Pilihan Bahasa : 

Vol.7 No.1

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007

 

Vol. 7 No. 1

 


* Respon planlet kelapa sawit terhadap penambahan bahan pengikat air dan kekerapan penyiraman

* Pemupukan N, P, K, dan Mg untuk tanaman kelapa sawit pada lahan gambut

* Penggunaan asam lemak sawit sebagai bahan baku superpalmamida

* Sintesis minyak sawit merah kaya asam lemak omega-3 dengan metode asidolisis enzimatik

* Aplikasi sistem pakar untuk pengawasan mutu minyak sawit mentah pada pabrik pengolahan kelapa sawit

Respon planlet kelapa sawit terhadap penambahan bahan pengikat air dan kekerapan penyiraman
Subronto, Fadzri Purnomo, dan Sjafrul Latif

Bibit kelapa sawit yang berasal dari perbanyakan secara in-vitro sangat membutuhkan kelembaban yang tinggi, termasuk juga kelembaban tanah dalam pertumbuhannya. Untuk memberi suasana kelembaban tanah yang tinggi maka ketersediaan air tanah harus dipenuhi. Suatu percobaan pemakaian bahan pengikat air masing-masing 0,05; 0,1; 0,15 dan 0,2 % yang dikombinasikan dengan kekerapan penyiraman; 1, 2, 4 dan 7 hari sekali, telah dilakukan pada tanaman kelapa sawit hasil perbanyakan secara in-vitro di Balai Penelitian Marihat, Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan pengikat air 0,15 % memberikan kadar air tanah yang sama seperti penyiraman dua kali sehari tanpa penambahan bahan pengikat air (kontrol). Hal ini berarti kehilangan air akibat evaporasi setara dengan air yang dapat diikat oleh 0,15 % bahan pengikat air yang ditambahkan ke dalam media pembibitan. Jumlah daun planlet kelapa sawit tidak menunjukkan adanya perbedaan sampai kekerapan penyiraman empat hari sekali pada konsentrasi bahan pengikat air 0,1 %.

 

Pemupukan N, P, K, dan Mg untuk tanaman kelapa sawit pada lahan gambut
Sugiyono, R. Sukarji, dan Edy Sigit Sutarta

Dengan semakin terbatasnya lahan mineral yang sesuai untuk budidaya kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), maka pe­manfaatan lahan gambut menjadi salah satu pilihan bagi perluasan areal kelapa sawit di masa mendatang. Lahan gambut mem­punyai sifat kimia yang berbeda dengan lahan mineral, sehingga membutuhkan dosis pupuk N, P, K, dan Mg optimum yang juga berbeda untuk kelapa sawit. Penelitian pemupukan faktorial 34 N, P, K, Mg dengan kombinasi perlakuan 0; 1,5; 3,0 kg urea/pohon/ tahun, 0; 1,5; 3,0 kg TSP/pohon/tahun, 0; 2,0; 4,0 kg KCI/pohon/ tahun, dan 0; 1 ,25; 2, 50 kg dolomit/pohon/tahun dilakukan pada tanaman kelapa sawit tahun tanam 1992 di tanah gambut kebun Sei Tampang, PT. Cisadane Sawit Raya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk N berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah tandan, bobot tandan, dan produksi tandan buah segar. Pemberian pupuk P dan K hanya berpengaruh nyata terhadap peningkatan bobot tandan dan produksi tandan buah segar pada tahun 1997, sedangkan pemupukan Mg tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah tandan, bobot tandan, serta produksi tandan buah segar. Respon tanaman kelapa sawit yang baik terhadap pemupukan N, P, dan K tersebut antara lain disebabkan oleh nisbah C/N tanah gambut yang masih terlalu tinggi, serta kadar P tersedia dan K dapat dipertukarkan pada tanah gambut yang relatif tergolong rendah.

