| Indra Eko Setiyo, Amir Purba, dan E. Lamade |
Kelangkaan data fisiologi karbon terutama laju respirasi dan turnover akar kelapa sawit bisa menjadi kendala bagi pengembangan model simulasi pertumbuhan dan hasil secara luas. Salah satu metode penentuan besarnya kedua proses tersebut adalah dengan menganalisis aliran karbondioksida(CO2) dari sistem tanah atau lazim disebut respirasi tanah. Dengan memadukan teknik pengukuran di lapangan dan di laboratorium dapat diperkirakan laju respirasi akar. Kemudian, dengan model neraca ekosistem karbon diduga jumlah alokasi karbon untuk turnover akar. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok dua faktor: bahan tanaman (2 taraf) dan letak pengukuran (4 taraf). Bahan tanaman yang digunakan berumur 9 tahun sesudah tanam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa peubah respirasi tanah dan respirasi akar berbeda nyata hanya menurut perbedaan letak pengukuran. Pada tanggal pengamatan tertentu ditemukan hubungan linier positif dan nyata antara suhu tanah dan respirasi tanah. Ada kecendrungan laju respirasi akar tanaman DxP La Me lebih tinggi dari pada Bah Jambi. Karbon total yang dikeluarkan dari permukaan tanah diduga antara 49,1 - 50,8 ton CO2 ha-1 th-1, dengan proporsi untuk respirasi dan turnover akar berturut-turut 0,60 - 0,90 dan 0,01 - 0,27.
| Pendugaan kebutuhan air untuk pertumbuhan kelapa sawit di lapang dan aplikasinya dalam pengembangan sistem irigasi | | Iman Yani Harahap dan Witjaksana Darmosarkoro |
Untuk mengetahui kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman di lapang maka telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan nilai koefisien tanaman (kc) pada berbagai umur tanaman. Dari nilai kc tersebut kemudian akan ditentukan kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman. Informasi kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman tersebut akan digunakan sebagai dasar perencanaan pengembangan sistem irigasi pada pertanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). Pelaksanaan penelitian meliputi (1) pengukuran kehilangan air pada sistem pertanaman kelapa sawit baik melalui tajuk tanaman (transpirasi), maupun melalui permukaan tanah (evaporasi), (2) pengukuran indeks luas daun pada berbagai umur tanaman, dan (3) perhitungan nilai evapotranspirasi referensi. Pengukuran kehilangan air pada sistem pertanaman dilakukan pada kelapa sawit (umur 6 - 7 tahun), dengan LAI berkisar 4,9 - 5,1, Lokasi penelitian di kebun Bah Jambi, Simalungun, Sumatera Utara, yang bertipe iklim Af (klasifikasi Koppen), yang merupakan wilayah tanpa defisit air. Untuk mendapat gambaran aplikasi pendugaan kebutuhan air tanaman dalam pengembangan sistem irigasi, maka diskenariokan pengembangan sistem irigasi dilakukan di wilayah Lampung. Hasil penelitian menunjukkan koefisien tanaman (kc) kelapa sawit berkisar antara 0,82 pada (LAI< 2) sampai 0,93 (LAI> 5). Dengan nilai kc tersebut dapat ditentukan kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit di lapang. Hasil perhitungan bahwa kebutuhan air untuk pertumbuhan kelapa sawit di lapang berkisar antara 4 - 4,65 mm hari-1 atau sekitar 120 - 140 mm bulan-1. Skenario pengembangan irigasi di wilayah Lampung menunjukkan bahwa pemberian air melalui sistem irigasi secara umum harus dilakukan pada akhir Juli sampai akhir Oktober. Air yang di butuhkan sistem irigasi saluran terbuka berkisar antara 1.960 - 2.460 m3 ha-1 bulan-1 , dengan puncaknya pada Agustus (2.460 m3 ha-1 bulan-1 ). Sedangkan air yang dibutuhkan sistem irigasi tertutup (sprinkler dan drip) berkisar antara 1570 - 1970 m3 ha-1 bulan-1 , dengan puncaknya pada Agustus (1.970 m3 ha-1 bulan-1 ). Jarak waktu antar pemberian adalah 19 hari. | Pemanfaatan tandan kosong sawit sebagai perangkap Oryctes rhinoceros (L.) di perkebunan kelapa sawit | | Rolettha Y. Purba, Sudharto Prawirosukarto, dan R. Desmier de Chenon |
