Pilihan Bahasa : 

Vol.6 No.3

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007

 

 

Vol. 6 No. 3

 


* Seleksi sumber ortet pada populasi dura x pisifera untuk perbanyakan klonal

* Peningkatan daya hidup dan keragaan planlet kelapa sawit dipembibitan awal melalui hardening in - vitro

* Efektivitas penempatan pupuk P untuk tanaman kelapa sawit menghasilkan dengan metode suntikan radio isotop 32 P

* Peranan pemeka cahaya FeCI3 pada fotodegradasi plastik polipropilena dengan pengisi turunan selulosa dan pulp tandan kosong sawit

* Kemampuan petani dalam melaksanakan peremajaan tanaman kelapa sawit

Seleksi sumber ortet pada populasi dura x pisifera untuk perbanyakan klonal
Muhamad Ikwan dan Dwi Asmono

Persilangan antara dua tetua menyebabkan alil - alil yang berasosiasi dengan sifat tertentu pada kedua tetua bersegregasi dan bergabung kembali secara acak pada turunannya. Pada kelapa sawit yang merupakan populasi menyerbuk bebas, persilangan dua grup heterotik, dura (D) dan pisifera (P), akan menghasilkan turunan yang berkeragaman genetik tinggi. Per­banyakan secara vegetatif menggunakan teknik kultur jaringan akan menghasilkan bahan tanaman yang lebih seragam. Keseragaman yang tinggi pada bahan tanaman hasil kultur jaringan (klon) disebabkan adanya kesamaan konstitusi genetik antara keturunan (klon) dengan tetuanya (sumber ortet). Pemilihan pohon sebagai sumber ortet untuk kultur jaringan sampai saat ini didasarkan pada sifat produksi minyak yang tinggi. Sumber ortet dipilih dari persilangan D x P dari uji keturunan pada program Seleksi Berulang Timbal Balik (Recurrent Reciprocal Selection) siklus kedua dikebun Marihat, Bah Jambi, dan Tinjo­wan. Percobaan tersebut dibangun dalam kurun waktu 1986-1987 dan telah dilakukan pengamatan produksi dari umur 4 sampai 10 tahun. Seleksi famili (persilangan) dilakukan dengan membandingkan produksi setiap persilangan dengan persilangan standar. Selanjutnya dari persilangan terpilih tersebut dipilih pohon terbaik sebagai sumber ortet. Seleksi persilangan menghasilkan 25 persilangan terpilih dari 11 percobaan dikebun Marihat, Bah Jambi, dan Tinjowan. Dari persilangan terpilih telah diseleksi 10% pohon terbaik yang berproduktivitas tertinggi. Secara umum persilangan yang terpilih memiliki produktivitas minyak 1,6 - 35,6% lebih tinggi dibandingkan persilangan standar. Pohon terpilih sebagai sumber ortet memiliki produktivitas teoritis berkisar 1,4 - 45,6%, dengan rerata 27,0%, lebih tinggi dibandingkan dengan persilangan terkait.

 

Peningkatan daya hidup dan keragaan planlet kelapa sawit dipembibitan awal melalui hardening in - vitro
Fatmawati, Gale Ginting, dan Sjafrul Latif

