| Edy Suprianto dan Dwi Asmono |
Sebagai sumber minyak nabati yang penting, kelapa sawit diperkirakan akan tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri pada waktu mendatang. Seiring dengan berkembangnya industri hilir yang berbasis kelapa sawit, permintaan bahan baku berupa crude palm oil dan palm kernel oil untuk keperluan industri tersebut akan terus meningkat. Kebutuhan terhadap palm kernel oil dapat dipenuhi melalui penyediaan bahan tanaman dengan kandungan inti sawit yang tinggi. Hasil pengujian keturunan pada dua percobaan, TI 16 S dan BJ 13 S, menunjukkan bahwa beberapa persilangan D x P memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan tanaman unggul berinti besar, yang ditandai dengan kandungan inti rata-rata diatas 10%. Pada percobaan TI 16 S diperoleh tiga persilangan, TI 655 D x BJ 220 P, TI 658 D x BJ 220 P, dan BJ 28 D x BJ 217 P dengan rata-rata kandungan inti per buah berturut-turut 10,22%, 10,34% dan 10,16%. Pada percobaan BJ 13 S terdapat satu persilangan, BO 597 D x BO 318 P, dengan kandungan inti 10,79%. Pemuliaan lanjutan akan dilakukan melalui reproduksi persilangan terpilih, klonasi individu terbaik dari persilangan terpilih, dan rekombinasi yang lebih ditekankan untuk pemilihan dura yang memiliki keunggulan kandungan inti.
| Penghitungan laju respirasi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) berdasarkan analisis keseimbangan asimilat | | Iman Yani Harahap, Subronto, and Witjaksana Darmosarkoro |
Untuk mengetahui peran aspek respirasi dalam proses pertumbuhan tanaman kelapa sawit menghasilkan, maka telah dilakukan percobaan penetapan laju respirasi harian kelapa sawit dilapangan. Pengamatan lapang dilakukan pada Maret 1996-Maret 1997 di plot pengujian percobaan pemuliaan, No BJ 26 S, tahun tanam 1990, kebun Bah Jambi, PT Perkebunan Nusantara IV, Simalungun, Sumatra Utara (2o59’LU 99o13’). Pengamatan dibagi dalam tiga aspek yaitu fotosintesis, pertumbuhan tanaman dan iklim. Laju fotosintesis diukur in situ. Parameter fotosintesis dapat diturunkan dari hasil pengukuran laju fotosintesis daun tunggal, dan merupakan dasar dari perhitungan asimilasi karbon potensial harian oleh tajuk tanaman. Diperoleh nilai parameter potensial fotosintesis (a) adalah 0,013 mg CO2 J1 dan laju fotosintesis pada cahaya jenuh (Pmaks) adalah 1,09 mg CO2 m-2 detik-1. Nilai parameter fotosintesis tersebut merupakan parameter utama dalam menghitung produksi asimilat harian kelapa sawit. Hasil perhitungan menunjukkan produksi asimilat kelapa sawit dapat mencapai 3 - 4 kg CH2O pohon-1 hari-1. Sedangkan produksi bahan kering aktual bervariasi antara 0,6 - 1,0 kg pohon-1 hari-1, atau mencapai 20,8 % dari produksi asimilat harian hasil fotosintesis. Sekitar 79,2% asimilat lainnya (2,5-3,5 kg CH2O pohon-1 hari-1) digunakan untuk respirasi pertumbuhan (17,4%) dan respirasi perawatan (61,8%). | Keragaan dan produktivitas tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada berbagai tingkat ketebalan gambut Fluvaquentic Troposaprist | | Arsyad D. Koedadiri, Winarna, and B.H. Sitanggang |
Tanaman kelapa sawit yang tumbuh pada tanah gambut Fluvaquentic Troposaprist menunjukkan produksi dan pertumbuhan vegetatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman pada macam tanah gambut lainnya seperti Typic Troposaprist dan Hemic Troposaprist. Fluvaquentic Troposaprist tergolong tanah gambut dangkal dengan ketebalan 50 - 100 cm, yang terpengaruh oleh endapan bahan mineral dengan tebal lapisan mineral berkisar 5 hingga 30 cm. Untuk mengetahui tingkat produktivitas dan keragaan pertumbuhan tanaman pada berbagai tingkat ketebalan gambut Fluvaquentic Troposaprist, telah dilakukan penelitian di kebun Sei Galuh PT Perkebunan Nusantara V Riau, dengan bahan tanaman DxP tahun tanam 1985/1986. Hasil penelitian menunjukan tidak adanya perbedaan yang nyata pada produktivitas dan pertumbuhan vegetatif, kecuali lingkar batang dan leaf area index (LAI) antara tanaman kelapa sawit yang tumbuh pada tanah gambut dengan ketebalan 75 cm dan 100 cm. Namun demikian tanaman kelapa sawit yang tumbuh pada ketebalan gambut 75 cm dan 100 cm mempunyai bobot tandan, jumlah tandan, dan sebagian besar peubah pertumbuhan vegetatif yang nyata lebih rendah dibandingkan dengan kelapa sawit yang tumbuh pada ketebalan gambut 50 cm. Oleh sebab itu, ketebalan gambut merupakan salah satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam estimasi produksi dan kultur teknis pengelolaan perkebunan kelapa sawit pada tanah Fluvaquentic Troposaprist.
