Pilihan Bahasa : 

Hasil Penelitian Tanah dan Agronomi Tahun 2007

Ilmu Tanah dan Agronomi

 

Peneliti Ilmu Tanah & Agronomi 

Dr. Edy Sigit Sutarta
Dr. Witjaksana Darmosarkoro
Ir. Sugiyono, MSc
Dr. Hasril Hasan. Siregar
Dr. Iman Yani Harahap
Ir. Arsyad D. Koedadiri, MM
Ir. M. Lukman Fadli, MSi
Ir. Amir Purba, MS
Ir. Indra Eko Setyo, MSi

Winarna, SP, MP
Suroso Rahutomo, SP, MAgrst
Ir. Yusran Pangaribuan, MSi
Heri Santoso, SP
Nuzul Hijri Darlan, SP

Dhimas Wiratmoko, SP
Eko Noviandi Ginting, SP
Eka Listia, SP
Taufik Caesar Hidayat, SP

Pendahuluan 

 
            Dewasa ini budidaya kelapa sawit dihadapkan pada tuntutan untuk mengoptimalkan produksi kelapa sawit per unit lahan. Pada sisi lain, budidaya kelapa sawit juga dihadapkan pada kondisi keterbatasan sumberdaya seperti sumber daya lahan maupun input-input produksi seperti pupuk yang harganya semakin melambung tinggi. Industri kelapa sawit juga menghadapi tuntutan terkait dengan aspek lingkungan, yaitu tuntutan agar industri kelapa sawit dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya mencegah degradasi kualitas lingkungan sehingga menjadikan agribisnis kelapa sawit sebagai industri yang berkelanjutan.  Para peneliti di Kelompok Peneliti Ilmu  Tanah dan Agronomi (KITA) menjadikan tantangan-tantangan ini sebagai tema utama dalam kegiatan penelitian sepanjang tahun 2007. Kegiatan penelitian KITA pada tahun 2007 secara garis besar terkait dengan kebijakan pemupukan, konservasi tanah dan air, perbaikan kualitas tanah marjinal melalui aplikasi bahan pembenah tanah, optimalisasi penggunaan lahan pada pertanaman kelapa sawit, dan pengembangan budidaya kelapa sawit di lahan marjinal.

Aplikasi Tandan Kosong Kelapa Sawit di Perkebunan Kelapa Sawit

            

Harga pupuk yang melambung tinggi telah mendorong aplikasi pupuk-pupuk alternatif dengan memanfaatkan limbah industri sawit. Upaya ini sejalan dengan upaya mempertahankan kelestarian lingkungan dan trend isu global industri kelapa sawit yang mengarah ke konsep zero waste. Aplikasi TKS yang secara umum mengandung 48,5% C, 0,86 % N, 0,065 % P, 2,1% K, dan 0,14 % Mg merupakan salah satu langkah untuk mengimplementasikan tujuan tersebut sekaligus sebagai alternatif substitusi sebagian pupuk kimia sumber K.  Peneliti KITA telah melakukan penelitian aplikasi TKS pada kelapa sawit tahun tanam 2003 di kebun percobaan Bukit Sentang, Langkat, Sumatera Utara yang berlangsung sejak tahun 2005.

          Pada pengamatan tahun 2007, percobaan ini menunjukkan bahwa rerata jumlah tandan tertinggi diperoleh pada perlakuan 50% dosis TKS setara dosis pupuk MoP yang dikombinasikan dengan 50% dosis pupuk MoP standar, yaitu mencapai 8,5 tandan/pohon/ semester. Untuk rerata berat tandan, perlakuan 100% dosis TKS setara dosis pupuk standar MoP yang dikombinasikan dengan 100% dosis pupuk MoP standar menghasilkan rerata berat tandan tertinggi, yaitu 7,10 kg/tandan.

Penyusunan Rekomendasi Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit Rakyat 

 Salah satu faktor penentu keberhasilan upaya peningkatan produktivitas tanaman kelapa sawit rakyat adalah pemupukan yang rasional berdasarkan karakteristik spesifik lokasi.  Dengan demikian, rekomendasi pemupukan yang didasarkan pada pengamatan karakteristik tanah merupakan prasyarat yang harus dipenuhi.  Bekerjasama dengan Dirjenbun dan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, peneliti KITA pada tahun 2007 telah melaksanakan kegiatan penyusunan rekomendasi pemupukan khusus untuk perkebunan kelapa sawit rakyat di wilayah kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ulu  (OKU), Sumatera Selatan. Luaran kegiatan ini adalah Peta Rekomendasi Pemupukan Kelapa Sawit Kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ulu.         

