| Dira P. Komalaningtyas, Edy Suprianto, dan Dwi Asmono |
Silang balik antara spesies Elaeis oleifera sebagai tetua donor dengan E. guineensis sebagai tetua recurrent mempunyai tujuan jangka panjang untuk mendapatkan hibrida kelapa sawit yang pertumbuhan vertikalnya lambat dengan kandungan asam lemak tidak jenuh (ALTJ) tinggi, seperti E. oleifera, serta produksi tandan dan minyak yang tinggi, seperti E. guineensis. Pengujian terhadap 9 (sembilan) persilangan BC1 dilaksanakan di PT Perkebunan Nusantara IV, afdeling III, blok 6, kebun Bah Jambi (nomor percobaan BJ 025 S) sejak 1990. Sebagai pembanding digunakan standar klon dari persilangan hibrida DxP E. guineensis, Marihat Klon 10 (BO 169 D x RS 014 P), nomor percobaan BJ 022 S. Klon pembanding dan ke-9 persilangan BC1 tersebut ditanam pada waktu bersamaan dan dilokasi yang berdekatan. Komponen jumlah tandan, kandungan ALTJ, dan persentase inti perbuah hasil BC1 lebih tinggi 1%, 6% dan 31%, bila dibandingkan dengan persilangan DxP E. guineensis. Salah satu individu BC1, hasil persilangan 107-49-2T x BO 299 P, mempunyai kandungan ALTJ hingga 62,94%. Individu tersebut, bersama individu lain turunan dari persilangan 107-49-2T x BJ 242 P, 107-49-9T x DS 29 D, IIIB-8D x BO 512 P, IIIB-5D x BJ 242 P, dan IIIB-27D x BO 5392 D, dapat digunakan sebagai bahan persilangan pengujian silang balik selanjutnya. Pada seleksi lanjutan, BC2 atau BC1 F2, individu terpilih akan disilangkan dengan tetua-tetua dura atau pisifera terpilih dari siklus ketiga program seleksi berulang timbal balik yang saat ini sedang dikaji Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)
| Model pengaruh ketersediaan air terhadap pertumbuhan dan hasil kelapa sawit | | Iman Yani Harahap dan Sjafrul Latif |
Kajian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu model guna memprediksi dan menganalisis fluktuasi bulanan hasil kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). Pengembangan model menekankan pada faktor penyebab fluktuasi hasil. Faktor tersebut adalah variasi ketersedian air, yang dipengaruhi oleh distribusi curah hujan. Pendekatan yang digunakan untuk pengembangan model tersebut dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) mengintroduksi aspek neraca air kedalam model, sehingga model memiliki 2 submodel, yaitu submodel pertumbuhan dan perkembangan tanaman, dan submodel neraca air, (2) melakukan pengumpulan data melalui pengamatan lapang selama satu tahun (Maret 1996 - Maret 1997) untuk membangun dan menguji model tersebut. Data dikumpulkan dari plot pengujian percobaan pemuliaan No. BJ-26-S, yang ditanam pada 1990 di kebun Bah Jambi, PT. Perkebunan Nusantara IV, Simalungun, Sumatera Utara. Pengembangan model divalidasi dengan data pengamatan pertumbuhan organ vegetatif dan generatif, laju emisi pelepah daun, hasil tandan, dan komponen-komponen neraca air yang meliputi evapotranspirasi dan kadar air tanah. Pengembangan model menunjukkan kevalidan model, dan introduksi submodel neraca air meningkatkan kepekaan model terhadap variasi ketersediaan air, yang akhirnya dapat meningkatkan ketepatan prediksi hasil tandan buah hingga 15%. Model tersebut dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh kekeringan terhadap hasil tandan melalui perlakuan skenario kekeringan. Hasil skenario menunjukkan bahwa kekeringan selama 3 dan 6 bulan berturut-turut menyebabkan penurunan hasil 8-9% dan 21-33% pada tahun berikutnya. Pengaruh kekeringan mulai terlihat pada 3 bulan pertama setelah awal kekeringan dan kemudian meningkat hingga mencapai puncaknya pada 9 - 13 bulan setelah awal kekeringan. Tiga belas bulan setelah awal kekeringan, tanaman menunjukkan pemulihan kondisi dan kemudian pengaruhnya relatif kecil setelah 36 bulan.
