Focus Grup Discussion (FGD) mengenai evaluasi kinerja Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) telah dilaksanakan pada Senin, 7 Oktober 2019, di PPKS Medan. Lembaga yang terpilih sebagai PUI merupakan lembaga yang mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan riset bertaraf internasional pada bidang spesifik secara multi dan interdisiplin, dengan standar hasil yang sangat tinggi serta relevan dengan kebutuhan pengguna IPTEK. Tujuan terbentuknya PUI adalah untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas lembaga litbang dalam menumbuhkan perekonomian nasional dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam FGD ini, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengirimkan 4 anggota tim pakar dan sekretariat PUI ke PPKS, yaitu Dr. Surya Dharma, Dr. Wendy Aritenang, Lelya Nirsa, S.Sos, M. Hum, dan Ellia Dariah, S.Sos.

Penyerahan laporan kinerja sementara oleh Direktur PPKS, Dr. Iman Yani Harahap (kiri), kepada Tim Pakar PUI, Dr. Surya Dharma (kanan)

Sebagai lembaga pertama PUI dan mempertahankan konsistensinya 3 periode berturut-turut, PPKS patut berbangga. Hingga Oktober ini, PPKS sudah mampu memenuhi hampir semua kapasitas yang dikembangkan oleh PUI, yaitu kapasitas lembaga mengakses informasi (Sourcing Capacity), kapasitas riset (Research and Development Capacity), dan kapasitas diseminasi (Disseminating Capacity). Namun, Dr. Wendy Aritenang, menyampaikan bahwa PPKS harus lebih advance tidak hanya di indikator kapasitas PUI saja, tapi juga peningkatan kualitas. PPKS perlu membuat paradigma baru tentang riset kelapa sawit saat ini, khususnya menjawab tantangan dan isu lingkungan untuk mengatasi black campaign kelapa sawit. Promosi hasil penelitian juga perlu ditingkatkan melalui media sosial dan bersinergi dengan instansi lainnya. Dengan demikian, PPKS diharapkan akan menjadi sumber referensi dari semua permasalahan kelapa sawit yang tidak hanya diakui Indonesia, tetapi juga dunia.

Translate »