Bahan tanaman kelapa sawit yang dihasilkan melalui kultur jaringan masih mempunyai kendala pada tahap aklimatisasi dan pembibitan awal. Kegagalan hidup planlet pada tahap aklimatisasi mencapai 20-30 % dan tahap pembibitan awal 10%. Kegagalan ini erat kaitannya dengan kejaguran planlet di dalam laboratorium, terutama kualitas pupus dan akar. Untuk memaksimalkan daya hidup planlet, telah dilakukan peningkatan kejaguran pupus dan akar planlet melalui hardening in-vitro. Kualitas akar planlet dibagi dalam 4 tipe akar yaitu tipe akar A : kualitas akar baik , tipe akar B : kualitas akar cukup, tipe akar C : kualitas akar sedang dan tipe akar D : kualitas akar kurang. Ekspresi akar dilakukan dalam medium standar sebagai kontrol yaitu : medium padat + gula 60 gl-1 (MD5) dan empat perlakuan masing masing : medium cair + gula 90 gl-1 (MD1), medium padat + gula 90 gl-1 (MD2), medium padat + gula 120 gl-1 (MD3) dan medium cair + gula 120 gl-1 (MD4). Hasil hardening in-vitro pada MD1 menghasilkan tipe akar A=35,75%; B=50%; C=8,57% dan D=5,71%. Pada MD2 menghasilkan tipe akar A=21,42%; B=35,71%; C=25,71% dan D=17,14%. Pada MD3 menghasilkan tipe akar A=32,85%; B=42,85% C=17,14% dan D=7,14%. Pada MD4 menghasilkan tipe akar A=38,57%; B=45,57%; C=12,86% dan D=0%. Hasil perakaran pada semua perlakuan di atas lebih baik dari pada menggunakan medium standar (MD5) yang menghasilkan tipe akar A=21,42%; B=35,71%; C=25,71%; dan D=17,14%. Keberhasilan hidup planlet pada tahap aklimatisasi masing masing 91,42%; 72,85%; 84,28% dan 94,28% pada perlakuan MD1,MD2,MD3 dan MD4 lebih tinggi dibandingkan MD5 yang hanya 34,14%. Keberhasilan hidup planlet setelah 3 bulan di pembibitan awal masing masing 88,57%; 62,85%; 75,71% dan 84,28% pada perlakuan MD1, MD2, MD3, dan MD4, lebih tinggi dibandingkan MD5 yang hanya 27,14%. Hasil pengamatan keragaan vegetatif setelah 3 bulan dipembibitan awal, untuk peubah jumlah daun, lebar daun dan diameter batang, tidak ada beda nyata antara perlakuan MD1, MD2, MD3 dan MD4, tetapi berbeda nyata dengan MD5. Untuk peubah panjang daun dan tinggi tanaman, tidak ada perbedaan nyata antara MD1 dan MD4, tetapi berbeda nyata dengan MD2 dan MD3 dan berbeda sangat nyata dengan kontrol.

 

Efektivitas penempatan pupuk P untuk tanaman kelapa sawit menghasilkan dengan metode suntikan radio isotop 32
M. Lukman Fadli, Kusnu Martoyo, dan Elsye L. Sisworo

Akar tanaman kelapa sawit (Elaeis guneensis Jacq) merupakan bagian tanaman yang sangat penting dalam sistem penyerapan hara dalam tanah untuk mendukung sistem metabolisme. Pola perkembangan akar tanaman tersebut akan mem­pengaruhi efektivitas pemupukan utamanya dikaitkan dengan akar aktif (feeding root) seperti akar tersier dan kuarter. Metode suntikan radio isotop 32 P melalui larutan KH2 32 PO4 bebas ion yang ditempatkan dalam 20 lubang sekeliling piringan pohon dapat mengenal pola perkembangan akar tersier dan kuarter. Kandungan 32P dengan pendekatan disintegrasi per menit (dpm), baik yang ada dalam daun ke-9 atau daun ke-17 menggambarkan tingkat efektivitas pemupukan atas dasar penempatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan 32P pada jaringan muda (daun ke-9) lebih tinggi dibandingkan jaringan tua (daun ke-17). Aplikasi 32P ber jarak 1,5 m dan kedalaman 5 cm mempengaruhi kandungan 32p dalam daun secara nyata. Perkembangan akar tersier dan kuarter di sekitar permukaan tanah di piringan pohon kelapa sawit dirangsang oleh pemukaan yang diberikan secara rutin di piringan tersebut. Inter­sepsi akar tanaman ke arah sumber hara (pupuk) sangat kuat menciptakan perakaran di sekitar piringan. Lebih jauh, pada kelapa sawit berumur sekitar 8 tahun, pupuk yang diberikan di sekitar piringan pohon memberikan kontribusi hara ke tanaman yang ada di sampingnya, walaupun dalam jumlah yang tidak besar.

