Pilihan Bahasa : 

Vol.7 No.3

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007

 

 

Vol. 7 No. 3

 


* Peranan mikoriza vesikuler-arbuskuler (MVA) dalam meningkatkan penyesuaian diri planlet kelapa sawit terhadap kondisi lingkungan tumbuh alami

* Pengembangan teknik differential scanning calorimetric untuk penentuan titik leleh dan titik kabut dari produk minyak sawit

* Optimasi proses gliserolisis enzimatik pada minyak sawit untuk meningkatkan hasil monogliserida

* Pembuatan alkil ester dari asam lemak sawit secara enzimatis

* Perubahan hubungan kausalitas Granger harga minyak kedelai-minyak sawit mentah

Peranan mikoriza vesikuler-arbuskuler (MVA) dalam meningkatkan penyesuaian diri planlet kelapa sawit terhadap kondisi lingkungan tumbuh alami
C. Schultz, Subronto, Sjafrul Latif, A. M. Moawad, dan P.L.G. Vlek

   Bahan tanaman kelapa sawit yang diperbanyak secara kultur jaringan harus terlebih dahulu diaklimatisasi sebelum dipindah ke lingkungan di luar tabung. Hal ini disebabkan planlet sangat peka terhadap perubahan lingkungan karena pertumbuhan akar dan daun yang kurang sempurna, serta belum terbentuk­nya lapisan lilin pada jaringan kutikula. Kematian planlet pada tahap aklimatisasi dapat mencapai 30-40 %. Untuk meningkatkan daya hidup planlet pada tahap ini dilakukan tiga percobaan. Planlet diinokulasi dengan 12 jenis MVA yang berbeda. Planlet di cabut setelah tiga bulan, pengamatan adanya kematian dilaku­kan dua kali seminggu. Inokulasi MVA ternyata dapat meningkat­kan daya hidup planlet. Dua jenis MVA dari genus Acaulospora merupakan MVA yang cocok dan efektif meningkatkan daya hidup planlet menjadi 91 % dibandingkan dengan tanpa inokulasi yang hanya 62 %. Pemupukan P bersifat sinergistik terhadap inokulasi MVA dan perlindungan planlet terhadap serangan patogen tular udara melalui penyungkupan dengan plastik dan penggunaan sunbag juga dapat meningkatkan persentase daya hidup planlet.

 

Pengembangan teknik differential scanning calorimetric untuk penentuan titik leleh dan titik kabut dari produk minyak sawit
Tri Haryati, Y.B. Che Man, dan Lalang Buana

   Teknik differential scanning calorimetric (DSC) telah dikembangkan untuk menentukan titik leleh (melting point, MP) dan titik kabut (cloud point, CP) dari produk-produk minyak sawit. Tiga tahap kajian yang telah dilakukan yaitu daya ulang pengamatan variabel DSC, pembentukan model dengan regresi bertatar (stepwise), dan verifikasi model menggunakan regresi linear. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MP dan CP, masing-masing dapat ditentukan menggunakan suhu “offset” pada termogram pemanasan dan suhu “onset” pada termogram pendinginan sebagai variabel penduga. Parameter offset dari termogram DSC dapat digunakan sebagai penduga MP dengan koefisien korelasi (r) 0,996, sedangkan parameter onset dapat digunakan untuk memprediksi CP dengan nilai r 0,956. Nilai variabilitas teknik DSC masing-masing adalah 0,274 dan 0,000. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan yang diperoleh dengan metode standar AOCS, yaitu 0,892 untuk MP dan 0,111 untuk CP. Oleh karena itu, penentuan MP maupun CP dengan teknik DSC lebih konsisten dibandingkan dengan metode standar. Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa teknik DSC dapat digunakan untuk menentukan MP dan CP dari produk minyak sawit yang merupakan salah satu usaha dalam mempersingkat waktu analisis.

 

Optimasi proses gliserolisis enzimatik pada minyak sawit untuk meningkatkan hasil monogliserida
Jenny Elisabeth, Angga Jatmika, dan O. P. Sitanggang

