Pilihan Bahasa : 

Vol.7 No.2

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007

 

 

Vol. 7 No. 2

 

* Pendugaan laju respirasi dan turnover akar kelapa sawit tipe tenera asal semaian

* Pendugaan kebutuhan air untuk pertumbuhan kelapa sawit di lapang dan aplikasinya dalam pengembangan sistem irigasi

* Pemanfaatan tandan kosong sawit sebagai perangkap Oryctes rhinoceros (L.) di perkebunan kelapa sawit

* Sintesis senyawa dioksolan dari asam lemak sawit distilat

* Analisis permintaan input variabel dalam usahatani kelapa sawit untuk mencapai efisiensi ekonomis di PIR Lokal Partimbalan Sumatera Utara

Pendugaan laju respirasi dan turnover akar kelapa sawit tipe tenera asal semaian
Indra Eko Setiyo, Amir Purba, dan E. Lamade

   Kelangkaan data fisiologi karbon terutama laju respirasi dan turnover akar kelapa sawit bisa menjadi kendala bagi pengembangan model simulasi pertumbuhan dan hasil secara luas. Salah satu metode penentuan besarnya kedua proses tersebut adalah dengan menganalisis aliran karbondioksida(CO2) dari sistem tanah atau lazim disebut respirasi tanah. Dengan memadukan teknik pengukuran di lapangan dan di laboratorium dapat diperkirakan laju respirasi akar. Kemudian, dengan model neraca ekosistem karbon diduga jumlah alokasi karbon untuk turnover akar. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok dua faktor: bahan tanaman (2 taraf) dan letak peng­ukuran (4 taraf). Bahan tanaman yang digunakan berumur 9 tahun sesudah tanam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa peubah respirasi tanah dan respirasi akar berbeda nyata hanya menurut perbedaan letak pengukuran. Pada tanggal pengamatan tertentu ditemukan hubungan linier positif dan nyata antara suhu tanah dan respirasi tanah. Ada kecendrungan laju respirasi akar tanaman DxP La Me lebih tinggi dari pada Bah Jambi. Karbon total yang dikeluarkan dari permukaan tanah diduga antara 49,1 - 50,8 ton CO2 ha-1 th-1, dengan proporsi untuk respirasi dan turnover akar berturut-turut 0,60 - 0,90 dan 0,01 - 0,27.

 

Pendugaan kebutuhan air untuk pertumbuhan kelapa sawit di lapang dan aplikasinya dalam pengembangan sistem irigasi
Iman Yani Harahap dan Witjaksana Darmosarkoro

   Untuk mengetahui kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman di lapang maka telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan nilai koefisien tanaman (kc) pada berbagai umur tanaman. Dari nilai kc tersebut kemudian akan ditentukan kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman. Informasi kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman tersebut akan digunakan sebagai dasar perencanaan pengembangan sistem irigasi pada pertanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). Pelaksanaan penelitian meliputi (1) pengukuran kehilangan air pada sistem pertanaman kelapa sawit baik melalui tajuk tanaman (transpirasi), maupun melalui permukaan tanah (evaporasi), (2) pengukuran indeks luas daun pada berbagai umur tanaman, dan (3) perhitungan nilai evapotranspirasi referensi. Pengukuran kehilangan air pada sistem pertanaman dilakukan pada kelapa sawit (umur 6 - 7 tahun), dengan LAI berkisar 4,9 - 5,1, Lokasi penelitian di kebun Bah Jambi, Simalungun, Sumatera Utara, yang bertipe iklim Af (klasifikasi Koppen), yang merupakan wilayah tanpa defisit air. Untuk mendapat gambaran aplikasi pendugaan kebutuhan air tanaman dalam pengembangan sistem irigasi, maka diskenariokan pengembangan sistem irigasi dilaku­kan di wilayah Lampung. Hasil penelitian menunjukkan koefisien tanaman (kc) kelapa sawit berkisar antara 0,82 pada (LAI< 2) sampai 0,93 (LAI> 5). Dengan nilai kc tersebut dapat ditentukan kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit di lapang. Hasil perhitungan bahwa kebutuhan air untuk pertumbuhan kelapa sawit di lapang berkisar antara 4 - 4,65 mm hari-1 atau sekitar 120 - 140 mm bulan-1. Skenario pengembang­an irigasi di wilayah Lampung menunjukkan bahwa pemberian air melalui sistem irigasi secara umum harus dilakukan pada akhir Juli sampai akhir Oktober. Air yang di butuhkan sistem irigasi saluran terbuka berkisar antara 1.960 - 2.460 m3 ha-1 bulan-1 , dengan puncaknya pada Agustus (2.460 m3 ha-1 bulan-1 ). Sedangkan air yang dibutuhkan sistem irigasi tertutup (sprinkler dan drip) berkisar antara 1570 - 1970 m3 ha-1 bulan-1 , dengan puncaknya pada Agustus (1.970 m3 ha-1 bulan-1 ). Jarak waktu antar pemberian adalah 19 hari.

