| Yusran Pangaribuan, Dwi Asmono dan Sjafrul Latif |
Pada pertanaman kelapa sawit ketersediaan air merupakan foktur utama yang membatasi tingkat produksi tanaman. Pengembangan perkebunan kelapa sawit sering kali berhadapan dengan lahan yang memiliki keterbatasan pedoagroklimat khususnyn ketersediaan air. Curah hujan yang rendah dan tidak merata sering menyebabkan terjadinya kondisi defsit air yang berdampak negatis terhadap tanaman. Penelitian ini dilakuknn untuk mengidentifikasi respon morfologi yang berkaitan dengan daya adaptasi tanaman kelapa sawit terhadap cekaman air dan sebagai alternatif pemecahan masalah cekaman air melalui seleksi awal bahan tanaman kelapa sawit yang toleran terhadap cekaman air Percobaan ini menggunakan Rancangan Faktorial dalam lingkungan acok Lengkap (RAL.). Faktor pertama adalah cekaman air yang terdiri atas empat taraf yaitu (A): 100% kapusitas lapang (A1), 75% kapasitas lapangnn (A2), 50% kapasitas lapangan(A3), don 25% kapasitas lapangan (A4). Sedangkan faktor kedua adalah varietas yang terdiri atas 5 taraf yaitu (V). DP Marihat (VI), DP Nifor (V2), DP yangambi (V3), DP Sungai Pancur 2(V4), DyP Sungai Pancur l (V5). Hasil penelitian menunjukan bahwa varietas DP Sungai Pancur 2 (V4) relatif lebih dapat beradaptasi dan memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan varietas lainnya pada kondisi cekaman air, dicirikan dengan lebih tingginya nilai pengamatan hampir pada semua peubah pertumbuhan. Suplai air yang kurang dalam jangka waktu lama, secara morfologi menyebabkan meningkatnya kerusakan vegetatif tanaman, yaitu terhambatnya daun-daun membuka, terjadinya pengeringan daun mudah, rusaknya hijau daun, dan juga dapat berakibat seluruh kanopi mengalami kerusakan. Bahkan bila kondisi sangat ektrim dapat menyebabkan kematian tanaman. | Efektivitas penempatan dan penentuan tingkat efisiensi pupuk p pada tanaman kelapa sawit menghasilkan dengan 32P | | M. Lukman Fadli, Z. Poeloengan dan Elsye L. Sisworo |
Sistem perakaran tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) mempunyai peranan penting terhadap serapan hara untuk mendukung pertumbuhan vegetatif dan produksi tanaman. Tingkat efisiensi pupuk P - SP36 yang ditempatkan 1,5 m dan 2,5 m dari pangkal pohon ditentukan menggunakan 32P- TSP. Tingkat efisiensi serapan hara tanaman dari pupuk yang diberikan sangat tergantung pada pola penyebaran perakaran khususnya akar tersier don kuarter. Efektivitas penempatan pupuk P dapat di lakukan dengan metode injeksi radio isotop (larutan KHz32PO4) yang ditempatkan pada 20 lubang di sekeliling piringan tanaman kelapa sawit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa 1) tingkat efisiensi pupuk P - SP36yang ditempatkan 1,5 m lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditempatkan 2,5 m dari pangkal pohon. 2) Pertambahan dosis pupuk SP36 dari 0,75 kg ke 2,25 kg SP36 per pohon akan mengurangi tingkat efisiensi pemupukan P baik pupuk yang ditempatkan 1,5 m maupun 2,5m dari pangkal pohon, 3) kandungan 32P pada daun pelepah ke-9 lebih tinggi dibandingkan pada daun pelepah ke-17, dan 4) kandungan P daun dari tanaman yang pupuk 32P pada jarak 1,5 m dengan kedalaman 5 cm lebih tinggi secara nyata dibandingkan tanaman yang dipupuk 32P pada jarak 2,5 m dengan kedalaman 15 cm. Hasil percobaan tersebut menggambarkan bahwa sistem perakaran tanaman kelapa sawit menghasilkan khususnya akar tersier dan kuarter sebagian besar tersebar di sekeliling pohon dengan radius 1,5 m dari pangkal pohon. | Pengaruh penyakit tajuk terhadap produksi beberapa zuriat kelapa sawit | | Yurna Yenni, Sjafrul Latif, and A. Razak Purba |
