Hasil Penelitian Enjinering dan Lingkungan Tahun 2008
Enjinering & Lingkungan

Peneliti Enjinering & Lingkungan
Erwinsyah, S.Hut. MSc.
Dr. Luqman Erningpraja
Bagus Yudianto, ST
M. Ansori Nasution, ST
Henny Lydiasari, ST
Vita Dhian Lelyana, ST
Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit dengan Teknologi RANUT (Reaktor Anaerobik Unggun Tetap)
PPKS telah mengembangkan teknologi limbah untuk mendapatkan solusi terbaik dalam pengolahan LCPKS. Salah satu teknologi yang telah dikaji dalam skala pilot (kapasitas 10 m3), yaitu teknologi reaktor anaerobik unggun tetap atau dikenal dengan sebutan RANUT. Teknologi ini dikembangkan melalui peningkatan populasi mikroba perombak bahan organik yang terdapat dalam LCPKS. Ratio populasi mikroba dengan bahan organik ditingkatkan dengan cara menambahkan bahan pendukung (support material) yang terbuat dari plastik. Bahan ini berfungsi sebagai tempat menempelnya mikroba anaerobik. Mikroba tersebut selanjutnya akan membentuk bio-film di permukaan bahan pendukung dan menjadi tempat berkembangbiak. Berdasarkan hasil penelitian, teknik ini sangat efektif dalam meningkatkan populasi mikroba dalam LCPKS, dimana ratio populasi mikroba dan bahan organik dapat ditingkatkan dengan waktu yang cepat. Penerapan teknologi RANUT ini dapat mempercepat waktu penahanan hidrolis limbah dari 120 hari menjadi 60 hari.
Reaktor anaerobik terdiri dari dua reaktor, yaitu reaktor utama (main reactor) dan reaktor penyangga (buffer reactor). Reaktor utama berfungsi sebagai tempat terjadinya reaksi yang diinginkan (untuk menghasilkan gas bio), sedangkan reaktor buffer merupakan reaktor yang befungsi sebagai tempat tinggal sementara limbah cair. Kedua reaktor ini telah dilengkapi pompa umpan dan pompa sirkulasi. Reaktor anaerobik unggun tetap menerapkan sistem up-flow atau aliran ke atas dalam proses pengolahan limbahnya. Dalam proses ini, limbah yang telah dipisahkan dari lumpur, dipompakan dari bawah ke atas melalui reaktor yang telah diberi bahan pendukung. Limbah akan dirombak secara cepat oleh bakteri-bakteri anaerobik yang menempel pada bahan pendukung sehingga COD dapat diturunkan sampai 3000 ppm.
Teknologi RANUT memiliki keunggulan, yaitu waktu pengolahan LCPKS sangat cepat, tidak memerlukan areal yang luas dan proses pengolahan berlangsung secara kontinu. RANUT juga termasuk salah satu “high rate anaerobic reactor” yang laju perombakannya lebih dari 30 kali dibandingkan dengan kolam limbah. Selain itu teknologi RANUT mendukung program zore waste, dimana limbah diolah secara green process (tanpa penambahan bahan kimia) dan limbah hasil proses reaktor dapat digunakan sebagai air penyiram untuk pengomposan TKS. Selama proses pengolahan LCPKS, reaktor juga menghasilkan gas bio (biogas), berupa gas metana yang dapat digunakan sebagai sumber energi yang ramah lingkungan.
Aplikasi Teknologi Membran untuk Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kondisi optimum membran ultrafiltrasi untuk mengolah LCPKS dengan umpan limbah berasal dari deoiling pond (COD berkisar antara 28.000-32.000 mg/l) yang terlebih dahulu disaring untuk menghilangkan padatan terlarut. Selanjutnya, LCPKS hasil saringan dipompa masuk kedalam membran dengan variasi tekanan trans membrane pressure (TMP) masing-masing sebesar 0,2; 0,4; 0,6 dan 0,8 bar dengan lama waktu pengoperasian selama 2 jam. Pengambilan sampel dilakukan setiap 10 menit selama proses ultra filtrasi. Berdasarkan hasil pengoperasian diperoleh penurunan COD terbaik yaitu pada pengoperasian TMP 0,4 bar dengan persentase penurunan sebesar 88,22%. Untuk penurunan Total Solid (TS) terbaik didapatkan pada pengoperasian TMP 0,6 bar yaitu sebesar 52,27%. Sedangkan penurunan Total Suspensed Solid (TSS) terbaik didapatkan pada pengoperasian TMP 0,6 bar yaitu sebesar 98,57%.
Aplikasi teknologi membran ultrafiltrasi ini didisain sebagai unit yang dikombinasi-kan dengan teknologi RANUT untuk menghasilkan kualitas air limbah yang sesuai untuk dibuang ke badan air atau digunakan sebagai air proses di PKS.
Pemanfaatan Sel Elektrokoagulasi Pada Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Teknologi Prasarana Jalan di Perkebunan
Perkuatan geotekstil ini juga mengalami penurunan muka jalan namun lebih kecil dibanding dengan perkuatan konvensional. Penerapan konstruksi ini mengalami penurunan setiap 3 bulan sebesar 50 cm.
Alat dan Mesin Penyebar Kompos
Untuk mengatasi permasalahan tenaga kerja penebar pupuk tersebut, PPKS dan PT. Perkebunan Nusantara IV melakukan rekayasa alat dan mesin penyebar pupuk. Mekanisme penggerak alat dan mesin (alsin) penyebar pupuk yang direkayasa tersebut didukung oleh tenaga hidrolik dan power take off (PTO) dari sebuah sumber daya berupa mesin traktor pertanian. Alsin penyebar pupuk ini memiliki kapasitas sekitar 500 kg dengan metode penyebaran spin system, yaitu bahan organik (kompos) didistribusikan ke tanaman kelapa sawit melalui sebuah spinner yang berfungsi untuk melemparkan pupuk, sedangkan jumlah dosis pupuk diatur oleh sebuah feeder tipe screw conveyor. Sebagai tempat penampungan pupuk digunakan hopper kapasitas 500 kg









