| Subronto, Fadzri Purnomo, dan Sjafrul Latif |
Bibit kelapa sawit yang berasal dari perbanyakan secara in-vitro sangat membutuhkan kelembaban yang tinggi, termasuk juga kelembaban tanah dalam pertumbuhannya. Untuk memberi suasana kelembaban tanah yang tinggi maka ketersediaan air tanah harus dipenuhi. Suatu percobaan pemakaian bahan pengikat air masing-masing 0,05; 0,1; 0,15 dan 0,2 % yang dikombinasikan dengan kekerapan penyiraman; 1, 2, 4 dan 7 hari sekali, telah dilakukan pada tanaman kelapa sawit hasil perbanyakan secara in-vitro di Balai Penelitian Marihat, Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan pengikat air 0,15 % memberikan kadar air tanah yang sama seperti penyiraman dua kali sehari tanpa penambahan bahan pengikat air (kontrol). Hal ini berarti kehilangan air akibat evaporasi setara dengan air yang dapat diikat oleh 0,15 % bahan pengikat air yang ditambahkan ke dalam media pembibitan. Jumlah daun planlet kelapa sawit tidak menunjukkan adanya perbedaan sampai kekerapan penyiraman empat hari sekali pada konsentrasi bahan pengikat air 0,1 %.
| Pemupukan N, P, K, dan Mg untuk tanaman kelapa sawit pada lahan gambut | | Sugiyono, R. Sukarji, dan Edy Sigit Sutarta |
Dengan semakin terbatasnya lahan mineral yang sesuai untuk budidaya kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), maka pemanfaatan lahan gambut menjadi salah satu pilihan bagi perluasan areal kelapa sawit di masa mendatang. Lahan gambut mempunyai sifat kimia yang berbeda dengan lahan mineral, sehingga membutuhkan dosis pupuk N, P, K, dan Mg optimum yang juga berbeda untuk kelapa sawit. Penelitian pemupukan faktorial 34 N, P, K, Mg dengan kombinasi perlakuan 0; 1,5; 3,0 kg urea/pohon/ tahun, 0; 1,5; 3,0 kg TSP/pohon/tahun, 0; 2,0; 4,0 kg KCI/pohon/ tahun, dan 0; 1 ,25; 2, 50 kg dolomit/pohon/tahun dilakukan pada tanaman kelapa sawit tahun tanam 1992 di tanah gambut kebun Sei Tampang, PT. Cisadane Sawit Raya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk N berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah tandan, bobot tandan, dan produksi tandan buah segar. Pemberian pupuk P dan K hanya berpengaruh nyata terhadap peningkatan bobot tandan dan produksi tandan buah segar pada tahun 1997, sedangkan pemupukan Mg tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah tandan, bobot tandan, serta produksi tandan buah segar. Respon tanaman kelapa sawit yang baik terhadap pemupukan N, P, dan K tersebut antara lain disebabkan oleh nisbah C/N tanah gambut yang masih terlalu tinggi, serta kadar P tersedia dan K dapat dipertukarkan pada tanah gambut yang relatif tergolong rendah.
| Penggunaan asam lemak sawit sebagai bahan baku superpalmamida | | Tjahjono Herawan, Eka Nuryanto, dan Purboyo Guritno |
Superamida telah disintesis dari minyak nabati maupun hewani. Namun sampai saat ini tidak ada satupun yang melaporkan penggunaan minyak sawit atau turunannya sebagai bahan baku superamida. Minyak sawit atau asam lemak sawit mempunyai potensi sebagai bahan baku superamida, karena mengandung rantai karbon C12 - C18. Secara ekonomis sangat menguntungkan apabila asam lemak sawit distilat, yang merupakan produk samping pada industri pemurnian minyak sawit, dapat digunakan sebagai bahan baku superamida. Pusat Penelitian Kelapa Sawit telah mensintesis superamida dari asam lemak sawit distilat sebagai bahan bakunya dan produk yang dihasilkan dinamakan superpalmamida. Pembuatan superpalmamida dilakukan dengan cara mereaksikan asam lemak sawit dengan dietanolamina dengan perbandingan molar yang sama dalam reaktor gelas menggunakan berbagai variasi konsentrasi katalis kimia basa (0 %, 5 % dan 10 % b/b) pada suhu 150 0 C. Perolehan optimum (95 %) terjadi pada penambahan katalis 10 % b/b dan waktu reaksi 5 jam. Analisis sifat fisika dan kimia menunjukkan bahwa superpalmamida kasar memiliki bilangan asam 2,81 mg KOH/g, bilangan penyabunan 59,72 mg KOH/g, titik leleh 40 0C, larut dalam air, larut dalam beberapa pelarut organik seperti metanol dan etanol, sedikit larut dalam heksan, dan tidak larut dalam aseton maupun propanol.
| Sintesis minyak sawit merah kaya asam lemak omega-3 dengan metode asidolisis enzimatik | | Jenny Elisabeth, Angga Jatmika, dan Krismawati Sinaga |
Pada penelitian ini dilakukan asidolisis antara konsentrat asam lemak omega-3 (n-3) dari minyak ikan tuna dan minyak sawit merah (MSM) dengan lipase Lipozyme-IM dan dedak padi sebagai biokatalisator. Produk MSM kaya asam lemak n-3 yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan nutrifikan makanan atau farmasi, yang selain kaya asam lemak n-3 juga dapat digunakan sebagai sumber provitamin A dan vitamin E. Inkorporasi asam lemak n-3 diikuti dengan penurunan konsentrasi asam lemak jenuh dan monoenoat dari MSM, terutama C16:0 dan C18:1. Peningkatan rasio substrat, yakni rasio konsentrat asam lemak n-3 dan MSM, dapat meningkatkan inkorporasi asam lemak n-3, tetapi rasio optimum adalah 2:1 (b/b) karena penggunaan rasio substrat yang tinggi berdampak pada peningkatan biaya produksi. Pada produk MSM termodifikasi dengan lipase dedak padi terkandung EPA (eicosapentaenoic acid: C20:5) dan DHA (docosahexaenoic acid: C22:6) masing-masing7,2 % dan 37,9 %, sedangkan dengan Lipozyme-IM 6,2 % dan 36,1 %. Dengan proses asidolisis enzimatik, kandungan B-karoten dalam MSM dapat dipertahankan lebih dari 65 %, sedangkan kandungan vitamin E dapat mencapai lebih dari 1000 ppm karena tokoferol minyak ikan juga terekstraksi di dalam produk.
| Aplikasi sistem pakar untuk pengawasan mutu minyak sawit mentah pada pabrik pengolahan kelapa sawit | | Purboyo Guritno, Angga Jatmika, dan Diwan Prima Ariana |
Situasi pasar yang dihadapi minyak sawit Indonesia pada masa yang akan datang adalah situasi pasar dengan tingkat kompetisi yang makin ketat sehingga diperlukan minyak sawit mentah yang bermutu tinggi. Faktor yang mempengaruhi mutu minyak sawit mentah dalam proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi minyak sawit mentah adalah kadar air, impurities, dan asam lemak bebas. Tujuan penelitian ini untuk membantu praktisi pengolahan kelapa sawit dalam mengawasi mutu minyak sawit mentah melalui penerapan sistem pakar. Sistem pakar hasil penelitian ini (EXSPalm la) dirancang untuk membatu proses analisis terhadap permasalahan yang timbul selama proses pengolahan kelapa sawit. Proses analisis tersebut bersifat interaktif sehingga pengguna dapat berkonsultasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi mutu minyak sawit mentah. |
|
|
|
|