| Fatmawati, Gale Ginting, dan Sjafrul Latif |
Bahan tanaman kelapa sawit yang dihasilkan melalui kultur jaringan masih mempunyai kendala pada tahap aklimatisasi dan pembibitan awal. Kegagalan hidup planlet pada tahap aklimatisasi mencapai 20-30 % dan tahap pembibitan awal 10%. Kegagalan ini erat kaitannya dengan kejaguran planlet di dalam laboratorium, terutama kualitas pupus dan akar. Untuk memaksimalkan daya hidup planlet, telah dilakukan peningkatan kejaguran pupus dan akar planlet melalui hardening in-vitro. Kualitas akar planlet dibagi dalam 4 tipe akar yaitu tipe akar A : kualitas akar baik , tipe akar B : kualitas akar cukup, tipe akar C : kualitas akar sedang dan tipe akar D : kualitas akar kurang. Ekspresi akar dilakukan dalam medium standar sebagai kontrol yaitu : medium padat + gula 60 gl-1 (MD5) dan empat perlakuan masing masing : medium cair + gula 90 gl-1 (MD1), medium padat + gula 90 gl-1 (MD2), medium padat + gula 120 gl-1 (MD3) dan medium cair + gula 120 gl-1 (MD4). Hasil hardening in-vitro pada MD1 menghasilkan tipe akar A=35,75%; B=50%; C=8,57% dan D=5,71%. Pada MD2 menghasilkan tipe akar A=21,42%; B=35,71%; C=25,71% dan D=17,14%. Pada MD3 menghasilkan tipe akar A=32,85%; B=42,85% C=17,14% dan D=7,14%. Pada MD4 menghasilkan tipe akar A=38,57%; B=45,57%; C=12,86% dan D=0%. Hasil perakaran pada semua perlakuan di atas lebih baik dari pada menggunakan medium standar (MD5) yang menghasilkan tipe akar A=21,42%; B=35,71%; C=25,71%; dan D=17,14%. Keberhasilan hidup planlet pada tahap aklimatisasi masing masing 91,42%; 72,85%; 84,28% dan 94,28% pada perlakuan MD1,MD2,MD3 dan MD4 lebih tinggi dibandingkan MD5 yang hanya 34,14%. Keberhasilan hidup planlet setelah 3 bulan di pembibitan awal masing masing 88,57%; 62,85%; 75,71% dan 84,28% pada perlakuan MD1, MD2, MD3, dan MD4, lebih tinggi dibandingkan MD5 yang hanya 27,14%. Hasil pengamatan keragaan vegetatif setelah 3 bulan dipembibitan awal, untuk peubah jumlah daun, lebar daun dan diameter batang, tidak ada beda nyata antara perlakuan MD1, MD2, MD3 dan MD4, tetapi berbeda nyata dengan MD5. Untuk peubah panjang daun dan tinggi tanaman, tidak ada perbedaan nyata antara MD1 dan MD4, tetapi berbeda nyata dengan MD2 dan MD3 dan berbeda sangat nyata dengan kontrol.
| Efektivitas penempatan pupuk P untuk tanaman kelapa sawit menghasilkan dengan metode suntikan radio isotop 32 | | M. Lukman Fadli, Kusnu Martoyo, dan Elsye L. Sisworo |
Akar tanaman kelapa sawit (Elaeis guneensis Jacq) merupakan bagian tanaman yang sangat penting dalam sistem penyerapan hara dalam tanah untuk mendukung sistem metabolisme. Pola perkembangan akar tanaman tersebut akan mempengaruhi efektivitas pemupukan utamanya dikaitkan dengan akar aktif (feeding root) seperti akar tersier dan kuarter. Metode suntikan radio isotop 32 P melalui larutan KH2 32 PO4 bebas ion yang ditempatkan dalam 20 lubang sekeliling piringan pohon dapat mengenal pola perkembangan akar tersier dan kuarter. Kandungan 32P dengan pendekatan disintegrasi per menit (dpm), baik yang ada dalam daun ke-9 atau daun ke-17 menggambarkan tingkat efektivitas pemupukan atas dasar penempatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan 32P pada jaringan muda (daun ke-9) lebih tinggi dibandingkan jaringan tua (daun ke-17). Aplikasi 32P ber jarak 1,5 m dan kedalaman 5 cm mempengaruhi kandungan 32p dalam daun secara nyata. Perkembangan akar tersier dan kuarter di sekitar permukaan tanah di piringan pohon kelapa sawit dirangsang oleh pemukaan yang diberikan secara rutin di piringan tersebut. Intersepsi akar tanaman ke arah sumber hara (pupuk) sangat kuat menciptakan perakaran di sekitar piringan. Lebih jauh, pada kelapa sawit berumur sekitar 8 tahun, pupuk yang diberikan di sekitar piringan pohon memberikan kontribusi hara ke tanaman yang ada di sampingnya, walaupun dalam jumlah yang tidak besar.
