Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) telah menjadi kekuatan utama dalam persaingan global dan sarana mencapai kemakmuran suatu bangsa. Oleh karena itu, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki program yang disebut pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan, sumber daya dan jaringan iptek dalam bidang-bidang prioritas spesifik untuk meningkatkan relevansi dan produktivitas. Tidak ketinggalan pula pendayagunaan iptek dalam sektor produksi untuk menumbuhkan perekonomian nasional dan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tentu diperlukan fasilitas yang mendukung lembaga PUI dalam mencapai goals tersebut. Dalam rangka penyusunan rekomendasi peningkatan sarana dan prasarana iptek, tim dari Kemenristekdikti – Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ditjen SDID) berkunjung ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada Jumat, 6 Desember 2019.

Tim Ditjen SDID mendengarkan presentasi Master Plan PUI – PPKS dari Dr. Tjahjono Herawan, Kepala Bagian Penelitian PPKS

PPKS merupakan institusi pertama yang ditetapkan sebagai PUI oleh Kemenristekdikti pada 2011. Direktur Sarana dan Prasarana, Mohammad Sofwan Effendi, menyampaikan maksud kedatangannya untuk mengumpulkan data dan informasi terkait sarana dan prasarana penelitian yang ada di PPKS, guna kemajuan pembangunan sarana dan prasarana iptek. Kunjungan dari Tim Ditjen SDID-Sarana dan Prasarana ini  tentu membawa angin segar bagi PPKS. Saat ini, PPKS sangat membutuhkan peremajaan alat-alat laboratorium. Selain untuk kegiatan penelitian, juga untuk pelayanan jasa analisis di laboratorium. Sebagai lembaga PUI, penelitian PPKS juga terkendala dengan terbatasnya alat-alat untuk dukungan penelitian modern, khususnya penelitian di bidang pasca panen. Pemenuhan kebutuhan akan peralatan laboratorium tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar.

Kemudian, sulitnya menemukan industri intermediate yang mau bekerja sama penelitian dalam tahapan proven scale juga menjadi salah satu kendala yang dialami PPKS. Direktur Sarana dan Prasarana, Mohammad Sofwan Effendi, memberikan saran agar PPKS mencoba bekerja sama dengan universitas negeri untuk sementara waktu. Biasanya, beberapa universitas negeri sudah memiliki alat penelitian yang lebih modern. Namun, Mohammad Sofwan Effendi dan tim bersepakat untuk menampung masalah ini sebagai salah satu acuan dalam rangka penyusunan rekomendasi peningkatan sarana dan prasarana iptek di lembaga PUI. Selain itu,  Tim Ditjen SDID-Sarana dan Prasarana juga menyarankan PPKS untuk membangun tim unit khusus dalam menangkis isu negatif kelapa sawit. Adapun langkah yang sudah dilakukan PPKS untuk mengatasi isu tersebut adalah dengan publikasi hasil riset jurnal-jurnal nasional dan internasional serta kampanye positif melalui media sosial (e-posting), yang berperan untuk memberikan informasi yang benar mengenai kelapa sawit dan industrinya berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.  Media sosial dianggap sebagai media yang saat ini cukup efektif untuk penyebaran informasi, juga digunakan untuk mengajak generasi milenial lebih dalam mengenal kelapa sawit.

Translate »