Pemanfaatan tandan kosong sawit sebagai perangkap Oryctes rhinoceros (L.) di perkebunan kelapa sawit
Rolettha Y. Purba, Sudharto Prawirosukarto, dan R. Desmier de Chenon

   Tandan kosong sawit (TKS) merupakan salah satu limbah padat yang utama pada pabrik kelapa sawit. Sesuai dengan Surat Menteri Pertanian No : KB 550/286/Mentan/VII/1997, maka pembakaran TKS, yang biasa diterapkan di perkebunan kelapa sawit, tidak dapat dilakukan lagi karena menimbulkan polusi udara. Pada saat ini, TKS umumnya dimanfaatkan sebagai mulsa pada pertanaman kelapa sawit untuk memperbaiki kondisi fisik dan kimia tanah. Limbah padat tersebut ternyata dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan penarik untuk memerangkap hama penggerek pucuk kelapa sawit Oryctes rhinoceros. Studi daya tarik TKS terhadap O. rhinoceros telah dilakukan, baik di labo­ra­to­rium maupun di lapang. Hasilnya menunjukkan bahwa tandan kosong sawit berumur 2 hari hingga 8 minggu sangat atraktif bagi kumbang O. rhinoceros dan menjadi tempat berkembang bagi seluruh stadia serangga hama tersebut. Seluruh stadia dari O. rhinoceros dapat diperangkap dengan TKS. Dengan cara ini pengendalian menjadi lebih terarah dan dapat dilakukan lebih dini, sehingga lebih berhasil guna.

 

Sintesis senyawa dioksolan dari asam lemak sawit distilat
Renni Yuliasari, Tjahjono Herawan, dan Eka Nuryanto

   Asam lemak sawit distilat merupakan hasil samping proses fraksinasi minyak sawit yang jumlahnya sekitar 2,5 - 3,5% dari jumlah minyak sawit mentah yang diolah. Asam lemak sawit distilat mengandung sekitar 50 % asam lemak sawit tidak jenuh. Asam lemak sawit tidak jenuh ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan dioksolan. Dioksolan dapat disintesis dengan cara epoksidasi asam lemak sawit tidak jenuh, epoksi yang terbentuk selanjutnya direaksikan dengan aseton. Hasil penelitian me­nunjuk­kan bahwa reaksi dioksolanisasi epoksi metil stearat dengan aseton optimum pada perbandingan mol sebesar 1 : 1 dengan menggunakan BF3 sebagai katalis sebesar 10 % (b/b). Dioksolan yang dihasilkan tersebut mempunyai oksiran oksigen sebesar 0,007%. Hasil analisis kromatografi lapis tipis menunjuk­­kan bahwa dioksolan mempunyai nilai Rf sebesar 0,71 dan hasil analisis infra red spectroscopy menunjukkan bahwa dioksolan muncul pada puncak (peak) 1100 cm-.1. Reaksi dioksolanisasi tersebut menghasilkan dioksolan sebesar 22,69%.

 

Analisis permintaan input variabel dalam usahatani kelapa sawit untuk mencapai efisiensi ekonomis di PIR Lokal Partimbalan Sumatera Utara
Teguh Wahyono

   Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) yang diterapkan di Indonesia ditujukan untuk mencapai pemerataan pembangunan dengan menempatkan rakyat kecil menjadi pemilik usahatani. Penelitian ini diarahkan untuk menilai kemampuan petani plasma dalam mengelola usahatani kelapa sawit (Elaeis guineensis) sehingga efisiensi ekonomis dapat dicapai. Penelitian ini ber­tujuan untuk mengkaji tingkat permintaan input variabel, terutama tenaga kerja dan pupuk, sehingga biaya produksi dapat diminimalkan. Kegiatan penelitian dilaksanakan di proyek PIR-Lokal Partimbalan Sumatera Utara. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier ganda pada fungsi biaya (cost function). Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani peserta PIR-Lokal tidak berhasil mencapai efisiensi ekonomis.
 

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 320
  • Unique Visitor: 136
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.97
  • Since: 2010-01-10