Tandan kosong sawit (TKS) merupakan salah satu limbah padat yang utama pada pabrik kelapa sawit. Sesuai dengan Surat Menteri Pertanian No : KB 550/286/Mentan/VII/1997, maka pembakaran TKS, yang biasa diterapkan di perkebunan kelapa sawit, tidak dapat dilakukan lagi karena menimbulkan polusi udara. Pada saat ini, TKS umumnya dimanfaatkan sebagai mulsa pada pertanaman kelapa sawit untuk memperbaiki kondisi fisik dan kimia tanah. Limbah padat tersebut ternyata dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan penarik untuk memerangkap hama penggerek pucuk kelapa sawit Oryctes rhinoceros. Studi daya tarik TKS terhadap O. rhinoceros telah dilakukan, baik di laboratorium maupun di lapang. Hasilnya menunjukkan bahwa tandan kosong sawit berumur 2 hari hingga 8 minggu sangat atraktif bagi kumbang O. rhinoceros dan menjadi tempat berkembang bagi seluruh stadia serangga hama tersebut. Seluruh stadia dari O. rhinoceros dapat diperangkap dengan TKS. Dengan cara ini pengendalian menjadi lebih terarah dan dapat dilakukan lebih dini, sehingga lebih berhasil guna.
| Sintesis senyawa dioksolan dari asam lemak sawit distilat | | Renni Yuliasari, Tjahjono Herawan, dan Eka Nuryanto |
Asam lemak sawit distilat merupakan hasil samping proses fraksinasi minyak sawit yang jumlahnya sekitar 2,5 - 3,5% dari jumlah minyak sawit mentah yang diolah. Asam lemak sawit distilat mengandung sekitar 50 % asam lemak sawit tidak jenuh. Asam lemak sawit tidak jenuh ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan dioksolan. Dioksolan dapat disintesis dengan cara epoksidasi asam lemak sawit tidak jenuh, epoksi yang terbentuk selanjutnya direaksikan dengan aseton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi dioksolanisasi epoksi metil stearat dengan aseton optimum pada perbandingan mol sebesar 1 : 1 dengan menggunakan BF3 sebagai katalis sebesar 10 % (b/b). Dioksolan yang dihasilkan tersebut mempunyai oksiran oksigen sebesar 0,007%. Hasil analisis kromatografi lapis tipis menunjukkan bahwa dioksolan mempunyai nilai Rf sebesar 0,71 dan hasil analisis infra red spectroscopy menunjukkan bahwa dioksolan muncul pada puncak (peak) 1100 cm-.1. Reaksi dioksolanisasi tersebut menghasilkan dioksolan sebesar 22,69%.
| Analisis permintaan input variabel dalam usahatani kelapa sawit untuk mencapai efisiensi ekonomis di PIR Lokal Partimbalan Sumatera Utara | Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) yang diterapkan di Indonesia ditujukan untuk mencapai pemerataan pembangunan dengan menempatkan rakyat kecil menjadi pemilik usahatani. Penelitian ini diarahkan untuk menilai kemampuan petani plasma dalam mengelola usahatani kelapa sawit (Elaeis guineensis) sehingga efisiensi ekonomis dapat dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat permintaan input variabel, terutama tenaga kerja dan pupuk, sehingga biaya produksi dapat diminimalkan. Kegiatan penelitian dilaksanakan di proyek PIR-Lokal Partimbalan Sumatera Utara. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier ganda pada fungsi biaya (cost function). Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani peserta PIR-Lokal tidak berhasil mencapai efisiensi ekonomis. |
|
|
|
|