Pilihan Bahasa : 

Warta Vol 9 No,1 2001

2005 Vol 13, No 1 Feb 2005 Vol 13, No 2 Juni 2005 Vol 13, No 3 Oktober 2005  
2004 Vol 12, No 1 Feb 2004 Vol 12, No 2-3 Okt 2004  
2003 Vol 11, No 1 Feb 2003 Vol 11, No 2-3 Okt 2003  
2002 Vol 10, No 1 Feb 2002 Vol 10, No 2-3 Okt 2002  
2001 Vol 9, No 1 Feb 2001 Vol 9, No 2 Juni 2001 Vol 9, No 3 Okt 2001
Vol. 9 No. 1

β

 

 

* Pemanfaatan peta tanah dengan teknik SIG untuk pengelolaan perkebunan kelapa sawit

* Kendala budidaya kelapa sawit pada tanah sulfat masam

* Teknologi produksi biodiesel dan prospek pengembangannya di Indonesia

* Permisahan β-karoten dari minyak sawit mentah dengan metode ekstraksi dan kromatografi kolom

* Dinamika produksi, permintaan dan harga minyak sawit. Dalam kaitan dengan gejolak harga minyak goreng dan penanganannya

β

Pemanfaatan peta tanah dengan teknik SIG untuk pengelolaan perkebunan kelapa sawit
S. Rahutomo, M. Lukman Fadli, dan Winarna

   Tanah merupakan salah satu komponen dasar yang sangat penting bagi tanaman, se­hingga diperlukan pemahaman mengenai karakteristik tanah baik fisik maupun kimia sebagai dasar dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Informasi dari peta tanah merupakan salah satu media untuk memahami karakteristik tanah tersebut. Peta tanah memiliki beberapa manfaat praktis dalam_pengelolaan perkebunan kelapa sawit antara lain untuk, 1) evaluasi ke­sesuaian lahan untuk kelapa sawit, 2) klasifikasi kesuburan tanah untuk setiap satuan peta tanah (SPT), 3) interpretasi informasi karakeristik setiap SPT Kultur teknis/hasil penelitian yang bersifat spesifik lokasi seperti pemupukan akan memberikan pengaruh yang relatif sama jika diinterpolasikan pada lokasi yang memiliki karakieristik sama. Selain itu peta tanah dapat digunakan untuk pembuatan peta tanaman, penentuan kesatuan contoh tanah (KCT) dan kesatuan contoh daun (KCD). Dengan pemetaan, keragaman sifat tanah dalam satu KCD/KCT dapat dievaluasi, sehingga sampel yang diambil dapat lebih representatif Peta blok tanaman yang ditumpang-susunkan (overlay) dengan peta tanah akan menghasilkan blok-blok tanaman dengan informasi karakteristik sifat tanah yang dapat digunakan sebagai dasar dalarn penen­tuan indeks produktivitas lahan. Beberapa pemanfaatan peta tanah untuk pengelolaan perke­bunan kelapa sawit tersebut dapat dilakukan secara lebih komprehensif dan optimal dengan dukungan Sistem Informasi Geografi (SIG). 

Kendala budidaya kelapa sawit pada tanah sulfat masam
S. Rahutomo dan E. S. Sutarta

   Keterbatasan Lahan di Indonesia mengakibatkan pengembangan areal kelapa sawit mu­lai mengarah ke Lahan-Lahan marjinal. Lahan pasang surut merupakan salah satu lahan marji­nal yang berpotensi menjadi alternatif bagi pengembangan tanaman kelapa sawit. Keberadaan mineral merupakan potensi masalah dalam pemanfaatan lahan pasang surut untuk budidaya kelapa sawit maupun komoditas pertanian lainnya. Oksidasi mineral pirit akan mengakibatkan kemasaman tanah menjadi sangat tinggi dan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman. Masalah lain adalah pasang surut air laut, salinitas, dan pengerutan tanah. Suatu lahan yang mengandung mineral pirit pada kedalaman kurang dari 1,5 m pada tanah mineral atau 2,0 m pada tanah gambut disarankan untuk tidak dibuka menjadi perkebunan kelapa sawit. Jika kedalaman pirit telah memenuhi syarat, sebaiknya juga dilakukan upaya memper­tahankan muka air tanah pada kedalaman 60 - 75 cm dari permukaan tanah. Pemantauan se­cara berkesinambungan terhadap pertumbuhan tanaman pada tanah sulfat masam tetap di­perlukan untuk mengetahui secara dini adanya pengaruh yang merugikan pertumbuhan tanam­an dan mengupayakan tindakan perbaikan secepatnya. Walaupun secara teknis suatu areal yang mengandung mineral pirit pada kedalaman sesuai syarat di atas sesuai untuk budidaya kelapa sawit, namun pertimbangan ekonomis dalam persiapan lahan dan pemeliharaan tanam­an perlu mendapat perhatian serius.