| Peranan pemekacahaya FeCI3 pada fotodegradasi plastik polipropilena dengan pengisi turunan selulosa dan pulp tandan kosong sawit | | Purboyo Guritno, Basuki Wirjosentono, Zul Alfian, dan Ratu Evina Dibyantini |
Limbah bahan plastik dalam alam mungkin dapat terdegradasi bukan hanya secara biologis oleh pengaruh mikroba, tetapi juga disebabkan oleh sinar ultraviolet dalam cahaya matahari. Laju fotodegradasi bahan plastik dapat dipercepat dengan penambahan bahan pemekacahaya yang dapat terurai menjadi senyawa radikal pemicu degradasi bila terpapar radiasi ultraviolet. Dalam makalah ini diselidiki peranan pemekacahaya FeCI3 terhadap sifat mekanis dan perilaku fotodegradasi campuran plastik polipropilena dengan pengisi: pulp tandan kosong sawit (PTKS), selulosa asetat (SA), dan selulosa diasetat (SDA). Sifat mekanis campuran plastik terlihat lebih dipengaruhi oleh kandungan serbuk pengisi, dengan kemuluran yang menurun bila kadar pengisi meningkat, sedangkan penambahan FeCI3 dengan kadar 0-2 % tidak berdampak pada perubahan sifat mekanis campuran plastik. Kenaikan kadar pemekacahaya FeCI3 secara linear mempercepat laju fotodegradasi, sedangkan jenis bahan pengisi tidak mempengaruhi jalannya fotodegradasi secara nyata. Pada tahap awal fotodegradasi pemekacahaya FeCI3 diduga menyerap radiasi ultraviolet dan terurai menghasilkan radikal CI. yang selanjutnya mampu memicu fotodegradasi campuran plastik. Hasil akhir fotodegradasi adalah pembentukan gugus hidroksida dan karbonil pada molekul plastik, yang akan meningkatkan sifat hidrofilisitas campuran plastik tersebut, yang berarti memperbesar kemudahan untuk terbiodegradasi dalam alam.
| Kemampuan petani dalam melaksanakan peremajaan tanaman kelapa sawit | | Teguh Wahyono dan Angga Jatmika |
Pengembangan perkebunan melalui pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) ditujukan untuk mencapai azas pemerataan, yaitu memberi kesempatan kepada masyarakat kecil agar mampu mengembangkan kehidupannya sehingga lebih sejahtera. Beberapa komoditi, terutama komoditi perdagangan, dikembangkan melalui pola PIR, antara lain adalah kelapa sawit (Elaeis guineensis). Dalam rangka memulai usahatani ini petani memperoleh modal, berupa lahan kebun kelapa sawit seluas 2 ha dan lahan pekarangan 0,5 ha, yang berstatus kredit dan harus mulai diangsur pada saat tanaman menghasilkan. Dengan sarana modal ini petani diharapkan mampu mengembangkan kehidupan ekonominya sehingga lebih sejahtera, dan pada gilirannya mereka mampu melaksanakan program peremajaan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji tingkat kemampuan petani dalam mengumpulkan dana sehingga cukup untuk membiayai program peremajaan. Observasi data dilaksanakan di PIRSUS Sari Lembah Subur, Riau. Metode analisis yang digunakan adalah discounted factor, yaitu dengan memperhitungkan nilai kini dari tingkat pendapatan, tabungan, dan biaya peremajaan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani mampu melaksanakan peremajaan setelah tanaman kelapa sawit berumur 25 tahun. |
|
|
|