| C. Schultz, Subronto, Sjafrul Latif, A. M. Moawad, dan P.L.G. Vlek |
Bahan tanaman kelapa sawit yang diperbanyak secara kultur jaringan harus terlebih dahulu diaklimatisasi sebelum dipindah ke lingkungan di luar tabung. Hal ini disebabkan planlet sangat peka terhadap perubahan lingkungan karena pertumbuhan akar dan daun yang kurang sempurna, serta belum terbentuknya lapisan lilin pada jaringan kutikula. Kematian planlet pada tahap aklimatisasi dapat mencapai 30-40 %. Untuk meningkatkan daya hidup planlet pada tahap ini dilakukan tiga percobaan. Planlet diinokulasi dengan 12 jenis MVA yang berbeda. Planlet di cabut setelah tiga bulan, pengamatan adanya kematian dilakukan dua kali seminggu. Inokulasi MVA ternyata dapat meningkatkan daya hidup planlet. Dua jenis MVA dari genus Acaulospora merupakan MVA yang cocok dan efektif meningkatkan daya hidup planlet menjadi 91 % dibandingkan dengan tanpa inokulasi yang hanya 62 %. Pemupukan P bersifat sinergistik terhadap inokulasi MVA dan perlindungan planlet terhadap serangan patogen tular udara melalui penyungkupan dengan plastik dan penggunaan sunbag juga dapat meningkatkan persentase daya hidup planlet.
| Pengembangan teknik differential scanning calorimetric untuk penentuan titik leleh dan titik kabut dari produk minyak sawit | | Tri Haryati, Y.B. Che Man, dan Lalang Buana |
Teknik differential scanning calorimetric (DSC) telah dikembangkan untuk menentukan titik leleh (melting point, MP) dan titik kabut (cloud point, CP) dari produk-produk minyak sawit. Tiga tahap kajian yang telah dilakukan yaitu daya ulang pengamatan variabel DSC, pembentukan model dengan regresi bertatar (stepwise), dan verifikasi model menggunakan regresi linear. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MP dan CP, masing-masing dapat ditentukan menggunakan suhu “offset” pada termogram pemanasan dan suhu “onset” pada termogram pendinginan sebagai variabel penduga. Parameter offset dari termogram DSC dapat digunakan sebagai penduga MP dengan koefisien korelasi (r) 0,996, sedangkan parameter onset dapat digunakan untuk memprediksi CP dengan nilai r 0,956. Nilai variabilitas teknik DSC masing-masing adalah 0,274 dan 0,000. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan yang diperoleh dengan metode standar AOCS, yaitu 0,892 untuk MP dan 0,111 untuk CP. Oleh karena itu, penentuan MP maupun CP dengan teknik DSC lebih konsisten dibandingkan dengan metode standar. Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa teknik DSC dapat digunakan untuk menentukan MP dan CP dari produk minyak sawit yang merupakan salah satu usaha dalam mempersingkat waktu analisis.
| Optimasi proses gliserolisis enzimatik pada minyak sawit untuk meningkatkan hasil monogliserida | | Jenny Elisabeth, Angga Jatmika, dan O. P. Sitanggang |
Pengaruh faktor suhu dan kadar air dalam proses gliserolisis antara minyak sawit mentah (MSM), stearin minyak sawit, dan minyak inti sawit (MIS) dengan gliserol dipelajari dengan menggunakan lipase Lipozyme-IM sebagai biokatalisator. Kandungan MG dan DG tertinggi pada hasil gliserolisis MSM dan MIS diperoleh pada perlakuan suhu reaksi terprogram, yakni dengan penurunan suhu sebesar 10oC dari suhu reaksi awal setelah 24 jam reaksi. Untuk MSM digunakan suhu reaksi awal 50 oC dan MIS 40 oC. Hasil ini berhubungan dengan perbedaan titik cair yang dimiliki oleh masing-masing jenis fraksi gliserida. Dengan penurunan suhu sebesar 10oC, maka kesetimbangan reaksi akan bergeser dan mendorong proses hidrolisis trigliserida (TG) menjadi digliserida (DG) dan DG menjadi monogliserida (MG). Kandungan asam lemak bebas (ALB) pada produk gliserolisis juga meningkat dengan peningkatan waktu reaksi. Hal ini mengindikasikan bahwa aktifitas lipase Lipozyme-IM relatif rendah dalam proses esterifikasi antara ALB dan gliserol. Kadar air dalam substrat juga berpengaruh terhadap kandungan MG dan DG dalam produk gliserolisis. Semakin tinggi kadar air dalam substrat maka kandungan MG dan DG cenderung semakin meningkat dan kandungan MG tertinggi terdapat pada perlakuan kadar air 12 %.
