Hasil Penelitian Bioteknologi Tanaman Tahun 2008
Bioteknologi Tanaman
Peneliti Bioteknologi
Dr. Yohannes Samosir
Diana Larasati Ginting, SSi
Retno D. Setyowati, SSi
Eksplorasi Rhizobium
Eksplorasi Rhizobium telah dilakukan di tiga tempat yaitu Marihat, Aek Pancur dan di
laboratorium Universitas Sumatera Utara. Isolat Rhizobium yang diperoleh diuji efikasinya pada tanaman cover crop pada kondisi di laboratorium. Dari kegiatan ini diperoleh 10 isolat Rhizobium yang mampu bersiombiosa dengan Pueraria javanica, Calopogonium caeruleum dan Mucuna bracteata. Rhizobium simbion M. bracteata memiliki daya hidup yang lebih baik pada medium tanah gambut, sedangkan Rhizobium simbion P. javanica dan C. caeruleum memiliki daya hidup yang lebih baik pada medium tandan kosong kelapa sawit.
Pada penelitian lain diperoleh bahwa kemampuan embrio zigotis kelapa sawit membentuk kalus sangat dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin. Penambahan 0,05 hingga 0,50 mg/l 2,4-D dan 0,1 atau 0,5 mg/l BAP memberikan persentase pembentukan kalus yang paling tinggi. Terdapat tiga jenis kalus yang terbentuk yaitu friable, fastgrowing dan nodular. Frekuensi terbentuknya masing-masing kalus dipengaruhi oleh
kombinasi zat pengatur tumbuh yang diberikan pada media kultur jaringan. Kalus friable merupakan jenis yang diharapkan untuk berkembang menjadi embrio somatis. Perkembangan ini akan diteliti pada tahap
selanjutnya di tahun 2009.

laboratorium Universitas Sumatera Utara. Isolat Rhizobium yang diperoleh diuji efikasinya pada tanaman cover crop pada kondisi di laboratorium. Dari kegiatan ini diperoleh 10 isolat Rhizobium yang mampu bersiombiosa dengan Pueraria javanica, Calopogonium caeruleum dan Mucuna bracteata. Rhizobium simbion M. bracteata memiliki daya hidup yang lebih baik pada medium tanah gambut, sedangkan Rhizobium simbion P. javanica dan C. caeruleum memiliki daya hidup yang lebih baik pada medium tandan kosong kelapa sawit.Pada penelitian lain diperoleh bahwa kemampuan embrio zigotis kelapa sawit membentuk kalus sangat dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin. Penambahan 0,05 hingga 0,50 mg/l 2,4-D dan 0,1 atau 0,5 mg/l BAP memberikan persentase pembentukan kalus yang paling tinggi. Terdapat tiga jenis kalus yang terbentuk yaitu friable, fastgrowing dan nodular. Frekuensi terbentuknya masing-masing kalus dipengaruhi oleh
kombinasi zat pengatur tumbuh yang diberikan pada media kultur jaringan. Kalus friable merupakan jenis yang diharapkan untuk berkembang menjadi embrio somatis. Perkembangan ini akan diteliti pada tahap
selanjutnya di tahun 2009.