| Perkembangan jamur Cordyceps aff. militaris pada media dedak padi dan patogenisitasnya terhadap kepompong Setothosea asigna van Eecke | | Sudharto Prawirosukarto, Z.A. Aini, C.U. Ginting, and B. Papierok |
Ulat pemakan daun, khususnya ulat api Setothosea asigna van Eecke, merupakan hama yang utama pada perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia. Serangan yang berat dapat menurunkan produksi sebesar 70% pada tahun pertama pasca serangan dan dapat mencapai 90%, apabila serangan berlanjut pada tahun kedua. Jamur Cordyceps aff. militaris diketahui menyerang kepompong ulat api di perkebunan kelapa sawit dan mengakibatkan kepompong tersebut mati serta tidak dapat berkembang menjadi ngengat. Dalam upaya pemanfaatan jamur C. aff. militaris untuk pengendalian hayati terhadap kepompong S. asigna, perlu dilakukan pembiakan massal jamur tersebut dengan menggunakan medium alternatif yang sesuai, yakni mudah, murah dan menghasilkan biakan jamur yang infektif. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian dedak padi untuk pembiakan massal C. aff. militaris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur C. aff. militaris dapat berkembang dengan baik pada media dedak padi dan biakan jamur yang diperoleh mempunyai patogenisitas tinggi terhadap kepompong S. asigna. Penyuntikan dengan suspensi konidia jamur C. aff. militaris tersebut, konsentrasi 3x106 konidia per ml air suling steril, kedalam kokon S. asigna mengakibatkan kematian kepompong sebesar 85,70% pada satu bulan setelah injeksi, sedangkan kematian kepompong pada kontrol (disuntik dengan air suling steril) hanya 14,30%.
| Kompatibillitas dan biodegradasi plastik polipropilena dengan pengisi turunan selulosa dan pulp tandan kosong sawit | | Basuki Wirjosentono, Purboyo Guritno, Darwin Yunus Nasution, dan Arnetty |
Kompatibilitas antara pengisi turunan selulosa dan pulp tandan kosong sawit di dalam matriks polipropilena serta sifat biodegradasinya tergantung pada sifat termoplastis dan hidrofilisitas dari bahan pengisi tersebut. Untuk itu diselidiki pengaruh struktur turunan selulosa, yaitu: selulosa asetat dan selulosa diasetat, terhadap kompatibilitas dan biodegradabilitasnya dalam matriks polipropilena, yang dibandingkan dengan untuk pulp tandan kosong sawit. Campuran plastik dengan bahan pengisi yang disiapkan dengan cara refluks dalam pelarut xilena, dikarakterisasi kompatibilitasnya dengan teknik : uji sifat mekanis, mikroskop elektron payaran (SEM) dan uji sifat termal. Pengujian sifat biodegradasi bahan plastik dilakukan dengan cara: penguburan dalam tanah dan perendaman dalam medium bermikroba pseudomonas aerogenosa. Dilaporkan bahwa tidak terlihat perubahan yang nyata dari kompatibilitas bahan pengisi dalam matriks polipropilena oleh perbedaan sifat termoplastis atau sifat hidrofilisitasnya. Secara mikroskopis terlihat bahwa setelah uji biodegradasi, spesimen uji menjadi lebih kasar permukaannya, membentuk retakan, dan berlubang-lubang. Penurunan berat spesimen uji pada penguburan dalam tanah sampah, terlihat lebih besar dibandingkan dengan bila dilakukan uji biodegradasi dalam media bakteri pseudomonas aerogenosa. Hal ini mungkin disebabkan oleh mikroba yang terdapat dalam tanah sampah telah beradaptasi dan mempunyai keaktifan yang lebih baik dibandingkan dengan biakan murninya. Dalam hal lain juga ada kemungkinan kerja sinergisme antara kegiatan berbagai mikroba yang terdapat dalam tanah uji penguburan. |
|
|
|
|