| Subronto, Iman Yani Harahap, dan Sjafrul LAtif |
Pengaruh cekaman air pada tanaman kelapa sawit dapat menurunkan produksi TBS 1040 %. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kekeringan ini adalah mendapatkan bahan tanaman kelapa sawit yang toleran melalui program seleksi. Sa1ah satu kegiatan yang utama dalam program seleksi tersebut adalah mencari parameter fisiologi yang dapat digunakan di tahap pembibitan, sehingga diharapkan program seleksi ini tidak memerlukan waktu yang lama. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Marihat, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Percobaan dibangun dengan perlakuan yang disusun menurut rancangan acak lengkap, faktorial 2 faktor, yaitu faktor bahan tanaman sebanyak 14 persilangan (induk DA 10 D x DA 8 D; DA 8 D self , bapak LM 9 T x LM 2 T), dan faktor kekeringan air tanah sebanyak 2 taraf yaitu penyiraman 100% kapasitas lapang dan tanpa penyiraman. Tiap kombinasi perlakuan tersebut diulang sebanyak sembilan kali. Parameter fisiologi yang diuji adalah nisbah luas daurr, limpasan metabolit, kadar P limpasan, pH limpasan, kadar K limpasan, nisbah tajuk-akar, turgiditas relatif, kadar air daun, bobot daun spesifzk, defzsit air jenuh, kapasitas penyimpanan air, persentase irtegritas absolut membran sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 11 parameter fisiologi yang diuji ternyata hampir semuanya menunjukkan tanggap yang nyata atas perlakuan cekaman kekeringan terhadap bibit kelapa sawit. Dari dua pengamatan yang dilakukan pada urnur 6 dan 12 bulan diketahui parameter yang konsisten dan memiliki R tertinggi dengan kadar air tanah adalah kadar air daun dan turgiditas relatif. Dengan demikian kedua parameter ini seterusnya dapat digunakan untuk menyeleksi bahan tanaman kelapa sawit yang toleran terhadap cekaman air. Hasil seleksi pendahuluan menunjukkan bahwa persilangan no. 4 adalah bahan tanaman yang toleran terhadap cekaman kekeringan.
| Spesifisitas lipase dedak padi terhadap jenis substrat dan aplikasi potensialnya untuk biotransformasi lipida |
| Jenny Elisabeth dan Donald Siahaan |
Meskipun proses enzimatis memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan proses kimiawi. Namun aplikasi proses enzimatis pada skala industri terkendala oleh harga lipase mikrobial yang relatip mahal. Oleh karena itu, pengembangan sumber lipase yang lebih murah dan memiliki ketersediaan yang tinggi perlu dilakukan, salah satunya adalah dari bahan tumbuhan. Dedak padi diketahui memiliki aktivitas lipase yang cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sifat sfesifitas lipase dedak padi terhadap jenis substrat pada reaksi hidrolisis dan sintetis (esterifikasi dan trassesterifikasi . yakni pada kelapa sawit, Minyak inti sawit dan turunan ( asam lemak sawit ). Hasil penelitian menunjukan bahwa lipase dedak padi memiliki aktivitas sedang pada jenis asam lemak dengan alkohol. Aktivitas aksterifikasi dari lipase dedak padi tergantung pada jenis asam lemak dan alkohol serta kondisi fisik subrant. Lepase dedak pada menunjukan aktivitas yang cukup tinggi dalam asam kaprilat ( C8: 0 ) dan asam kaprat ( C10 : 0 ), pada molekul gliserida olein sawit. Pe ningkatan rasio subrant dari 0,5 hingga 1 : 1,Yakni rasio mol asam lemak dan olein sawit dapat meningkatkan inkoporasi MCFA. Lipase dedak padi memiliki aktivitas hidrolitik yang lebih rendah terhadap minyak sawit dibandingkan minyak inti sawit, dan juga memiliki aktivitas yang relative rendah dalam reaksi gliserolisis untuk sintetis monogliserida dari minyak sawit dan inti sawit.
