Hasil Penelitian Pengolahan Hasil & Mutu Tahun 2007
Pengolahan Hasil & Mutu

Peneliti Pengolahan Hasil & Mutu
Dr. Donald Siahaan
Dr. Tjahjono Herawan
Eka Nuryanto, MSi
Pendahuluan
Kelompok Peneliti Pengolahan Hasil dan Mutu (Kelti Paham) mempunyai tugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan yang mendukung peningkatan daya saing industri kelapa sawit melalui diversifikasi produk oleo pangan dan produk oleo kimia berbasis kelapa sawit serta peningkatan mutu produk dan sistem mutu bagi industri kelapa sawit. Fokus penelitian pada tahun 2007 meliputi : a) formulasi strategi pengendalian mutu dan keamanan pangan produk CPO dan minyak goreng melalui konsep HACCP pada industri kelapa sawit dengan studi kasus pada PT. Perkebunan Nusantara III dan pabrik minyak goreng di PT. Astra Agro Lestari, b) kajian teknologi penjumputan karoten dan vitamin E pharmaceutical dari minyak sawit, c) pemanfaatan limbah kelapa sawit diteliti melalui penelitian rekayasa proses dan alat produksi pakan ternak ruminansia besar, d) serta melakukan kajian aspek mutu pada industri pengolahan kelapa sawit Indonesia untuk memperbaiki image minyak sawit Indonesia di pasaran internasional.
Konsep Sistem HACCP pada Industri Kelapa Sawit
Kepedulian terhadap sistem keamanan pangan dalam industri kelapa sawit di masa mendatang sangat diperlukan mengingat bahwa sebagian besar CPO Indonesia digunakan sebagai bahan pangan baik di dalam negeri maupun di luar
negeri dan sebagian besar diekspor. Hambatan perdagangan berkaitan dengan kualitas dan keamanan pangan telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini seperti kasus pencemaran solar tahun 2000, kasus rendahnya kandungan karoten Indonesia dalam perdagangan di India dan beberapa kasus lainnya yang berdampak pada turunnya image minyak sawit Indonesia dibanding dengan Malaysia. Dengan demikian diperlukan usaha untuk memperbaiki image tersebut dengan sistem mutu dan keamanan pangan sangat diperlukan.
Fokus penelitian ini adalah formulasi strategi pengendalian mutu dan keamanan pangan di PKS dan pabrik minyak goreng dengan mengambil kasus pada PKS Rambutan, PT. Perkebunan Nusantara III dan Pabrik Minyak Goreng (PMG) Cap Sendok, PT Astra Agro Lestari, Tbk. Tahapan penelitian meliputi identifikasi faktor mutu dengan metode Quality Functional Deployment (QFD), penilaian penerapan sistem dengan self assessment, penetapan faktor-faktor internal dan eksternal dengan Analytical Hierarchy Process (AHP), penentuan posisi perusahaan dengan analisis matriks IE dan perumusan alternatif strategi dengan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threat (SWOT).
Hasil penelitian didapatkan alternatif-alternatif strategi tiap perusahaan. Alternatif strategi yang dapat dilaksanakan oleh pihak PKS Rambutan, PT. Perkebunan Nusantara III dalam mengendalikan mutu produknya saat ini adalah : penerapan GAP dan GHP dalam peningkatan mutu bahan baku untuk peningkatan mutu produk CPO, meningkatkan kinerja produksi m
eningkatkan kepercayaan konsumen terhadap mutu produk dengan memberikan jaminan mutu melalui sertifikasi HACCP mengembangkan produk baru/ diversifikasi produk dengan mengeksploitasi keunggulan nutrisi minyak sawit peningkatan komitmen dan budaya kerja yang baik dalam menghasilkan minyak sawit lestari serta membangun good global image CPO melalui kampanye Palm oil saved our planet.
Sementara alternatif strategi yang dapat dilaksanakan oleh PMG Cap Sendok PT. Astra Agro Lestari dalam mengendalikan mutu produknya saat ini adalah : peningkatan komitmen dan budaya kerja yang baik (meningkatkan kualitas produk dengan memberi jaminan mutu yang berupa sertifikasi ISO dan HACCP meningkatkan teknologi produksi dengan perubahan mesin dan peralatan yang lebih maju serta mengembangkan produk baru/diversifigenkasi produk.
Teknologi Penjumputan Karoten dan Vitamin E Pharmaceutical dari Minyak Sawit Indonesia masih mengekspor minyak sawit terutama dalam bentuk minyak sawit mentah (CPO) mengingat ketersediaan minyak sawit mentah melimpah dan produksinya terus meningkat. Diversifikasi produk diperlukan untuk memberikan nilai tambah kepada minyak sawit tersebut, di antaranya dalam bentuk produk-produk shortening, lipida terstruktur, cocoa butter substitute, konsentrat pro-vitamin A dan vitamin E maupun produk suplemen makanan kaya pro-vitamin A dan vitamin E.
Beberapa jenis specialty fat dan suplemen makanan (farmasetikal maupun nutrasetikal) dari minyak makan merah ini, yakni dalam bentuk margarin, emulsi, dan mikrokapsul telah dikembangkan. Bentuk produk lain yang akan dikembangkan dengan memanfaatkan komponen minor adalah konsetrat pro-vitamin A dan vitamin E. Produk ini diharapkan dapat menjadi bahan baku baik sebagai food additive maupun sebagai nutrasetikal.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknologi proses pre-konsentrasi provitamin A pada minyak sawit menggunakan solvolytic micellization melalui metil ester dari CPO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari beberapa solven hanya metanol dan etanol yang memberikan prospek positif sebagai pelarut. Setelah lima tahap mycellization, kedua pelarut mampu meningkatkan konsentrasi provitamin A di atas 30.000 ppm. Penggunaan solven etanol memberikan hasil tertinggi yaitu 52 ribu ppm. Hasil konsentrat karoten yang diperoleh dilakukan uji vitamin E dengan menggunakan metode HPLC yang hasilnya menunjukkan peningkatan kandungan vitamin E dari sekitar 450 ppm dalam biodiesel menjadi sekitar 5.000 ppm dalam konsentrat.
