* Strategi pengawasan mutu pupuk di perkebunan kelapa sawit * Kesenjangan produksi pada tanaman kelapa sawit muda : Suatu tantangan bagi pekebun kelapa sawit
* Isolasi lignin dari lindi hitam pulp tandan kosong sawit * Pemanfaatan minyak inti sawit diperkaya asam lemak omega-3 dalam pembuatan susu kental manis * Pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dengan reaktor anaerobik unggun tetap tipe aliran ke bawah β | Strategi pengawasan mutu pupuk di perkebunan kelapa sawit | | S. Rahutomo dan Arsyad D. Koedadir |
Biaya pemupukan yang tinggi dalam budidaya kelapa sawit dan beragamnya jenis serta mutu pupuk yang beredar di pasaran menuntut praktisi perkebunan untuk melakukan pengawasan mutu pupuk. Tujuan pengawasan mutu pupuk adalah untuk menjamin efektifitas pupuk yang diaplikasikan terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit yang optimal sekaligus menghindari inefisiensi akibat aplikasi pupuk di bawah standar mutu yang telah ditetapkan. Strategi pengawassan mutu pupuk diawali dengan pengumpulan informasi spesifikasi pupuk dan perbandingannya dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), serta informasi hasil uji efikasi terhadap tanaman kelapa sawit yang dilakukan oleh instansi penelitian terpercaya. Langkah selanjutnya pihak pekebun perlu melakukan pengambilan sampel pupuk yang telah sampai di gudang kebun untuk analisis laboratorium. Hasil analisis laboratorium tersebut menjadi dasar utama pengambilan keputusan apakah pupuk tersebut dapat diaplikasikan atau tidak. | Kesenjangan produksi pada tanaman kelapa sawit muda : Suatu tantangan bagi pekebun kelapa sawit | | Syamsul Anwar dan Petrrus Purba |
Data produksi menunjukkan adanya kesenjangan produksi antara potensi produksi menurut kelas kesesuaian lahan dengan produksi aktual pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Kesenjangan produksi tersebut diduga disebabkan oleh pengaruh satu atau lebih tindakan kultur teknis yang tidak sesuai seperti pemupukan yang tidak seimbang, waktu pemupukan yang tidak tepat, kesalahan penempatan pupuk, kualitas pupuk yang tidak sesuai dengan standar, pengawetan tanah dan air yang tidak memadai, pengaruh gulma, hama dan penyakit, serta kualitas bahan tanaman yang kurang baik. Sarana jalan yang tidak baik juga dapat mempengaruhi pencapaian produksi karena tandan buah yang telah dipanen tidak dapat terangkut seluruhnya. | Isolasi lignin dari lindi hitam pulp tandan kosong sawit | | Eka Nuryanto, Enny Ratnaningsih, dan Herri Susanto | Pada tahun 2000, Tandan Kosong Sawit (TKS) yang dihasilkan industri perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 7,1 juta ton berat basah, yang bila tidak dikelola dengan tepat akan dapat menjadi sumber pencemar lingkungan. TKS sebenarnya merupakan limbah yang banyak mengandung selulosa, sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bagi produk-produk yang berbasis selulosa seperti pulp dan kertas. Pada proses pembuatan pulp dari TKS akan diperoleh limbah cair yang disebut dengan lindi hitam. Di dalam lindi hitam pulp TKS ini mengandung lignin, suatu senyawa organik yang dapat digunakan sebagai binder, surfaktan dan sumber bahan kimia lainnya terutama turunan bensen, seperti asam vanilat. Penelitian ini mencoba untuk mengisolasi lignin dari lindi hitam pulp TKS. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk mendapatkan lignin dari lindi hitam pulp TKS adalah pada pH = 2 dengan perbandingan volume lindi hitam :air = 6 : 1. Lignin yang dapat diisolasi mencapai 39,49 % berat dari padatan total yang terdapat di dalam lindi hitam, dan kemurnian yang dicapai adalah 90,22 %. Spektrum ultra violet dan infra merah lignin hash isolasi menunjukkan kemiripan yang tinggi dengan lignin standar. Hasil analisis Gel Permeation Chromatography memperlihatkan bahwa lignin hasil isolasi tidak banyak yang terdegradasi selama pembuatan pulp dengan organosolv maupun selama isolasi. Massa molekul relatif terbesar yang teramati adalah 380.387 dengan jumlah yang paling banyak, sedangkan yang terkecil adalah 1.222. | Pemanfaatan minyak inti sawit diperkaya asam lemak omega-3 dalam pembuatan susu kental manis | | Donald Siahaan, Jenny Elisabeth, Tri Haryati, Purboyo Guritno, dan Yuniarti Yusak |
