* Pemetaan awal pautan marka RAPD pada pohon elit kelapa sawit tenera
* Pemupukan N, P, K, dan Mg pada tanaman kelapa sawit pada tanah Typic Dystropept di Sumatera Utara
* Degradasi β-karoten dari minyak sawit mentah oleh panas
* Impregnasi kayu kelapa sawit menggunakan resin Pinus merkusii dan asam akrilat * Evaluasi perkembangan penerimaan minyak sawit melalui harga bayangannya
| Pemetaan awal pautan marka RAPD pada pohon elit kelapa sawit tenera | | Indra E. Setiyo, Sudarsono, dan Dwi Asmono |
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk membangun peta pautan antar marka RAPD pada individu elit kelapa sawit tenera dengan strategi pseudo-testeross. Bahan tanaman yang digunakan adalah 70 progeni kelapa sawit hasil persilangan BO 2499 D x BO 903 T dan kedua tetuanya. Sejumlah 169 primer (oligonukleotida 10 basa) ditapis di kedua tetua, 19. Primer di antaranya digunakan untuk genotipe pada populasi pemetaan. Hasil menunjukkan bahwa 19 primer acak mampu menghasilkan 24 lokus marka RAPD yang digunakan untuk rnenentukan genotipe pada populasi pemetaan. Di antara 24 lokus ditemukan 8 lokus yang tidak mengikuti nisbah segregasi mendelian 1:1. Dua lokus terdistrosis yang diamplifikasi dari dua primer sangat mungkin diekspresikan dari lokus homosigus pada individu tetua. Penggunaan marka-marka yang demikian bisa menimbulkan pautuan genetik semu. Analisis pautan dengan skor logaritma odds (LOD) minimum 3,0 dan laju rekombinasi (0) maksimum 0, 25 rnenghasilkan tiga kelompok pautan genetik yang terdiri atas 9 marka dan mencakup jarak peta 113,8 cM. Pada percobaan ini, 13 lokus belum dapat dipautkan ke dalam kelompok pautan yang ada. Studi lebih lanjut guna mengenali lebih banyak marka diperlukan untuk menghasilkan kelompok pautan yang sama dengan markat diperlukan untuk menghasilkan kelompok pautan yang sama dengan jumlah haploid kromosom kelapa sawit. Kelompok pautan ini nantinya digunakan untuk menentukan markas – markas yang terpaut erat dengan sifat – sifat komersial seperti ketebalan cangkang buah kelapa sawit. | Pemupukan N, P, K, dan Mg pada tanaman kelapa sawit pada tanah Typic Dystropept di Sumatera Utara | | R. Sukarji, Sugiyono, dan W. Darmosarkoro |
Percobaan pemupukan N,P,K, dan Mg pada tanaman kelapa sawit jenis DxP tahun tanam 1987 telah dilakukan di Sumatera Utara dengan macam tanah Typic Dystropept. Percobaan menggunakan rancanagan Jaktoria! 34 tanpa ulangan. Perlakuan merupakan kombinasi dari tiga taraf dosis pupuk: urea (1,.5; 3,0; 4,5 kg/pohon/tahun), RP (1,5; 3,0; 4,5 kg/pohon/tahun), MOP (1,5; 3,0; 4,5 kg/pohon/tahun), dan kiserit (0,75; 1,50; 2,25 kg/ pohon/tahun). Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pupuk urea dengan dosis 4,5 kg/pohon/tahun nyata meningkatkan produksi TBS dibandingkan dosis RP 1,5 kg/pohore/tahun. Pernberian pupuk N juga meningkatkann jumlah tandan/pohon dan pemberian pupuk P meningkatkan rata-rata bobot tandan, sedangkan pemberian pupuk K dan Mg tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap produksi. Pemberian pupuk N nyata menaikkan rata-rata kadar N pada tahun 1994-1997, namun pemberian pupuk P, K dan Mg tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap luas daun pada 1997. Status kadar hara pada tanah di daerah pengawasan pada semua perlakuan pemupukan menunjukkan tingkat yang terendah keeuali unsur hara N berada pada tingkat sedang. Dosis pupuk N,P,K, dan Mg, yang optimum untuk tanaman kelapa sawit umur 8-10 tahun pada macam tanah Typic Dystropept dalam penelitian ini berturut-turut adalah 3,0 kg/pohon/tahun dan 0, 75 kg kiserit/pohon/ tahun. | Degradasi β-karoten dari minyak sawit mentah oleh panas | | Sahidin, Sabirin Matsjeh, dan Eka Nuryanto |
