Hasil Penelitian Tanah dan Agronomi Tahun 2007
Ilmu Tanah dan Agronomi
Peneliti Ilmu Tanah & Agronomi
Dr. Edy Sigit Sutarta
Dr. Witjaksana Darmosarkoro
Ir. Sugiyono, MSc
Dr. Hasril Hasan. Siregar
Dr. Iman Yani Harahap
Ir. Arsyad D. Koedadiri, MM
Ir. M. Lukman Fadli, MSi
Ir. Amir Purba, MS
Ir. Indra Eko Setyo, MSi
Winarna, SP, MP | Dhimas Wiratmoko, SP |
Pendahuluan
Aplikasi Tandan Kosong Kelapa Sawit di Perkebunan Kelapa Sawit
Harga pupuk yang melambung tinggi telah mendorong aplikasi pupuk-pupuk alternatif dengan memanfaatkan limbah industri sawit. Upaya ini sejalan dengan upaya mempertahankan kelestarian lingkungan dan trend isu global industri kelapa sawit yang mengarah ke konsep zero waste. Aplikasi TKS yang secara umum mengandung 48,5% C, 0,86 % N, 0,065 % P, 2,1% K, dan 0,14 % Mg merupakan salah satu langkah untuk mengimplementasikan tujuan tersebut sekaligus sebagai alternatif substitusi sebagian pupuk kimia sumber K. Peneliti KITA telah melakukan penelitian aplikasi TKS pada kelapa sawit tahun tanam 2003 di kebun percobaan Bukit Sentang, Langkat, Sumatera Utara yang berlangsung sejak tahun 2005.
Pada pengamatan tahun 2007, percobaan ini menunjukkan bahwa rerata jumlah tandan tertinggi diperoleh pada perlakuan 50% dosis TKS setara dosis pupuk MoP yang dikombinasikan dengan 50% dosis pupuk MoP standar, yaitu mencapai 8,5 tandan/pohon/ semester. Untuk rerata berat tandan, perlakuan 100% dosis TKS setara dosis pupuk standar MoP yang dikombinasikan dengan 100% dosis pupuk MoP standar menghasilkan rerata berat tandan tertinggi, yaitu 7,10 kg/tandan.

Penyusunan Rekomendasi Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit Rakyat
KITA pada tahun 2007 telah melaksanakan
kegiatan penyusunan rekomendasi
pemupukan khusus untuk perkebunan kelapa sawit rakyat di wilayah kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Luaran kegiatan ini adalah Peta Rekomendasi Pemupukan Kelapa Sawit Kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ulu.
Topografi sebagian areal yang cukup terjal serta adanya hutan lindung perlu mendapat perhatian khusus dalam pengembangan areal perbatasan. Secara garis besar, saran kultur teknis tersebut meliputi survei lebih detil untuk penataan wilayah sesuai daya dukung tanah dan iklim, teknik pembukaan lahan tanpa bakar,
teknik konservasi tanah dan air, teknik reklamasi lahan bekas tambang, kebijakan pemupukan, dan pendekatan antar instansi untuk meminimalkan potensi konflik sosial terkait kondisi land use yang sangat beragam di wilayah perbatasan.
Pembibitan tanaman kelapa sawit pada areal pengembangan maupun pada areal replanting sering terkendala dengan sulitnya memperoleh top soil yang biasanya mempunyai sifat fisik dan kimiawi yang subur. Alternatifnya adalah dengan memanfaatkan sub soil, namun diperlukan perlakuan-perlakuan tertentu sehingga kualitasnya dapat diperbaiki dan layak digunakan sebagai media tanam di pembibitan. Salah satu perlakuan tersebut adalah penambahan bahan organik.
Pada tahun 2007 telah dilakukan penelitian pemanfaatan tanah sub soil untuk media tanam pembibitan yang dicampur dengan 8 jenis bahan organik, yaitu jerami padi, kulit padi, limbah teh, kompos tandan kosong sawit (TKS), limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) basah, LCPKS kering, sabut kelapa, dan kotoran sapi. Sebagai pembanding digunakan media sub soil tanpa aplikasi bahan organik dan media top soil. Dari berbagai bahan organik tersebut, kompos TKS menghasilkan pertumbuhan bibit paling baik. Sebaliknya, pertumbuhan bibit relatif tertekan pada media sub soil yang dicampur dengan sekam padi.

Penelitian untuk mengoptimalkan populasi kelapa sawit bertajuk kecil dilakukan di Kebun Membang Muda, PT. Perkebunan Nusantara III, Sumatera Utara. Varietas kelapa sawit yang digunakan dalam percobaan ini adalah Lame, Rispa, Yangambi, Dolok Sinumbah, Dolok Sinumbah-Bah Jambi, dan Rispa-Bah Jambi. Populasi awal adalah 181 pohon per ha dengan populasi kontrol 128 pohon per ha. Pada saat Indeks Luas Daun (ILD) mencapai 6, penjarangan secara bertahap dilakukan. Penjarangan pertama menggunakan sistem 1/7 yang menghasilkan populasi 155 pohon per hektar, diikuti dengan penjarangan kedua dengan sistem 1/5 yang menghasilkan populasi 124 pohon per hektar.
Hasil analisis menunjukkan bahwa ILD pada semua varietas yang ditanam pada populasi tinggi nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ILD pada populasi normal. Hal tersebut disebabkan oleh jumlah tegakan yang lebih banyak pada populasi tinggi. Meskipun demikian, tidak terdapat beda nyata pada luas daun masing-masing individu tanaman antara yang ditanam pada populasi tinggi maupun pada populasi normal. Potensi produktivitas tandan buah segar pada pertanaman berpopulasi tinggi berkisar 22,5 30,6 ton/ha/thn. Produktivitas ini jauh lebih tinggi, sekitar 34% dibanding pada pertanaman pada populasi normal yang hanya berkisar 17,7 20,9 ton/ha/thn. Berdasarkan keragaan awal vegetatif dan potensi produktivitas tanaman, maka varietas LaMe dinilai sebagai bahan tanaman yang berpotensi untuk digunakan pada sistem pengaturan populasi.
- Login to post comments