Minyak inti sawit telah berhasil diperkaya dengan asam lemak omega-3 (n-3) dan berpeluang digunakan sebagai bahan baku substitusi impor lemak susu. Mengingat peran asam lemak n-3 dan produk produk susu bagi gizi dan kesehatan, penggunaan minyak inti sawit kaya n-3 dalam proses pembuatan produk produk susu perlu dilakukan sebagai salah satu alternatif diversifikasi produk berbasis minyak sawit. Tujuan kegiatan penelitian ini pada tahun pertama adalah menetapkan kondisi optimum proses pembuatan susu kental manis (SKM) yang diperkaya asam lemak n-3 dengan menggunakan minyak inti sawit kaya n-3 sebagai sumber lemak. Formulasi produk SKM dilakukan dengan menggunakan tepung susu skim tanpa lemak sebagai sumber protein dan laktosa, gula pasir sebagai pemanis dan pengawet, dan minyak inti sawit kaya n-3 digunakan sebagai sumber lemak serta air. Komposisi susu skim, minyak kaya omega-3, gula dan air yang dipilih adalah 24:9:42:25 (dalam rasio berat), yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan kedekatan dengan komposisi nutrisi SKM komersial. Proses produksi yang dikembangkan berbeda dengan proses komersial karena meniadakan proses rekonstitusi dan evaporasi, dengan tahapan sebagai berikut: pencampuran bahan baku, pasteurisasi, dan homogenisasi. Penambahan gula pasir pada tahap sebelum pasteurisasi berefek meniadakan sandiness (yang dikonfirmasi dengan tidak adanya kristal gula pada pengamatan mikroskopi pembesaran 400 kali) dibandingkan dengan penambahan gula sesaat sebelum homogenisasi. Pasteurisasi pada 60°C dengan masa tahan selama 30 menit sudah memadai ditandai dengan tidak adanya mikroorganisme pada plate count agar setelah penyimpanan pada suhu kamar selama 1 minggu. Homogenisasi menggunakan homogenizer Edmund Buhler 74000 menyebabkan inkorporasi udara yang cukup intensif. Namun, gelembung udara tersebut dapat dihilangkan dengan pengadukan vakum pada rotovapor selama I jam pada suhu 60°C. Berdasarkan parameter viskositas, distribusi serta ukuran globula lemak, kecepatan dan waktu homogenisasi terbaik adalah 15 ribu rpm selama 10 menu. Kecepatan homogenisasi yang lebih besar dari I S ribu rpm menyebabkan pengentalan SKM yang tidak dapat diukur viskositasnya pada suhu 60°C. Komposisi nutrisi produk akhir SKM yang dihasilkan dengan formulasi dan proses optimum adalah sebagai berikut: kadar air 28.7%, lemak 8.2%, protein 7.6%, abu 1.3% dan karbohidrat 54.2%. Sifat fisikokimia penting lainya dari SKM yang dihasilkan di antaranya: viskositas 165.2 cstoke (pada 60°C) dan kadar asam lemak omega-3 sebesar 13.1 % (terhadap bobot lemak). | Pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dengan reaktor anaerobik unggun tetap tipe aliran ke bawah | | Renni Yuliasari, Darnoko, Klaus Wulfert, dan Waldemar Gindulis |
Pada umumnya pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dilakukan secara konvensional, yaitu secara biologis dengan menggunakan sistem kolam. Teknik pengolahan limbah dengan sistem tersebut sangat sederhana dan dianggap murah. Namun demikian sistem kolam mempunyai beberapa kelemahan, yaitu lahan yang dibutuhkan untuk mengolah limbah sangat luas, efisiensi perombakan limbah hanya sebesar 60-70%, dan kolam limbah sering mengalami pendangkalan. Reaktor anaerobik unggun tetap merupakan salah satu teknologi alternatif pada pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit. Pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dengan menggunakan sistem reaktor anaerobik unggun tetap mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan sisteni kolam, yaitu masa retensi yang diperlukan untuk merombak bahan organik menjadi lebih singkat dan efisiensi perombakan lebih tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dengan menggunakan tipe aliran ke bawah optimum dioperasikan pada laju alir sebesar 144 L/hari dengan waktu penahanan hidrolik selama 1,7 hari dan laju pembebanan COD terlarut sebesar 5,5 kg O,/m3/hari. Pada kondisi tersebut diperoleh efisiensi perombakan sebesar 90% dengan kandungan COD terlarut sebesar 1.173 mg/L, total padatan tersuspensi sebesar 287 mg/L, pH sebesar 6,8, serta gas bio yang dihasilkan sebesar 766 L/hari dengan kandungan gas metana sebesar 64%. |
|
|
|
|
|