Pada 2016, ICAO (International Civil Aviation Organization) memutuskan untuk menerapkan skema pengurangan emisi karbon penerbangan global (Carbon Off Setting and Reduction Scheme for International Aviation/CORSIA). Hal ini dilakukan ICAO untuk mencapai penurunan emisi pada 2020. Penggunaan bioavtur sebagai bahan bakar penerbangan merupakan salah satu langkah ICAO dalam mencapai target penurunan emisi. Di Indonesia, bioavtur berbahan baku minyak sawit memiliki peluang strategis. Namun, Pemerintah Indonesia harus mampu menjawab isu terkait kontribusi sawit terhadap gas emisi rumah kaca. Dalam rangka mempersiapkan bahan bagi delegasi RI untuk mengikuti sidang ICAO-CAEP (Committee On Aviation Environmental Protection) Steering Group yang akan diselenggarakan di Afrika Selatan pada awal Desember 2019, tim dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara berkunjung ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada 24-25 Oktober 2019.

Tim dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan Otoritas Bandara Wilayah II sedang mendengarkan penjelasan dari Dr. M. Ansori Nasution, Peneliti PPKS

Diskusi tentang LCA Biofuel dari kelapa sawit bersama peneliti PPKS, Tim dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan Otoritas Bandara Wilayah II, dan perwakilan PT Wilmar

Wendy Aritenang, Tenaga Ahli Pokja Penanganan Perubahan Iklim dan Emisi Gas Rumah Kaca Sub Sektor Transportasi Udara, menyebutkan, saat ini sektor penerbangan memiliki tujuan untuk mengurangi emisi dan melakukan studi Life Cycle Analysis (LCA) Biofuel dari kelapa sawit. Emisi dari kelapa sawit harus dihitung berdasarkan data dan kondisi riil di Indonesia secara ilmiah, bukan berdasarkan subjektivitas. Pengurangan emisi dapat dilakukan dengan methane capture/closed pond dan memanfaatkan biomassa. LCA diperlukan dalam menganalisis beban lingkungan dari suatu produk pada tiap tahapan dalam siklus hidup produk tersebut, dengan standarisasi tertentu. Aspek keekonomian aviation biofuel juga perlu dipelajari lebih dalam. LCA dapat dimanfaatkan sebagai upaya tata kelola sawit berkelanjutan di Indonesia.

Wendy Aritenang juga menyampaikan keinginannya agar praktisi industri kelapa sawit di Indonesia bersedia dijadikan role model bagi delegasi RI saat mengikuti sidang ICAO. Perwakilan PT Wilmar, Yopie Algrie menyatakan kesediaannya untuk dijadikan role model dan siap memberikan data secara teknis jika dibutuhkan. Selain itu, peneliti PPKS juga diminta ikut bergabung dengan tim delegasi RI untuk ikut sidang ICAO-CAEP pada awal Desember mendatang. Pada sidang tersebut, Indonesia diharapkan bukan hanya mengembangkan hilirisasi sawit nasional, namun juga mendukung dan memperhatikan dampak terhadap lingkungan global.

Translate »