Berbasis Produk Sawit Limbah hasil perkebunan kelapa sawit dalam bentuk pelepah dan pabrik minyak kelapa sawit dalam bentuk solid decanter dan bungkil belum dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai ekonominya. Penggunaan limbah tersebut sebagai pakan ternak bermanfaat untuk meningkatkan viabilitas usaha tani kelapa sawit rakyat sekaligus menyediakan gizi protein bagi masyarakat sekitar perkebunan. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan formula pakan ternak terbaik bagi ternak ruminansia besar yaitu sapi.
Pakan yang diformulasi meliputi pelepah sawit dan rumput lapangan diperoleh dari kebun Aek Pancur, Sumatera Utara. Pencacahan pelepah menggunakan mesin pencacah dengan kecepatan rajang 250 kg/jam dan hasil cacahan berupa serpihan dengan ukuran 1 2 cm. Bungkil inti sawit dari PKS Pabatu PT. Perkebunan Nusantara IV, molases dari pabrik gula Sei Mayang PT. Perkebunan Nusantara II, solid dari PT. Era Karya Prima Langkat dan dedak, jagung, bungkil kelapa, tepung ikan, garam, urea, obat obatan dari Bursa Ternak PS Tanjung Morawa. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor ternak sapi lokal Aceh (1 ekor jantan dan 11 ekor betina) dengan berat badan ± 200 kg. Masing-masing sapi ditempatkan dalam kandang individual yang dilengkapi dengan tempat makan dan tempat air minum serta saluran pembuangan feces/urine. Setelah 3 (tiga) hari sapi yang telah dimasukkan ke dalam kandang penggemukkan diberi obat cacing Wormzel-B sesuai dengan aturan dan dosis yang tertera pada petunjuk pemakaian. Pengamatan dilakukan selama 8 minggu dimana 2 minggu pertama untuk masa adaptasi, kemudian dilakukan uji coba pemberian pakan ternak dengan formula A, B dan C.
Analisis proximate menunjukkan bahwa pelepah mengandung cukup tinggi kadar protein 14,8%, disamping kadar gizi lainnya seperti lemak 0.56%, nitrogen 6,5%, air 66.18%, abu 3.63%, serat kasar 13.11%, hemiselulosa 27,6%, dimana dengan jumlah yang memadai akan dapat menunjang produksi pakan ternak ruminansia. Pemberian pakan ternak berpengaruh terhadap pertambahan bobot sapi yang terkait dengan kelengkapan dan keseimbangan kandungan gizi yang terdapat pada masing-masing formula. Dengan hasil yang paling tinggi, maka formula B direkomendasikan sebagai pakan sapi dalam proses penggemukan.
Image mutu minyak sawit Indonesia beberapa tahun belakangan ini relatif lebih rendah dibanding dengan Malaysia, hal ini berkaitan dengan kasus pencemaran solar tahun 2000, kasus rendahnya kandungan karoten Indonesia dalam perdagangan di India dan beberapa kasus lainnya. Kepedulian terhadap mutu produk industri kelapa sawit di masa mendatang sangat diperlukan mengingat bahwa sebagian besar CPO Indonesia diekspor dan digunakan sebagai bahan pang
an baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Kajian aspek mutu pada industri pengolahan kelapa sawit (quality aspect in palm oil industry) ini difokuskan pada beberapa parameter mutu CPO Indonesia. Sampel CPO diambil dari 182 Pabrik Kelapa Sawit yang berada dalam naungan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, mewakili mayoritas pemilik PKS di Indonesia) yang disampling dan dikirim sesuai dengan kaidah yang baku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kandungan karoten CPO sebesar 553 ppm dengan standar deviasi 2,35 %. Sedangkan rerata kadar bilangan DOBI adalah sebesar 2,24 dengan standar deviasi yang cukup rendah yaitu 0,05%. Rerata kadar asam lemak bebas (ALB) adalah sebesar 3,15%
dalam bentuk asam palmitat dengan standar deviasi 0,076%, hal ini menunjukkan bahwa rerata kandungan ALB yang berasal dari PKS-PKS masih masuk dalam kualitas yang ditetapkan oleh SNI yaitu sebesar 5%, walaupun di beberapa PKS (sekitar 14,3%) memiliki ALB lebih besar dari 4%. Dengan rerata kandungan karoten lebih besar dari 500 ppm, ALB lebih kecil dari 5% dengan DOBI 2,24 menunjukkan bahwa image yang menyatakan kualitas minyak sawit Indonesia relatif lebih rendah dibanding dengan Malaysia adalah tidak benar.
Selain itu juga dilakukan pengembangan teknik analisis residu pestisida di dalam minyak sawit dengan menggunakan bahan aktif deltametrin. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sensitivitas residu pestisida dalam minyak sawit mentah menggunakan metode HPLC adalah sebesar 0,0018 ppm. Lebih lanjut hal ini menunjukkan bahwa pengembangan metode analisis menggunakan HPLC dapat mendeteksi residu pestisida dalam minyak sawit dengan kadar yang cukup rendah dan sesuai untuk menganalisis pada ambang batas residu (MRL) yang dianjurkan yaitu untuk golongan Piretroin sintetik dengan jenis pestisida deltametrin adalah sebesar 0,2-0,5 ppm.