Pada proses pembuatan minyak goreng dari minyak sawit mentah (MSM) kandungan senyawa β-karoten yang terdapat di dalamnya sengaja dihilangkan dengan menggunakan tanah pemucat. Penghilangan β-karoten ini dimaksudkan untuk memperoleh minyak goreng yang jernih dan menghindari terjadinya degradasi /3-karoten oleh panas pada saat minyak goreng tersebut digunakan untuk menggoreng. Senyawa B-karoten dapat terdegradasi oleh panas menghasilkan senyawa-senyawa yang mhdah dan tidak mudah mengarap. Untuk mengarnati senyawa-senyawa yang mudah menguap hasil degradasi B-karoten dilakukan dengan pemanasan β-karoten pada variasi suhu dan waktu pemanasan. Uap dari senyawa-senyawa ini dianalisis menggunakan kromatografi gas dan spektroskopi massa. Hasil penelilian menunjukkan bahwa degradasi β-karoten oleh panas menghasilkan 6 jenis senyawa mudah menguap yang utama, yaitu 2-metil heksana, 3-metil heksana, heptana, siklo-oktanona, toluena dan (orto, meta atau para) xilena. | Impregnasi kayu kelapa sawit menggunakan resin Pinus merkusii dan asam akrilat | | Purboyo Guritno, Basuki Wirjosentono, Erwinsyah, Mimpin Sitepu, dan Zulkarnain |
Kayu kelapa sawit yang tersedia secara terus-menerus dalam skala besar belum dimanfaatkan secara ekonomis sehubung dengan kualitasnya yang rendah, tidak homogen, dan mudah rusak oleh pengaruh cuaca dan serangan serangga. Dalam hal lain, resin yang dihasilkan dari pohon Pinus merkusii merupakan hasil samping industri kehutanan, dan telah dimanfaatkan dalam pengelolahan kayu untuk bangunan. Sehubung dengan tingginya sumber alternatif pengolahan kayu untuk bangunan. Dalam penelitian ini, kayu kelapa sawit diolah menggunakan reknik impregnasi dengan resin Pinus merkusii (RPM) dalarn berbagai pelarut dan konsentrasi untuk meningkatkan kualitas dan ketahanannya terhadap pengaruh cuaca dan serangga. Asam akrilat (AA) juga ditambahkan untuk meningkatkan interaksi antara matriks resin pengimpregnasi dengan permukaan serat kayu selama proses pemasakan woksida sebagai irtisiator. Karakteristik dari kavu kelapa sawit setelah impregnasi dengan kayu bangunan standar. | Evaluasi perkembangan penerimaan minyak sawit melalui harga bayangannya | Harga bayangan minyak sawit mentah didefinisikan sebagai harga terendah dari campuran minyak dengan komposisi asam lemak yang sama seperti minyak sawit. Premium didefinisikan sebagai perbedaan harga aktual dengan harga bayangan. Dalam kajian premium digunakan sebagai indikator penerimaan masyarakat dunia terhadap minyak sawit. Kajian ini mendapatkan bahwa dalam periode 1988-1999, penerimaan masyarakat dunia terhadap minyak sawit cenderung membaik Yang ditunjukkan oleh premium yang meningtat dengan laju sekitar US $ 9,9/ton/tahun. Pada 1997, terjadi kenaikan premium yang cukup besar yang disebabkan oleh berbagai temuan tentang keunggulan nutrisi minyak sawit dan besar yang disebabkan oleh berbagai temuan tentang keunggulan nutrisi minyak sawit dan kelemahan minyak lainnya serta dihentikannya kampanye anti minyak sawit. Namun pada tahun 1996-1997 dan 1998-1999, terjadi penurunan harga minyak sawit dengan US$ 50/ton.Oleh sebab itu, pengembangan kultur teknis dan teknologi industri yang ramah lingkungan serta promosinya adalah sama pentingnya dengan eksplorasi keunggulan nutrisi minyak sawit dan usaha-usaha penurunan biaya produksi. |
|
|
|
|
|