Pilihan Bahasa : 

Jurnal Vol. 9 No. 2 dan 3 Tahun 2001

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007

 

 

Vol. 9 No. 2-3

 

 

* Pemanfaatan pelepah kelapa sawit untuk pembuatan pulp dan kertas cetak

* Bioekologi dan pengendalian karat daun Cephaleuros virescens di perkebunan kelapa sawit

* Aplikasi teknik RAPD untuk analisis genetik tanaman kelapa sawit

* Pelepasan hara pupuk mejemuk lambat tersedia untuk tanaman kelapa sawit

* Keragaman genetik agens biokontrol  trichoderma dengan random amplified polymorphic dna (RAPD)

* Keragaman dan nilai tambah industri oleokimia dasar Indonesia

Pemanfaatan pelepah kelapa sawit untuk pembuatan pulp dan kertas cetak
Darnoko, Purboyo Guritno, Erwinsyah dan Wieke Pratiwi

Indonesia merupakan salah satu produsen utama pulp yang memiliki kontribusi 13% terhadap kebutuhan pulp dunia. Permintaan pulp dan kertas setiap tahun terus meningkat sementara bahan baku berupa kayu semakin berkurang sehingga perlu dicarikan bahan baku alternatif. Disisi lain Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. Kelapa sawit menghasilkan limbah padat berupa tandan kosong dan pelepah kelapa sawit baik dari replanting maupun dari hasil pemangkasan yang mempunyai potensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi pulp dan kertas. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kondisi optimum proses produksi pulp dan kertas dengan bahan baku pelepah sawit. Proses pembuatan pulp dilakukan dengan menggunakan proses sulfat dengan berbagai variasi perlakuan konsentrasi alkali aktif di dalam digester putar berbentuk bulat (rotary globe digester). Pemutihan pulp pelepah kelapa sawit dilakukan dengan sistem konvensional dengan tahapan CEHEH dan HEHEH dimana C=khlorinasi, E=ekstraksi, dan H=hipokhlorinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum proses pemasakan pulp skala pilot diperoleh konsentrasi alkali aktif 18% dan ratio serpih bahan baku dengan cairan pemasakan sebesar 1 : 5. Rendemen pulp yang dihasilkan sebesar 45,58% dengan bilangan kappa sebesar 29,16. Untuk proses pemutihan, ternyata proses HEHEH lebih baik dibandingkan dengan CEHEH. Proses pembuatan kertas dari pulp pelepah kelapa sawit menghasilkan rendemen 47,88%. dengan gramatur rata-rata 70 glml dan derajat putih 81,5 - 83%GE.

Bioekologi dan pengendalian karat daun Cephaleuros virescens di perkebunan kelapa sawit
Agus Susanto dan Suharto Ps

Untuk Karat daun kelapa sawit yang disebakan Cephaleuros virescens saat ini sering dianggap sebagai salah satu penyakit di perkebunan kelapa sawit. Penelitian tentang biologi dan ekologi akan menjawab peran penyakit karat daun dalam perkebunan kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karat daun C. virescens dapat ditumbuhkan secara in vitro dengan media kultur jaringan T129; pembentukan spora C. virescens secara in vitro pada medium T129 adalah 2 minggu. Kerugian akibat karat daun pada kelapa sawit sangat kecil sebab karat daun hanya menyerang daun tua yang kontribusinya pada fotosintesis kecil. C. virescens hanya hidup di permukaan atas daun dan penutupannya tidak seratus persen padahal sebagian besar stomata di permukaan bawah daun, dan tingkat parasitasi rendah yaitu hanya sedikit merusak di jaringan epidermis daun dan tidak menembus ke bagian daun yang lebih dalam. Iklim di Indonesia pada umumnya cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan karat daun dan penyakit karat daun lebih banyak muncul di tanaman yang dekat dengan jalan dengan tipe tanah termasuk lempung. Karat daun dapat dikendalikan dengan pemangkasan pelepah dan atau penggunaan fungisida yang berbahan aktif tembaga dengan dosis 2,5 - 5 g / 2 liter air dengan interval penyemprotan satu minggu .