| Upaya peningkatan produksi mono- dan digliserida dari minyak sawit mentah dengan proses gliserolisis enzimatik |
| Jenny Elisabeth, Donald Siahaan dan H.H. Situmorang |
Penelitian ini dilakukan dalam upaya meningkatkan produksi mono- dan digliserida (MG DG) dari minyak sawit mentah dengan teknik gliserolisis enzimatik. Proses reaksi dengan katalis lipase mikrobial komersial dilakukan antara gliserol dan minyak sawit mentah dengan rasio molar 3:1, kadar air dalam campura reaksi sebesar 12%, suhu 500C , kecepatan pengadukan 300 rpm, dan waktu reaksi 24 jam. Penggunaan silika gel sebagai bahan pengikat grliserol untuk perbaikan pencampuran gliserol dalam minyak sawit tidak menunjukkan pengaruh yang positif terhadap peningkatan sintesis MG dan DG. Lebih lanjut, pengguna rasio molar gliserol dan minyak sawit 2:1 dan penambahan gliserol yang satu kali pada awal reaksi telah menghasilkan produk dengan kandungan MG dan DG yang maksimum. Upaya untuk memperbaiki tingkat pencampuran gliserol dan minyak sawit dengan teknik perubahan gliserol yang bertahap juga tidak menunjukkan hasil yang positif, karena kondisi substrat yang telah memadat pada saat penambahan gliserol yang keduadan ketiga kalinya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengguna lipase campuran, yakni Lipozyme-IM (Rhizomucor miehei) dan Novozym-435 (Candida antartica) secara bersamaan, lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan Lipozyme-IM saja ataupun Lipozyme-1M dan Novozym-435 yang digunakan secara bertahap. Dengan campur diperoleh produk dengan produk kandungan MG dan DG masing – masing sebesar 44% dan 61%. Kandungan a-MG dalam produk gliserolisis umumnya lebih rendah dibandingkan dengan kandungan MG total. Hal ini mengindikasikan bahwa MG yang terdapat pada produk gliserolisis tidak hanya terdiri dari 1 – dan 3 – MG, tetapi juga 2-MG.
| Rancang bangun model produksi bersih kebun kelapa sawit: Studi kasus di kebun kelapa sawit Kertajaya, Banten dan kebun kelapa sawit Bah Jambi, Sumatera Utara |
| Luqman Erningpraja dan Z. Poeloengan |
Limbah perkebunan kelapa sawit dalam bentuk gas, limbah padat, dan limbah cair berpotensi menyebabkan polusi bila tidak dikelolah dengan baik. Untuk mengelolah limbah yang di produksi oleh kebun kelapa sawit, diperlukan suatu sistem kontrol yang meliputi pengelolaan pembukaan lahan, pemeliharaan lahan dan panen tandan buah segar di lapangan, serta pengelolahan minyak sawit mentah dan minyak inti sawit termasuk unit pengolahan limbah. Di sisi lain, limbah dalam bentuk serat, cangkang, tandan kosong sawit, batang, pelepah, dan limbah cair hingga saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimum. Berdasarkan kenyataan yang ada, program produksi bersih di perkebunan kelapa sawit sangat diperlukan untuk memperbaiki efisiensi dan efektifitas penggunaan bahan baku, pemanfatan energi dan sumber daya lain, guna mewujudkan kepercayaan konsumen domestik maupun internasionalterhadap komoditi kelapa sawit. Secara operasional, produksi bersih di perkebunana kelapa sawit merupakan suatu upaya untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan bahan baku, energi, dan sumber daya mengurangi volume dan tolsisitaslimbah yang dihasilkan, dan mendaur ulang limbah yang dihasilkan pada produksi. Tujuan utama penelitian adalah untuk merancang bangun model produksi bersih pada perkebunan kelapa sawit. Model dijalankan dengan beberapa asumsi dan empat komponen input utama, yaitu kerapatan tanam, efektifitas pemupukan dan daur ulang hara N, P2O5K2O dan MgO, potensi produksi berdasarkan kelas kesesuaian lahan S1, serta efektifitas pabrik kelap sawit. Selanjutnya , model produksi bersih tersebut diverifikasi dengan data aktual yang diperoleh dari kebun kelapa sawit Kertajaya, Banten, dan kebun kelapa sawit Bah Jambi, Sumatra Utara. Analisis sistem dilakukan Stella Versi 4.0.2 dari High Performance System, Inc, Hanover, Canada, 1996.
[ Back ]
|
|
|
|