Pilihan Bahasa : 

Warta Vol 9, No 3 Okt 2001

2005Vol 13, No 1 Feb 2005Vol 13, No 2 Juni 2005Vol 13, No 3 Oktober 2005
2004Vol 12, No 1 Feb 2004Vol 12, No 2-3 Okt 2004 
2003Vol 11, No 1 Feb 2003Vol 11, No 2-3 Okt 2003 
2002Vol 10, No 1 Feb 2002Vol 10, No 2-3 Okt 2002 
2001Vol 9, No 1 Feb 2001Vol 9, No 2 Juni 2001Vol 9, No 3 Okt 2001
Vol. 9 No. 3

β

 

 

* Pengaruh kekeringan pada tanaman kelapa sawit dan upaya penaggulangannya

* Defisiensi magnesium (Mg) pada tanaman kelapa sawit muda (Studi kasus di kebun Tj. Keliling Kabupaten Langkat Sumatera Utar)

* Peranan beberaoa sifat fisik tanah Ultisol pada penyebaran akar tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)

* Konservasi tanah berliat aktivitas rendah (LAR) di perkebunan kelapa sawit

* Upaya penggurangan pemakaian tanah pemucat pada pembuatan minyak goreng dengan mensentrifugasi Crude Palm Oil

* Pengaruh topografi lahan terhadap prodksi dan kapasitas tenaga panen kelapa sawit

Pengaruh kekeringan pada tanaman kelapa sawit dan upaya penaggulangannya
W. Darmosarkoro, I. Y. Harahap, dan E. Syamsuddin

   El Nino menyebabkan kekeringan yang panjang pada sebagian wilayah Indonesia se­cara nyata. Kekeringan menyebabkan tanaman kekurangan air yang mengakibatkan penye­rapan hara terhambat, fotosintesis dan metabolisme terganggu, serta perkembangan jaringan tanaman terhambat. Hal tersebut selanjutnya rnenimbulkan gangguan pertumbuhan bibit di pembibitan dan tanaman muda di lapangan serta menurunkan produktivitas kelapa sawit. Tingkat kerusakan tanaman kelapa sawit yang terjadi akibat kekeringan terutarna bergantung pada kondisi pertanaman kelapa sawit, tingkat dan lamanya kekeringan, serta kondisi tanah. Tiap kelompok umur tanaman kelapa sawit memiliki respon yang berbeda terhadap kekering­an. Kelompok umur 7-12 tahun merupakan kelompok yang paling rentan penurunan pro­duksinya terhadap kekeringan. Oryctes diperkirakan meningkat karma kekeringan menekan perkembangan musuh alami Oryctes. Populasi ulat pemakan daun kelapa sawit diperkirakan meningkat sehingga kerusakan daun akibat hama ini juga meningkat. Hama tikus pada musim kering akan menyebabkan kerusakan lebih berat dibandingkan dengan kerusakan akibat hama ini pada saat musim hujan. Untuk mengurangi kerusakan tanaman kelapa sawit akibat keke­ringan yang diperkirakan terjadi pada tahun 2002, perlu adanya upaya mengantisipasi dan menanggulangi dampak kekeringan tersebut yaitu dengan meminimalkan faktor-faktor yang dapat menstimulir terjadinya cekaman kekeringan yang berat melalui serangkaian aplikasi kultur teknis pada saat sebelum, selama, dan setelah musim kering. Kekeringan juga mening­katkan resiko kebakaran kebun kelapa sawit, untuk itu perlu upaya mengantisipasi dan mengu­rangi resiko kebakaran melalui koordinasi dengan pihak terkait. Strategi pembiayaan yang digunakan dalam mengantisipasi pengaruh kekeringan adalah dengan mengubah alokasi biaya eks-ploitasi.

 Defisiensi magnesium (Mg) pada tanaman kelapa sawit muda (Studi kasus di kebun Tj. Keliling Kabupaten Langkat Sumatera Utar)
Syamsul Anwar Dja'far, dan Arsyad D. Koedadiri

   Magnesium (Mg) mempunyai peranan penting bagi tanaman dalam proses metabolisme fosfat, respirasi tanaman dan aktivitas enzim, dan merupakan unsur hara makro yang penting dalam klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis. Defisiensi Mg sering terjadi terutama pada tanaman kelapa sawit muda antara lain disebabkan: pemberian pupuk Mg dalam jumlah yang kurang, kandungan Mg yang rendah di dalam tanah, keseimbangan hara K, Ca dan Mg tanah yang kurang baik dan kebutuhan tanaman yang semakin meningkat sedangkan keter­sediaan unsur tersebut di dalam tanah tidak mencukupi. Kehilangan Mg akibat erosi juga merupakan salah satu penyebab munculnya gejala defisiensi. Pemberian Mg bersama-sama dengan N, P dan K pada tanaman yang mengalami defisiensi akan dapat meningkatkan pro­duksi. Pemberian pupuk Mg dalam jumlah yang cukup dan seimbang akan dapat ineningkat­kan produksi sebesar 5-7%.