Aplikasi teknik RAPD untuk analisis genetik tanaman kelapa sawit
Indro E.Setiyo, Sudarsono dan Dwi Asmono

Teknik biologi molekular yang berbasis pada marka RAPD diterapkan pada tanaman kelapa sawit untuk mempelajari diversitas genetik populasi melalui pendugaan frekuensi alel, heterosigositas dan kemiripan gen. Penelitian laboratorium dilakukan di Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan (UPBP) Bogor dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Sebanvak 70 individu tanaman hasil persilangan dua pohon tetua elite (PA 131 D x RS 3 T) Analisis menggunakan 19 jenis primer oligonukleotida yang terbukti polimorfis pada kedua tetua. Data biner pita RAPD dianalisis berdasarkan konsep genetika populasi dan dibantu dengan perangkat lunak NTSYSpc versi 2.01. Ilasil menunjukkan bahwa heterosigositas amatan kelompok dura (0.631) relatif lebih rendah daripada kelompok tenera (0.647). Simpangan keseimbangan Hardy-Weinberg yang biasa dinyatakan sebagai koefisien tangkar dalam menunjukkan kelebihan heterosigot. Pada tingkat kemiripan genetik 75%, populasi percobaan bisa dikategorikan ke dalam 7 kelompok dan 5 individu tunggal yang tidak berkelompok. Beberapa kelompok tersusun hanya dari tipe dura dan/atau tenera, dan sisanya merupakan kelompok campuran antara dura dan tenera dalam komposisi yang berimbang. Lima individu yang tidak berkelompok ditunjukkan oleh tipe kelapa sawit dura. Pada tingkat kemiripan genetik seperti ini, untuk tujuan koleksi in situ populasi dapat disusutkan hingga 70%.

Pelepasan hara pupuk mejemuk lambat tersedia untuk tanaman kelapa sawit
Winarna, Edy Sigit Sutarta, Renni Yuliasari dan Z. Poeloengan

Aplikasi pupuk lambat tersedia berbentuk tablet dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan tanaman kelapa sawit melalui pengurangan dosis dan frekuensi aplikasi karena pupuk tablet diharapkan mampu melepaskan hara secara lambat (slow release). Studi pelepasan hara di laboratorium telah dilakukan terhadap pupuk tablet untuk mengetahui sifat lambat tersedia dari pupuk tablet tersebut. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pupuk tablet yang diuji tidak melepaskan hara secara lambat. Waktu pelepasan hara dari pupuk tablet yang diuji baik hara N, P, dan K tidak berbeda jauh dibandingkan dengan waktu pelepasan hara dari pupuk standar NPKMg. Jenis tanah diketahui juga berpengaruh terhadap ketersediaan hara yang terlepas dari pupuk baik pupuk tablet maupun NPKMg. Tanah Typic Paleudult memiliki daya ikat terhadap hara yang lebih baik dibandingkan dengan tanah Typic Tropopsamment, hal ini berkaitan utamanya dengan butir dengan ukuran butir dan kapasitas tukar kation dari tanah.
 

Keragaman genetik agens biokontrol  trichoderma dengan random amplified polymorphic dna (RAPD)
Agus Susanto dan Condro Utomo

Pengendalian hayati adalah salah satu pengendalian yang berpeluang baik untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan Ganoderma boninense. Agens biokontrol yang potensial adalah genus dari Trichoderma don Gliocladium. Kemampuan masing-masing isolat dari kedua jenis agens biokontrol ini sangat bervariasi. Oleh karena itu pemilihan agens biokontrol menjadi sangat penting dalam keberhasilan pengendalian hayati BPB ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keragaman genetik dari agens biokontrol yang telah diperoleh dengan marka Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur agens biokontrol terhadap G. boninense yang berupa T. harzianum, T.viride dan G.viride mempunyai indeks keragaman yang rendah tetapi berdasarkan marka RAPD dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar dengan variasi genetik yang besar. 
 

Keragaman dan nilai tambah industri oleokimia dasar Indonesia
Rohayati Suprihatini

Pengendalian hayati adalah salah satu pengendalian yang berpeluang baik untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan Ganoderma boninense. Agens biokontrol yang potensial adalah genus dari Trichoderma don Gliocladium. Kemampuan masing-masing isolat dari kedua jenis agens biokontrol ini sangat bervariasi. Oleh karena itu pemilihan agens biokontrol menjadi sangat penting dalam keberhasilan pengendalian hayati BPB ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keragaman genetik dari agens biokontrol yang telah diperoleh dengan marka Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur agens biokontrol terhadap G. boninense yang berupa T. harzianum, T.viride dan G.viride mempunyai indeks keragaman yang rendah tetapi berdasarkan marka RAPD dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar dengan variasi genetik yang besar. 

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 1434
  • Unique Visitor: 514
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.95
  • Since: 2010-01-10