 

Peranan pemekacahaya FeCI3 pada fotodegradasi plastik polipropilena dengan pengisi turunan selulosa dan pulp tandan kosong sawit
Purboyo Guritno, Basuki Wirjosentono, Zul Alfian, dan Ratu Evina Dibyantini

Limbah bahan plastik dalam alam mungkin dapat terdegradasi bukan hanya secara biologis oleh pengaruh mikroba, tetapi juga disebabkan oleh sinar ultraviolet dalam cahaya matahari. Laju fotodegradasi bahan plastik dapat dipercepat dengan penambahan bahan pemekacahaya yang dapat terurai menjadi senyawa radikal pemicu degradasi bila terpapar radiasi ultraviolet. Dalam makalah ini diselidiki peranan pemekacahaya FeCI3 terhadap sifat mekanis dan perilaku fotodegradasi campuran plastik polipropilena dengan pengisi: pulp tandan kosong sawit (PTKS), selulosa asetat (SA), dan selulosa diasetat (SDA). Sifat mekanis campuran plastik terlihat lebih dipengaruhi oleh kandungan serbuk pengisi, dengan kemuluran yang menurun bila kadar pengisi meningkat, sedangkan penambahan FeCI3 dengan kadar 0-2 % tidak berdampak pada perubahan sifat mekanis campuran plastik. Kenaikan kadar pemekacahaya FeCI3 secara linear mempercepat laju fotodegradasi, sedangkan jenis bahan pengisi tidak mempengaruhi jalannya fotodegradasi secara nyata. Pada tahap awal fotodegradasi pemekacahaya FeCI3 diduga menyerap radiasi ultraviolet dan terurai menghasilkan radikal CI. yang selanjutnya mampu memicu foto­degradasi campuran plastik. Hasil akhir fotodegradasi adalah pembentukan gugus hidroksida dan karbonil pada molekul plastik, yang akan meningkatkan sifat hidrofilisitas campuran plastik tersebut, yang berarti memperbesar kemudahan untuk terbiodegradasi dalam alam.

 

Kemampuan petani dalam melaksanakan peremajaan tanaman kelapa sawit
Teguh Wahyono dan Angga Jatmika

Pengembangan perkebunan melalui pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) ditujukan untuk mencapai azas pemerataan, yaitu memberi kesempatan kepada masyarakat kecil agar mampu mengembangkan kehidupannya sehingga lebih sejahtera. Beberapa komoditi, terutama komoditi perdagangan, dikembangkan melalui pola PIR, antara lain adalah kelapa sawit (Elaeis guineensis). Dalam rangka memulai usahatani ini petani memperoleh modal, berupa lahan kebun kelapa sawit seluas 2 ha dan lahan pekarangan 0,5 ha, yang berstatus kredit dan harus mulai diangsur pada saat tanaman menghasilkan. Dengan sarana modal ini petani diharapkan mampu mengembangkan kehidupan ekonominya sehingga lebih sejahtera, dan pada gilirannya mereka mampu melaksanakan program peremajaan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji tingkat kemampuan petani dalam mengumpulkan dana sehingga cukup untuk membiayai program peremajaan. Observasi data dilaksanakan di PIRSUS Sari Lembah Subur, Riau. Metode analisis yang digunakan adalah discounted factor, yaitu dengan memperhitungkan nilai kini dari tingkat pendapatan, tabungan, dan biaya peremajaan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani mampu melaksanakan peremajaan setelah tanaman kelapa sawit berumur 25 tahun.
 

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12176
  • Unique Visitor: 3100
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.102
  • Since: 2010-08-18