 Peranan beberaoa sifat fisik tanah Ultisol pada penyebaran akar tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Kusnu Martoyo
   Pengamatan tentang peranan beberapa sifat fisisk tanah Ultisol pada penyebaran akar tanaman kelapa sawit telah dilakukan di kebun Marihat, PT. Perkebunan Nusantara IV. Penvebaran akar secara lateral diamati pada 3 (tiga) arah, yaitu (1) sejajar dengan jalan panen/pasar pikul (K), (2) memotong jalan panen/pasar pikul (PP) dan (3) memotong tempat pemupukan pelepah (TP). Pengambilan contoh akar di setiap arah tersebut, dilakukan pada jarak 50 cm, 100 cm, 150 cm. 200 cm, 300 cm, 350 cm, 400 cm, 450 cm, 500 cm, 550 cm, 600 cm, 650 cm, 700 cm. 750 cm, 800 cm dan 850 cm dari pangkal batang. Penyebaran akar se­cara vertikal diamati di setiap arah dan setiap interval jarak pengamatan lateral dengan ke­dalaman 0-25 cm, 25-50 cm, 50-75 cm dan 75-100 cm. Pemilahan akar dilakukan terhadap akar primer, sekunder dan tersier. Sifa-sifat fisik tanah yang diamati meliputi tekstur, bobot isi (BV), bobot jenis (BJ), permeabilitas, persentase agregasi dan kemantapan agregat. Peng­amataul menunjukkan bahwa di kedalaman 0-25 cm kerapatan akar berhubungan erat dengan BV, pori drainase, ruang pori total dan permeabilitas. Di kedalaman 25-50 cm kerapatan akar berhubungan erat dengan B V, ruang pori total, persentase agregasi, persentase debu, perme­abilitas dan kemantapan agregat. Di kedalaman 50-75 cm kerapatan akar berhubungan erat dengan BV. Kemampuan agregat,  porositas total dan berat rerata diameter agregat. Di kedalman 75-100 cm kerapatan akar hanya berhubunga dengan permeabilitas tanah.  
Konservasi tanah berliat aktivitas rendah (LAR) di perkebunan kelapa sawit
Winarna, Arsyad D. Koedadir, dan Edy S. Sutarta
   Pengembangan tanaman kelapa sawit telah dilakukan pada lahan-lahan marginal, se­hingga dalam penggunaan lahan tersebut untuk perkebunan kelapa sawit harus diikuti dengan tindakan konservasi tanah guna mendapatkan produksi kelapa sawit yang optimal dan berke­lanjutan. Tanah berliat aktivitas rendah (LAR) seperti Typic Paleudult, Psammentic Paleudult, dan Typic Plinthudult merupakan tanah yang dominan pada lahan marginal di areal kelapa sawit (sekitar 35%). Tanah tersebut memiliki sifat fisik dan kimia tanah yang kurang baik un­tuk pertumbuhan tanaman. Penerapan beberapa tindakan konservasi tanah pada tanah LAR seperti aplikasi pelepah kelapa sawit, pembangunan rorak serta aplikasi tandan kosong sawit sebagai mulsa menunjukkan hasil yang cukup baik dalam mengendalikan erosi tanah dan memperbaiki beberapa sifat fisik dan kimia tanah. Aplikasi pelepah kelapa sawit secara nyata dapat menurunkan kehilangan massa tanah hingga 41%, sedangkan aplikasi pelepah yang dipadukan dengan pembuatan rorak memberikan hasil yang lebih baik terhadap penurunan kehilangan tanah (dapat mencapai 42%) dan perbaikan sifat tanah. Aplikasi tandan kosong sawit dengan takaran 40 ton TKS/ha/th ditambah 60% dosis pupuk N dan P dapat meningkat­kan produksi TBS hingga 34%. Dosis aplikasi TKS yang dianjurkan adalah 30 ton TKS/ha/th ditambah 50% dosis pupuk standar kebun. Aplikasi tandan kosong dilakukan dengan cara se­bar merata satu lapis pada gawangan mati, cara ini memberikan keuntungan lain seperti penekanan gulma dan penekanan perkembangan hama Oryctes.
Upaya penggurangan pemakaian tanah pemucat pada pembuatan minyak goreng dengan mensentrifugasi Crude Palm Oil
Eka Nuryanto dan Purboyo Guritno
   Kebutuhan minyak goreng Indonesia pada tahun 2001 adalah 1,1 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng ini, di Indonesia terdapat 79 buah pabrik minyak goreng kelapa sawit dengan total kapasitas 7, 6 juta ton per tahun. Umumnya proses pembuatan minyak goreng kelapa sawit melalui 2 tahap, yaitu proses pemurnian (penghilangan gum, pemucatan, dan penghilangan bau) dengan produk yang dikenal sebagai Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) dan proses pemisahan dengan dua macam produk yaitu fraksi padat adalah stearin dan fraksi cair adalah olein atau minyak goreng. Pada penelitian ini akan dicoba memisahan crude stearin yang terdapat di dalam Crude Palm Oil (CPO) dengan cara disentrifugasi pada kecepatan dan waktu putaran tertentu, sehingga diharapkan dapat memperkecil pemakaian tanah pemucat. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kandungan asam lemak bebas tidak banyak berubah baik untuk Crude Palm Oil sebelum maupun sesudah disentrifugasi, yaitu sekitar 3,63 - 4,10 %. Sedangkan bilangan iod terjadi kenaikan pada Crude Palm Oil yang telah disentrifugasi dibandingkan dengan Crude Palm Oil awal. Bilangan iod Crude Palm Oil awal adalah 47,72 dan setelah disentrifugasi menjadi sekitar 55,56 - 56,95. Hal ini dikarenakan pada proses sentrifugasi terjadi pengendapan trigliserida dengan komposisi asam lemak jenuh, sehingga jumlah asam lemak tidak jenuh di dalam Crude Palm Oil akan meningkat. Pengendapan trigliserida ini juga yang menyebabkan terjadinya penurunan nilai cloud point, karena asam lemak tidak jenuh mempunyai titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan asam lemak jenuh. Cloud point Crude Palm Oil setelah dilakukan sentrifugasi adalah 14 - 12 °C, sedangkan cloud point Crude Palm Oil awal adalah 23 - 20 °C. Pemberian tanah pemucat sebanyak 1 % (keaktifan 61 %) terhadap Crude Palm Oil sebelum dan sesudah disentrifugasi ternyata memberikan intensitas warna yang berbeda. Warna Crude Palm Oil awal adalah R (red) = 14,9, sedangkan warna Crude Palm Oil setelah disentrifugasi adalah R = 2,0 - 6,3.
Pengaruh topografi lahan terhadap prodksi dan kapasitas tenaga panen kelapa sawit
Dja'far, Syamsul Anwar, dan P. Purba

