Pilihan Bahasa : 

Jurnal Vol 9 No.1 2001

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007

 

 

Vol. 9 No. 1

 

 

* Pengaruh cekaman air terhadap karakter morfologi beberapa varietas tanaman kelapa sawit (elais guineenseis Jacq.)

* Efektivitas penempatan dan penentuan tingkat efisiensi pupuk p pada tanaman kelapa sawit menghasilkan dengan 32P

* Pengaruh penyakit tajuk terhadap produksi beberapa zuriat kelapa sawit

* Formulasi dan pembuatan susu kental manis dengan minyak inti sawit diperkaya asam lemak omega-3 sebagai pengganti lemak susu


 

Pengaruh cekaman air terhadap karakter morfologi beberapa varietas tanaman kelapa sawit (elais guineenseis Jacq.)
Yusran Pangaribuan, Dwi Asmono dan Sjafrul Latif

Pada pertanaman kelapa sawit ketersediaan air merupakan foktur utama yang membatasi tingkat produksi tanaman. Pengembangan perkebunan kelapa sawit sering kali berhadapan dengan lahan yang memiliki keterbatasan pedoagroklimat khususnyn ketersediaan air. Curah hujan yang rendah dan tidak merata sering menyebabkan terjadinya kondisi defsit air yang berdampak negatis terhadap tanaman. Penelitian ini dilakuknn untuk mengidentifikasi respon morfologi yang berkaitan dengan daya adaptasi tanaman kelapa sawit terhadap cekaman air dan sebagai alternatif pemecahan masalah cekaman air melalui seleksi awal bahan tanaman kelapa sawit yang toleran terhadap cekaman air Percobaan ini menggunakan Rancangan Faktorial dalam lingkungan acok Lengkap (RAL.). Faktor pertama adalah cekaman air yang terdiri atas empat taraf yaitu (A): 100% kapusitas lapang (A1), 75% kapasitas lapangnn (A2), 50% kapasitas lapangan(A3), don 25% kapasitas lapangan (A4). Sedangkan faktor kedua adalah varietas yang terdiri atas 5 taraf yaitu (V). ­DP Marihat (VI), DP Nifor (V2), DP yangambi (V3), DP Sungai Pancur 2(V4), DyP Sungai Pancur l (V5). Hasil penelitian menunjukan bahwa varietas DP Sungai Pancur 2 (V4) relatif lebih dapat beradaptasi dan memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan varietas lainnya pada kondisi cekaman air, dicirikan dengan lebih tingginya nilai pengamatan hampir pada semua peubah pertumbuhan. Suplai air yang kurang dalam jangka waktu lama, secara morfologi menyebabkan meningkatnya kerusakan vegetatif tanaman, yaitu terhambatnya daun-daun membuka, terjadinya pengeringan daun mudah, rusaknya hijau daun, dan juga dapat berakibat seluruh kanopi mengalami kerusakan. Bahkan bila kondisi sangat ektrim dapat menyebabkan kematian tanaman.
 

Efektivitas penempatan dan penentuan tingkat efisiensi pupuk p pada tanaman kelapa sawit menghasilkan dengan 32P
M. Lukman Fadli, Z. Poeloengan dan Elsye L. Sisworo

Sistem perakaran tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) mempunyai peranan penting terhadap serapan hara untuk mendukung pertumbuhan vegetatif dan produksi tanaman. Tingkat efisiensi pupuk P - SP36 yang ditempatkan 1,5 m dan 2,5 m dari pangkal pohon ditentukan menggunakan 32P-          TSP. Tingkat efisiensi serapan hara tanaman dari pupuk yang diberikan sangat tergantung pada pola penyebaran perakaran khususnya akar tersier don kuarter. Efektivitas penempatan pupuk P dapat di lakukan dengan metode injeksi radio isotop (larutan KHz32PO4) yang ditempatkan pada 20 lubang di sekeliling piringan tanaman kelapa sawit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa 1) tingkat efisiensi pupuk P - SP36yang ditempatkan 1,5 m lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditempatkan 2,5 m dari pangkal pohon. 2) Pertambahan dosis pupuk SP36 dari 0,75 kg ke 2,25 kg SP36 per pohon akan mengurangi tingkat efisiensi pemupukan P baik pupuk yang ditempatkan 1,5 m maupun 2,5m dari pangkal pohon, 3) kandungan 32P pada daun pelepah ke-9 lebih tinggi dibandingkan pada daun pelepah ke-17, dan 4) kandungan P daun dari tanaman yang pupuk 32P pada jarak 1,5 m dengan kedalaman 5 cm lebih tinggi secara nyata dibandingkan tanaman yang dipupuk 32P pada jarak 2,5 m dengan kedalaman 15 cm. Hasil percobaan tersebut  menggambarkan bahwa sistem perakaran tanaman kelapa sawit menghasilkan khususnya akar tersier dan kuarter sebagian besar tersebar di sekeliling pohon dengan radius 1,5 m dari pangkal pohon.