   Pengaruh faktor suhu dan kadar air dalam proses gliserolisis antara minyak sawit mentah (MSM), stearin minyak sawit, dan minyak inti sawit (MIS) dengan gliserol dipelajari dengan menggunakan lipase Lipozyme-IM sebagai biokatalisator. Kandungan MG dan DG tertinggi pada hasil gliserolisis MSM dan MIS diperoleh pada perlakuan suhu reaksi terprogram, yakni dengan penurunan suhu sebesar 10oC dari suhu reaksi awal setelah 24 jam reaksi. Untuk MSM digunakan suhu reaksi awal 50 oC dan MIS 40 oC. Hasil ini berhubungan dengan perbedaan titik cair yang dimiliki oleh masing-masing jenis fraksi gliserida. Dengan penurunan suhu sebesar 10oC, maka kesetimbangan reaksi akan bergeser dan mendorong proses hidrolisis trigliserida (TG) menjadi digliserida (DG) dan DG menjadi monogliserida (MG). Kandungan asam lemak bebas (ALB) pada produk gliserolisis juga meningkat dengan peningkat­an waktu reaksi. Hal ini mengindikasikan bahwa aktifitas lipase Lipozyme-IM relatif rendah dalam proses esterifikasi antara ALB dan gliserol. Kadar air dalam substrat juga berpengaruh terhadap kandungan MG dan DG dalam produk gliserolisis. Semakin tinggi kadar air dalam substrat maka kandungan MG dan DG cenderung semakin meningkat dan kandungan MG tertinggi terdapat pada perlakuan kadar air 12 %.

 

Pembuatan alkil ester dari asam lemak sawit secara enzimatis
Tjahjono Herawan dan Jenny Elisabeth

   Alkil ester sebagai bahan baku kosmetik telah dibuat dari asam lemak sawit dengan menggunakan proses enzimatik. Dengan menggunakan proses ini dapat menghasilkan produk yang lebih murni, aman, dan juga hemat energi dibandingkan dengan proses kimia. Dua jenis alkohol yang digunakan adalah butanol dan isopropanol dan diesterifikasi dengan asam lemak sawit dengan perbandingan molar 2:1. Komposisi asam lemak dari asam lemak sawit yang digunakan adalah C16:0 52,3%, C16:1 6,3%, C18:0 33,9% and C18:1 7,5%. Jenis lipase yang digunakan sebagai biokatalis pada reaksi ini adalah lipase Rhizomucor miehei (Lipozyme-IM), Candida antartica (Novozym-435), dedak padi, dan getah pepaya (Carica papaya latex). Campuran diinkubasi pada orbital shaker pada suhu of 50oC selama 24 jam dan putaran 250 rpm. Kandungan asam lemak dan konversi ester dianalisis. Lipozyme-IM adalah katalis yang terbaik untuk sintesis butil ester atau isopropil ester asam lemak. Konversi butil ester atau isopropil ester dengan menggunakan Lipozyme-IM berturut-turut adalah 90,7% dan 80,4%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa seluruh lipase yang digunakan mempunyai spesifisitas yang tinggi pada alkohol primer dibandingkan dengan alkohol sekunder. Dengan menggunakan Lipozyme-IM sebagai biokatalis, konversi alkil ester tersebut meningkat pada saat perbandingan molar alkohol dan asam lemak sawit dinaikkan. Suhu dan waktu reaksi juga mem­pengaruhi proses esterifikasi. Konversi butil ester hampir sama pada suhu reaksi 40, 50 dan 60 oC, namun laju reaksi awal sedikit meningkat bergantung pada peningkatan suhu. Konversi butil ester mencapai 96,4% dalam waktu 6 jam dan suhu 40 oC. Pada kondisi yang sama, konversi isopropil ester hanya mencapai 42,7%. Konversi alkil ester tidak meningkat pada saat perbandingan molar alkohol dan asam lemak sawit ditingkatkan dari 4:1menjadi 5:1. Konversi butil ester maksimum adalah 98,4% pada kondisi suhu optimum 50 oC dan waktu reaksi 6 jam, sedangkan isopropil ester adalah 87,4% pada suhu 50 oC dan 72 jam.

 

Perubahan hubungan kausalitas Granger harga minyak kedelai-minyak sawit mentah
Lalang Buana

   Perkembangan teknologi, penerimaan minyak sawit mentah oleh konsumen, dan perubahan global perdagangan dapat mengubah hubungan harga minyak kelapa sawit dengan minyak kedelai. Kajian ini menunjukkan bahwa kausalitas Granger minyak sawit minyak kedelai telah berubah. Dalam kurun Januari 1983-Februari 1989, harga salah satu minyak tidak mendahului harga minyak lainnya dalam interval waktu 18 bulan. Namun, dalam kurun Mei 1989 - Juli 1995 ditemukan bahwa untuk interval waktu satu sampai delapan bulan, harga minyak sawit mentah mendahului harga minyak kedelai sekarang. Perubahan ini juga mengindikasikan bahwa kedua kurun waktu tersebut mempunyai situasi perdagangan yang berbeda. Adanya hubungan kausalitas menunjukkan bahwa minyak sawit mentah dan minyak kedelai lebih saling bergantung dari masa sebelumnya dan minyak sawit mempunyai kekuatan ekonomi yang lebih tinggi di pasar minyak nabati dunia.
 

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 332
  • Unique Visitor: 139
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.99
  • Since: 2010-01-10