   Topografi lahan yang tidak disertai dengan penerapan kultur teknis yang standar (teras individu/kontur) berpengaruh terhadap produksi kelapa sawit dan penggunaan tenaga panen. Perbedaan produksi areal yang bertopografi berombak dengan lahan yang berbukit bisa men­capai 3,96 tonTBS/ha/tahun (28,84%). Pada daerah herbukit walaupun pemakaian tenaga panen lebih banyak 9,11 % dibandingkan daerah berombak tetapi produksi yang dihasilkan tetap lebih rendah disebabkan sekitar 13,31% tandan tidak dipanen serta kehilangan brondol­an mencapai 51,36%. Hasil analisis menunjukkan pengaruh fopografi lahan terhadap produk­si adalah sebesar 14,56 % dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti penerapan kultur teknis, sumber daya manusia, kesuburan lahan dan varitas tanaman. Upaya untuk memperke­cil pengaruh fopografi lahan antara lain pembuatan teras kontur serta tapak kuda yang lebih luas agar tandan dan brondolan tidak bergulir ke daerah rendahan lainnya, pengadaan tangga-tangga panen dan sarana jalan kolektif yang relatif dekat dalain upaya memperlancar pelaksanaan panen serta pemakaian tenaga panen yang berkualitas dan kuat.  

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12797
  • Unique Visitor: 3191
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.104
  • Since: 2010-08-18