| Tanaman sela jagung pada pertanaman kelapa sawit belum menghasilkan | | A. Purba, P. Girsang, W. Darmosarkoro, dan Z. Poeloengan |
Pembangunan perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) selama ini lebih berorientasi kepada peningkatan produksi yang diusahakan secara monokultur. Ditinjau dari sudut budidaya kelapa sawit sebagai tanaman utama, maka selama 2-3 tahun setelah tanam masih cukup tersedia areal yang dapat ditanami tanaman sela berupa tanaman semusim diantara pohon yang satu dengan lainnya. Penelitian penanaman jagung (Zea mays L.) pada pertanaman kelapa sawit belum menghasilkan telah dilakukan dikebun Aek Pancur pada 1997 dan dikebun Pulau Maria pada 1996 dengan tujuan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan kelapa sawit dan nilai tambah yang diperoleh. Perlakuan yang dicoba dikebun Aek Pancur adalah tumpangsari kelapa sawit dan jagung varietas Cargill-3 dengan olah tanah minimum (OTM), serta tumpangsari kelapa sawit dan jagung varietas Arjuna dengan OTM, sedangkan kontrol adalah pertanaman kelapa sawit dengan tanaman penutup tanah jenis legum. Perlakuan yang dicoba dikebun Pulau Maria adalah tumpangsari kelapa sawit dan jagung varietas Cargill-3 dengan olah tanah (OT), serta tumpangsari kelapa sawit dan jagung varietas Cargill-3 tanpa olah tanah (TOT), sedangkan kontrol adalah pertanaman kelapa sawit dengan tanaman penutup tanah jenis legum. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengusahaan tanaman sela jagung tidak menunjukkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan kelapa sawit. Tumpangsari jagung dengan kelapa sawit juga memberi pendapatan tambahan sebesar Rp 387.750-Rp 1.351.500/ha/ musim tanam atau dengan nilai benefit cost ratio (B/C) 1,30-2,05. | Pemanfaatan tandan kosong sawit dalam pembuatan pulp semi-kimia | | Purboyo Guritno, Diwan Prima Ariana, dan Endang Susilawati |
Kekurangan pasokan bahan baku konvensional seperti kayu untuk pembuatan pulp dan kertas disebabkan oleh kepedulian terhadap lingkungan telah menyebabkan menurunnya pasokan pulp dan kertas serta meningkatnya harga kertas. Tandan kosong sawit sebagai limbah lignoselulosa yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pulp dan kertas dikarenakan oleh karakteristiknya dan ketersediaannya yang berlimpah sepanjang tahun. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan tandan kosong sawit sebagai bahan baku pembuatan pulp semi-kimia. Sebelum dilakukan pemasakan di digester tipe globe, tandan kosong sawit dirajang dan dikempa. Proses soda digunakan dalam pemasakan tandan kosong sawit selama 3,5 jam. Setelah dimasak, tandan kosong sawit diuraikan seratnya dengan menggunakan refiner. Tandan kosong sawit selanjutnya disaring, dicuci, dan dibuat lembaran pulp. Proses pemutihan pulp dilakukan dengan 4 urutan pemutihan yaitu CEHH (C=klorinasi, E=ektraksi alkali, H=hipoklorit). Pulp semi-kimia tandan kosong sawit selanjutnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas karton. Kertas karton dibuat dari campuran 47,9% pulp semi-kimia tandan kosong sawit dan 52,10% kertas bekas.Pulp semi-kimia tandan kosong sawit mempunyai sifat fisika seperti indeks sobek, retak, dan tarik yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia. Dibandingkan dengan ketentuan Standar Nasional Indonesia, sifat fisik kertas karton yang dihasilkan lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh kertas karton yang dibuat bahan bakunya adalah campuran pulp semi-kimia tandan kosong sawit dan kertas bekas. Walaupun demikian, kertas karton yang dihasilkan mempunyai sifat fisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan kertas karton yang dijual dipasaran.
| Preparasi mono-dan digliserida dari minyak sawit dengan gliserolisis enzimatik | | Jenny Elisabeth, Angga Jatmika, E. Nainggolan, dan D.M. Malau |
Reaksi gliserolisis enzimatik dilakukan pada minyak sawit merah (MSM), olein, stearin dan minyak inti sawit (MIS) dengan menggunakan beberapa jenis enzim lipase sebagai biokatalisator. Diantara lipase Lipozyme-IM, Novozym-435, Pseudomonas sp., dan dedak padi, maka lipase Pseudomonas sp. menghasilkan produk dengan kandungan monogliserida (MG) dan digliserida (DG) tertinggi pada MSM, olein dan stearin serta lipase Lipozyme-IM pada MIS. Kandungan DG dalam produk minyak sawit hasil gliserolisis berkisar 40-55%, sedangkan kandungan MG masih relatif rendah yakni sekitar 10%. Peningkatan waktu reaksi hingga 72 jam tidak meningkatkan kandungan MG dan DG dalam produk MSM hasil gliserolisis serta kandungan MG dan DG telah mencapai maksimum pada waktu reaksi 24 jam. Peningkatan rasio mol gliserol dan minyak diatas 2:1 juga tidak meningkatkan kandungan MG dan DG dalam produk minyak sawit hasil gliserolisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lipase yang digunakan memiliki spesifisitas yang lebih rendah terhadap molekul DG dibandingkan trigliserida (TG), sehingga hidrolisis molekul DG menjadi MG relatif sukar terjadi. Dengan gliserolisis enzimatik ini, kandungan karoten dalam substrat MSM dapat dipertahankan lebih dari 90%. |
|
|
|
|