| Pembuatan alkil ester dari asam lemak sawit secara enzimatis | | Tjahjono Herawan dan Jenny Elisabeth |
Alkil ester sebagai bahan baku kosmetik telah dibuat dari asam lemak sawit dengan menggunakan proses enzimatik. Dengan menggunakan proses ini dapat menghasilkan produk yang lebih murni, aman, dan juga hemat energi dibandingkan dengan proses kimia. Dua jenis alkohol yang digunakan adalah butanol dan isopropanol dan diesterifikasi dengan asam lemak sawit dengan perbandingan molar 2:1. Komposisi asam lemak dari asam lemak sawit yang digunakan adalah C16:0 52,3%, C16:1 6,3%, C18:0 33,9% and C18:1 7,5%. Jenis lipase yang digunakan sebagai biokatalis pada reaksi ini adalah lipase Rhizomucor miehei (Lipozyme-IM), Candida antartica (Novozym-435), dedak padi, dan getah pepaya (Carica papaya latex). Campuran diinkubasi pada orbital shaker pada suhu of 50oC selama 24 jam dan putaran 250 rpm. Kandungan asam lemak dan konversi ester dianalisis. Lipozyme-IM adalah katalis yang terbaik untuk sintesis butil ester atau isopropil ester asam lemak. Konversi butil ester atau isopropil ester dengan menggunakan Lipozyme-IM berturut-turut adalah 90,7% dan 80,4%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa seluruh lipase yang digunakan mempunyai spesifisitas yang tinggi pada alkohol primer dibandingkan dengan alkohol sekunder. Dengan menggunakan Lipozyme-IM sebagai biokatalis, konversi alkil ester tersebut meningkat pada saat perbandingan molar alkohol dan asam lemak sawit dinaikkan. Suhu dan waktu reaksi juga mempengaruhi proses esterifikasi. Konversi butil ester hampir sama pada suhu reaksi 40, 50 dan 60 oC, namun laju reaksi awal sedikit meningkat bergantung pada peningkatan suhu. Konversi butil ester mencapai 96,4% dalam waktu 6 jam dan suhu 40 oC. Pada kondisi yang sama, konversi isopropil ester hanya mencapai 42,7%. Konversi alkil ester tidak meningkat pada saat perbandingan molar alkohol dan asam lemak sawit ditingkatkan dari 4:1menjadi 5:1. Konversi butil ester maksimum adalah 98,4% pada kondisi suhu optimum 50 oC dan waktu reaksi 6 jam, sedangkan isopropil ester adalah 87,4% pada suhu 50 oC dan 72 jam.
| Perubahan hubungan kausalitas Granger harga minyak kedelai-minyak sawit mentah | Perkembangan teknologi, penerimaan minyak sawit mentah oleh konsumen, dan perubahan global perdagangan dapat mengubah hubungan harga minyak kelapa sawit dengan minyak kedelai. Kajian ini menunjukkan bahwa kausalitas Granger minyak sawit minyak kedelai telah berubah. Dalam kurun Januari 1983-Februari 1989, harga salah satu minyak tidak mendahului harga minyak lainnya dalam interval waktu 18 bulan. Namun, dalam kurun Mei 1989 - Juli 1995 ditemukan bahwa untuk interval waktu satu sampai delapan bulan, harga minyak sawit mentah mendahului harga minyak kedelai sekarang. Perubahan ini juga mengindikasikan bahwa kedua kurun waktu tersebut mempunyai situasi perdagangan yang berbeda. Adanya hubungan kausalitas menunjukkan bahwa minyak sawit mentah dan minyak kedelai lebih saling bergantung dari masa sebelumnya dan minyak sawit mempunyai kekuatan ekonomi yang lebih tinggi di pasar minyak nabati dunia. |
|
|
|
|