,9-3,0). Rata-rata DOBI lebih dari 2,3 ditemukan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Bilangan iodin, sama seperti DOBI juga digunakan untuk kepentingan pabrik refinasi dan fraksionasi karena berkaitan dengan rendemen minyak goreng yang diperoleh. Rata-rata bilangan iodin pada sampel adalah 51,10 (Kisaran 27,1-71,1), relatif sesuai dengan standar minimal pabrikasi minyak goreng yaitu 51. Bila Bilangan Iodin seharusnya lebih dari 51, sekitar 19% PKS tidak memenuhi persyaratan ini.