Teknologi produksi biodiesel dan prospek pengembangannya di Indonesia
Darnoko, Tjahjono Herawan, dan Purboyo Guritno
   Produksi minyak sawit mentah Indonesia pada tahun 2000 mencapai 6,5 juta ton yang diperkirakan akan terus meningkat sanapai beberapa tahun yang akan datang. Ekspor minyak sawit Indonesia sebagian besar msih dalam bentuk minyak sawit mentah sedangkan penggunaan di dalam negeri sebagian hesar adalah untuk pangan terutanta minyak goreng. Industri oleokimia Indonesia kurang berkembang yang mungkin disebabkan tingginya investasi untuk Industri tersebut. Salah satu alternatif pernanfaatan minyak sawit adalah untuk biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan. Teknologi produksi biodiesel dari minyak sawit cukup sederhana dan dapat dilakukan pada skala kecil maupun besar. Pada dasarnya biodiesel diproduksi melalui proses interesterifikasi antara minyak sawit dan metanol dengan menggunakan katalis basa pada suhu sekitar 60°C,". Di samping biodiesel atau metil ester, proses interesterifikasi juga menghasilkan gliserol. Untuk minyak sawit, produksi biodiesel perlu dipadukan dengan proses pemisahan karoten untuk me­ningkatkan nilai tambah. Kandungan karoten pada minyak sawit sekitar 500-700 ppm yang dapat dipisahkan dengan teknologi ekstraksi pelarut, ekstraksi fluida superkritikal, distilasi molekular, atau teknologi membran. Penggunaan teknologi membran dapat memberikan ber­bagai keuntungan dibandingkan dengan proses lainnya. Produksi biodiesel di Indonesia dapat diarahkan untuk tujuan ekspor atau penggunaan di dalam negeri. Ekspor biodiesel dapat memberikan keuntungan yang cukup tinggi mengingat tingginya harga biodiesel di luar negeri. Penggunaan biodiesel di dalam negeri perlu mendapat insentif dari Pemerintah berupa keringanan atau pembebasan pajak mengingat berbagai keuntungan dari segi lingkungan. 
Permisahan β-karoten dari minyak sawit mentah dengan metode ekstraksi dan kromatografi kolom
Sahidin, Sabirin Matsjeh, dan Eka Nuryanto
   Warna kuning-jingga yang terdapat di dalam Minyak Sawit Mentah (MSM) adalah bera­sal dari senyawa karotenoid yang jumlahnya sekitar 500-2000 ppm, dimana sekitar 80 dari total senyawa karotenoid tersebut adalah β-karoten. Senyawa β-karoten dapat berperan sebagai pro-vitamin A, senyawa anti kanker dan anti oksidan yang sangat aktif. Namun pada proses pembuatan minyak goreng dari MSM, β-karoten ini sengaja dihilangkan untuk mem­peroleh warna minyak goreng yang jernih. Pada penelitian ini dilakukan pemisahan β-karoten dari MSM dengan metode ekstraksi dan kromatografi kolom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi β-Akaroten dengan pelarut petroleum eter : aseton (1:3) memberikan hasil yang terbaik yaitu sekitar 82,41 %. Untuk memurnikan β-karoten ini dilakukan dengan metode kromatografi kolom dengan fasa diam campuran magnesium oksida dan aluminium oksida (1 1) dan fasa gerak campuran petroleum eter : aseton (9 .- 1). Spektrum ultra violet, infra merah dan 'H-NMR dari β-Akaroten hasil pemisahan mempunyai kemiripan yang sangat tinggi dengan β-karoten standar
Dinamika produksi, permintaan dan harga minyak sawit. Dalam kaitan dengan gejolak harga minyak goreng dan penanganannya
Lalang Buana

   Harga, produksi dan permintaan minyak nabati berfluktuasi yang berpengaruh terhadap harga minyak goreng dalam negeri. Harga minyak sawit dunia sangat berfluktuasi dan pergerakannya tersusun dari pergerakan siklus bisnis dan musiman. Produksi CPO Indonesia memiliki pola musiman sama dengan panen tandan buah segar dengan puncak pada Oktober dan Desember serta terendah pada Januari. Permintaan minyak meningkat 20% pada bulan puasa dan 15% pada Desember. Pada tahun 1997, permintaan minyak goreng dalam negeri yang tinggi terjadi pada harga puncak siklus bisnis, harga puncak musiman dan produksi dalam negeri yang terendah yang menimbulkan gejolak perdagangan minyak sawit dalarn negeri. Alternatif untuk menghindari terulangnya situasi demikian adalah mendidik masyarakat agar bertindak rasional dalam mengkonsumsi minyak, membangun stok ketika harga murah yaitu pada September-Oktober dan meningkatkan produksi untuk memperbesar rasio produksi dan konsumsi dalarn negeri. 

 

 

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12779
  • Unique Visitor: 3190
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.101
  • Since: 2010-08-18