Kajian pengaruh penyakit tajuk terhadap produksi kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq ) telah dilakukan terhadap 40 zuriat yang diuji pada 2 percobaan siklus pertama program seleksi Reciprocal Recurrent Selection (RRS) di Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS). Pengamatan penyakit tajuk telah dilakukan 8-9 kali, mulai tanaman berumur 6 bulan setelah tanaman dengan interval 6 bulan sekali. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode General Linear Model (GLM) terhadap produksi tandan dan tandan buah segar (TBS). Setiap individu tanaman yang diamati pada priode 4-6 tahun, 7-10 tahun dan 4-10 tahun. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa insiden penyakit tajuk sangat ditentukkan oleh orijin zuriat yang diuji. Dari pengamatan terlihat pula bahwa persentase kemunculan penyakit tanjuk semakin rendah dengan bertambahnya umur tanaman , kurang dari 5% setelah tanaman berumur 4 tahun. Pada beberapa zuriat dijumpai penyakit tanjuk kronis, yaitu yang gejalanya masih terlihat sampai 6 kali pengamatan atau lebih. Seleksi yang lebih ketat dipembibitan dan penyulaman tanaman–tanaman yang terkena penyakit tajuk kronis akan dapat mengurangi kerugian produksi akibat penyakit tajuk tersebut. | Formulasi dan pembuatan susu kental manis dengan minyak inti sawit diperkaya asam lemak omega-3 sebagai pengganti lemak susu | | Donald Siahaan, Jenny Elisabeth, Tri Haryati, Yuniarti, dan Riska |
Minyak inti sawit telah berhasil diperkaya dengan asam lemak omega-3 (n-3) dari minyak ikan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan berpeluang digunakan sebagai bahan baku substitusi impor untuk lemak susu dalam pembuatan susu kental manis. Mengingat peran asam lemak n-3 dan produk produk susu bagi gizi dan kesehatan, penggunaan minyak inti sawit kaya n-3 dalam proses pembuatan produk-produk susu perlu dilakukan sebagai salah satu alternatif diversifikasi produk berbasis minyak sawit. Tujuan kegiatan penelitian ini adalah memformulasi bahan baku dan menetapkan kondisi optimum proses pembuatan susu kental manis (SKM) yang diperkaya asam lemak n-3 dengan menggunakan minyak inti sawit kaya n-3 sebagai sumber lemak Formulasi produk SKM dilakukan dengan menggunakan tepung susu skim tanpa lemak sebagai sumber protein dan laktosa, gula pasir sebagai pemanis dan pengawet, dan minyak inti sawit kaya n-3 digunakan sebagai sumber lemak serta air. Komposisi susu skim, minyak kaya omega-3, gula dan air yang direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian adalah 24:9:42:25 (dalam rasio berat), yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan kedekatan dengan komposisi nutrisi SKM komersial. Proses produksi yang dikembangkan berbeda dengan proses komersial karena meniadakan proses rekonstitusi dan evaporasi, dengan tahapan sebagai berikut: pencampuran bahan baku, pasteurisasi pada 60'C dengan masa bahan selama 30 menit, homogenisasi pada kecepatan 15 ribu rpm selama 10 menit, serta kristalisasi lambat pada suhu ruang (28"C) selama 24 jam. Komposisi nutrisi produk akhir SKM yang dihasilkan dengan formulasi dan proses optimum adalah sebagai berikut: kadar lemak 8.2% dimana kadar asam lemak omega-3 sebesar 13.1 % (terhadap bobot lemak), kadar protein 7.6%, kadar abu 1.3% kadar karbohidrat 54.2%, dan kadar air 28.7%. Viskositas SKM berbasis minyak inti sawit diperkaya omega-3 ini adalah 165.2 cstoke (pada 600C) yang berarti identik dengan SKM komersial yang digunakan sebagai pembanding. |
|
|
|