 

Penggunaan asam lemak sawit sebagai bahan baku superpalmamida
Tjahjono Herawan, Eka Nuryanto, dan Purboyo Guritno

Superamida telah disintesis dari minyak nabati maupun hewani. Namun sampai saat ini tidak ada satupun yang melaporkan penggunaan minyak sawit atau turunannya sebagai bahan baku superamida. Minyak sawit atau asam lemak sawit mempunyai potensi sebagai bahan baku superamida, karena mengandung rantai karbon C12 - C18. Secara ekonomis sangat menguntungkan apabila asam lemak sawit distilat, yang merupakan produk samping pada industri pemurnian minyak sawit, dapat digunakan sebagai bahan baku superamida. Pusat Penelitian Kelapa Sawit telah mensintesis superamida dari asam lemak sawit distilat sebagai bahan bakunya dan produk yang dihasilkan dinamakan superpalmamida. Pembuatan super­palma­mida dilakukan dengan cara mereaksikan asam lemak sawit dengan dietanolamina dengan perbandingan molar yang sama dalam reaktor gelas menggunakan berbagai variasi konsentrasi katalis kimia basa (0 %, 5 % dan 10 % b/b) pada suhu 150 0 C. Perolehan optimum (95 %) terjadi pada penambah­an katalis 10 % b/b dan waktu reaksi 5 jam. Analisis sifat fisika dan kimia menunjukkan bahwa superpalmamida kasar memiliki bilangan asam 2,81 mg KOH/g, bilangan penyabunan 59,72 mg KOH/g, titik leleh 40 0C, larut dalam air, larut dalam beberapa pelarut organik seperti metanol dan etanol, sedikit larut dalam heksan, dan tidak larut dalam aseton maupun propanol.

 

Sintesis minyak sawit merah kaya asam lemak omega-3 dengan metode asidolisis enzimatik
Jenny Elisabeth, Angga Jatmika, dan Krismawati Sinaga

Pada penelitian ini dilakukan asidolisis antara konsentrat asam lemak omega-3 (n-3) dari minyak ikan tuna dan minyak sawit merah (MSM) dengan lipase Lipozyme-IM dan dedak padi sebagai biokatalisator. Produk MSM kaya asam lemak n-3 yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan nutrifikan makanan atau farmasi, yang selain kaya asam lemak n-3 juga dapat digunakan sebagai sumber provitamin A dan vitamin E. Inkorporasi asam lemak n-3 diikuti dengan penurunan kon­sentrasi asam lemak jenuh dan monoenoat dari MSM, terutama C16:0 dan C18:1. Peningkatan rasio substrat, yakni rasio konsentrat asam lemak n-3 dan MSM, dapat meningkatkan inkorporasi asam lemak n-3, tetapi rasio optimum adalah 2:1 (b/b) karena penggunaan rasio substrat yang tinggi berdampak pada peningkatan biaya produksi. Pada produk MSM ter­modifikasi dengan lipase dedak padi terkandung EPA (eicosa­pentaenoic acid: C20:5) dan DHA (docosahexaenoic acid: C22:6) masing-masing7,2 % dan 37,9 %, sedangkan dengan Lipozyme-IM 6,2 % dan 36,1 %. Dengan proses asidolisis enzimatik, kandungan B-karoten dalam MSM dapat dipertahan­kan lebih dari 65 %, sedangkan kandungan vitamin E dapat mencapai lebih dari 1000 ppm karena tokoferol minyak ikan juga terekstraksi di dalam produk.

 

Aplikasi sistem pakar untuk pengawasan mutu minyak sawit mentah pada pabrik pengolahan kelapa sawit
Purboyo Guritno, Angga Jatmika, dan Diwan Prima Ariana

Situasi pasar yang dihadapi minyak sawit Indonesia pada masa yang akan datang adalah situasi pasar dengan tingkat kompetisi yang makin ketat sehingga diperlukan minyak sawit mentah yang bermutu tinggi. Faktor yang mempengaruhi mutu minyak sawit mentah dalam proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi minyak sawit mentah adalah kadar air, impurities, dan asam lemak bebas. Tujuan penelitian ini untuk membantu praktisi pengolahan kelapa sawit dalam meng­awasi mutu minyak sawit mentah melalui penerapan sistem pakar. Sistem pakar hasil penelitian ini (EXSPalm la) dirancang untuk membatu proses analisis terhadap permasalahan yang timbul selama proses pengolahan kelapa sawit. Proses analisis tersebut bersifat interaktif sehingga pengguna dapat ber­konsultasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi mutu minyak sawit mentah.
 

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 1746
  • Unique Visitor: 622
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.96
  • Since: 2010-01-10