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi lahan di wilayah  Kabupaten Banyuasin umumnya merupakan lahan rawa pasang surut dan sebagian lahan gambut, sedangkan di wilayah kabupaten OKU didominasi jenis tanah Ultisol. Kondisi kesuburan tanah di kedua wilayah kabupaten tersebut secara umum rendah  agak rendah. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, telah disusun dosis rekomendasi pemupukan spesifik lokasi untuk perkebunan rakyat di wilayah Kabupaten Banyuasin dan OKU. 

            Topografi sebagian areal yang cukup terjal serta adanya hutan lindung perlu mendapat perhatian khusus dalam pengembangan areal perbatasan.  Secara garis besar, saran kultur teknis tersebut meliputi survei lebih detil untuk penataan wilayah sesuai daya dukung tanah dan iklim, teknik pembukaan lahan tanpa bakar, teknik konservasi tanah dan air, teknik reklamasi lahan bekas tambang, kebijakan pemupukan, dan pendekatan antar instansi untuk meminimalkan potensi konflik sosial terkait kondisi land use yang sangat beragam di wilayah perbatasan.

 

Perbaikan Media Tanam Bibit Kelapa Sawit Melalui Aplikasi Bahan Organik

             Pembibitan tanaman kelapa sawit pada areal pengembangan maupun pada areal replanting sering terkendala dengan sulitnya memperoleh top soil yang biasanya mempunyai sifat fisik dan kimiawi yang subur.  Alternatifnya adalah dengan memanfaatkan sub soil, namun diperlukan perlakuan-perlakuan tertentu sehingga kualitasnya dapat diperbaiki dan layak digunakan sebagai media tanam di pembibitan. Salah satu perlakuan tersebut adalah penambahan bahan organik.  

            Pada tahun 2007 telah dilakukan penelitian pemanfaatan tanah sub soil untuk media tanam pembibitan yang dicampur dengan 8 jenis bahan organik, yaitu jerami padi, kulit padi, limbah teh, kompos tandan kosong sawit (TKS),  limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) basah, LCPKS kering, sabut kelapa, dan kotoran sapi. Sebagai pembanding digunakan media sub soil tanpa aplikasi bahan organik dan media top soil. Dari berbagai bahan organik tersebut, kompos TKS  menghasilkan pertumbuhan bibit paling baik. Sebaliknya, pertumbuhan bibit relatif tertekan pada media sub soil yang dicampur dengan sekam padi.

 

Manajemen Populasi Optimal Kelapa Sawit Bertajuk Kecil 

          Penelitian untuk mengoptimalkan populasi kelapa sawit bertajuk kecil dilakukan di Kebun Membang Muda, PT. Perkebunan  Nusantara III, Sumatera Utara. Varietas kelapa sawit yang digunakan dalam percobaan ini adalah Lame, Rispa, Yangambi, Dolok Sinumbah, Dolok Sinumbah-Bah Jambi, dan Rispa-Bah Jambi. Populasi awal adalah 181 pohon per ha dengan populasi kontrol 128 pohon per ha. Pada saat Indeks Luas Daun (ILD) mencapai 6, penjarangan secara bertahap dilakukan. Penjarangan pertama menggunakan sistem 1/7 yang menghasilkan populasi 155 pohon per hektar, diikuti dengan penjarangan kedua dengan sistem 1/5 yang menghasilkan populasi 124 pohon per hektar.

             Hasil analisis menunjukkan bahwa ILD pada semua varietas yang ditanam pada populasi tinggi  nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ILD pada populasi normal. Hal tersebut disebabkan oleh jumlah tegakan yang lebih banyak pada populasi tinggi. Meskipun demikian, tidak terdapat beda nyata pada luas daun masing-masing individu tanaman antara yang ditanam pada populasi tinggi maupun pada populasi normal.  Potensi produktivitas tandan buah segar pada pertanaman berpopulasi tinggi berkisar 22,5  30,6 ton/ha/thn.  Produktivitas ini jauh lebih tinggi, sekitar 34% dibanding pada pertanaman pada populasi normal yang hanya berkisar 17,7  20,9 ton/ha/thn.  Berdasarkan keragaan awal vegetatif dan potensi produktivitas tanaman, maka varietas LaMe dinilai sebagai bahan tanaman yang berpotensi untuk digunakan pada sistem pengaturan populasi.

                                                                                                                                       selanjutnya.........

 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12138
  • Unique Visitor: 3098
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.100
  • Since: 2010-08-18