Pengaruh penyakit tajuk terhadap produksi beberapa zuriat kelapa sawit
Yurna Yenni, Sjafrul Latif, and A. Razak Purba

Kajian pengaruh penyakit tajuk terhadap produksi kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq ) telah dilakukan terhadap 40 zuriat yang diuji pada 2 percobaan siklus pertama program seleksi Reciprocal Recurrent Selection (RRS) di Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS). Pengamatan penyakit tajuk telah dilakukan 8-9 kali, mulai tanaman berumur 6 bulan setelah tanaman dengan interval 6 bulan sekali. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode General Linear Model (GLM) terhadap produksi tandan dan tandan buah segar (TBS). Setiap individu tanaman yang diamati pada priode 4-6 tahun, 7-10 tahun dan 4-10 tahun. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa insiden penyakit tajuk sangat ditentukkan oleh orijin zuriat yang diuji. Dari pengamatan terlihat pula bahwa persentase kemunculan penyakit tanjuk semakin rendah dengan bertambahnya umur tanaman , kurang dari 5% setelah tanaman berumur 4 tahun. Pada beberapa zuriat dijumpai penyakit tanjuk kronis, yaitu yang gejalanya masih terlihat sampai 6 kali pengamatan atau lebih. Seleksi yang lebih ketat dipembibitan dan penyulaman tanaman–tanaman yang terkena penyakit tajuk kronis akan dapat mengurangi kerugian produksi akibat penyakit tajuk tersebut.
 

Formulasi dan pembuatan susu kental manis dengan minyak inti sawit diperkaya asam lemak omega-3 sebagai pengganti lemak susu
Donald Siahaan, Jenny Elisabeth, Tri Haryati, Yuniarti, dan Riska

Minyak inti sawit telah berhasil diperkaya dengan asam lemak omega-3 (n-3) dari minyak ikan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan berpeluang digunakan sebagai bahan baku substitusi impor untuk lemak susu dalam pembuatan susu kental manis. Mengingat peran asam lemak n-3 dan produk produk susu bagi gizi dan kesehatan, penggunaan minyak inti sawit kaya n-3 dalam proses pembuatan produk-produk susu perlu dilakukan sebagai salah satu alternatif diversifikasi produk berbasis minyak sawit. Tujuan kegiatan penelitian ini adalah memformulasi bahan baku dan menetapkan kondisi optimum proses pembuatan susu kental manis (SKM) yang diperkaya asam lemak n-3 dengan menggunakan minyak inti sawit kaya n-3 sebagai sumber lemak Formulasi produk SKM dilakukan dengan menggunakan tepung susu skim tanpa lemak sebagai sumber protein dan laktosa, gula pasir sebagai pemanis dan pengawet, dan minyak inti sawit kaya n-3 digunakan sebagai sumber lemak serta air. Komposisi susu skim, minyak kaya omega-3, gula dan air yang direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian adalah 24:9:42:25 (dalam rasio berat), yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan kedekatan dengan komposisi nutrisi SKM komersial. Proses produksi yang dikembangkan berbeda dengan proses komersial karena meniadakan proses rekonstitusi dan evaporasi, dengan tahapan sebagai berikut: pencampuran bahan baku, pasteurisasi pada 60'C dengan masa bahan selama 30 menit, homogenisasi pada kecepatan 15 ribu rpm selama 10 menit, serta kristalisasi lambat pada suhu ruang (28"C) selama 24 jam. Komposisi nutrisi produk akhir SKM yang dihasilkan dengan formulasi dan proses optimum adalah sebagai berikut: kadar lemak 8.2% dimana kadar asam lemak omega-3 sebesar 13.1 % (terhadap bobot lemak), kadar protein 7.6%, kadar abu 1.3% kadar karbohidrat 54.2%, dan kadar air 28.7%. Viskositas SKM berbasis minyak inti sawit diperkaya omega-3 ini adalah 165.2 cstoke (pada 600C) yang berarti identik dengan SKM komersial yang digunakan sebagai pembanding.

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12786
  • Unique Visitor: 3190
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.101
  • Since: 2010-08-18