Data pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit Dy x P pada percobaan dengan kerapatan tanam 116, 128, 143, 161 dan, 181 pohon/ha digunakan untuk menghitung efisiensi pengalihan enerji (e). Peningkatan jumlah pohon/ha ternyata berpengaruh positip terhadap nilai e. Nilai e turun setelah tanaman berumur 7 tahun, kemudian tetap untuk 2-3 tahun, dan naik lagi ketika kanopi sudah menutup. Pengamatan selama 10 tahun menunjukkan bahwa nilai e untuk bahan tanaman Dy x P lebih rendah dibandingkan dengan beberapa tanaman lainnya. Nilai e tersebut sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Produksi tandan untuk kelima kerapatan tanam cenderung meningkat dengan naiknya nilai e dengan pola yang fluktuatif. Produksi tandan mencapai maksimum pada nilai fraksi intersep PAR atau f = 0,85, dan turun pada nilai f = 0,9. Produksi bahan kering total terus meningkat dengan naiknya nilai f. Berdasarkan hasil penelitian ini diusulkan suatu model tentatif bahan tanaman kelapa sawit yang produktif. Untuk meningkatkan produksi, ketiga faktor yakni intersepsi cahaya, laju pengalihan enerji dan indek tandan harus bernilai tinggi. Hal ini dapat ditempuh melalui seleksi Nisbah Luas Daun yang tinggi dan produksi pelepah daun yang rendah, agar asimilat yang dibentuk lebih banyak diagihkan ke pembentukan tandan buah.
| Suspensi sel pada kelapa sawit (Elaeis guineensis, Jacq) | | Gale Ginting and Fatmawati |
Produksi klon kelapa sawit secara kultur jaringan saat ini masih menghadapi beberapa kendala yaitu rendahnya indeks perbanyakan kultur pada tahap kalus, embrio, dan pupus. Semua tahap pada proses kultur jaringan menggunakan media padat sehingga biaya produksinya relatif mahal. Suspensi sel merupakan pengembangan teknik kultur jaringan yang menggunakan medium cair untuk menghasilkan plantlet. Pada suspensi sel dilakukan induksi embrio somatik dari friable callus. Selanjutnya dari embrio somatik dihasilkan pupus dalam medium cair. Penelitian suspensi sel menggunakan modifikasi medium dasar MS (Murashige T & Skoog F, 1962) dengan penambahan karbon aktif 2 g /l medium dan perlakuan hormon 2, 4-dichlorophenoxyacetic acid pada lima dosis, masing-masing : 50, 25, 10, 5 dan 1mg/l 2,4-D. Penelitian dilakukan pada 16 jenis klon dari 10 persilangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya pada medium yang mengandung 50 mg/l 2,4-D berhasil didapatkan embrio somatik dan pupus. Sedangkan perlakuan pada jenis medium lainnya gagal mendapatkan embrio somatik maupun pupus. Kualitas pupus yang diperoleh dari medium yang mengandung 50 mg/l 2,4-D cukup baik dan dapat menghasilkan planlet.
| Nilai nutrisi dan manfaat pelepah kelapa sawit sebagai pakan domba | | Amir Purba, Simon P.Ginting, Z. Poeloengan, Kiston Simanihuruk and Junjungan |
Integrasi ternak dengan perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu alternatif sistem produksi yang dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam yang tersedia seperti lahan dan vegetasi. Sistem produksi ternak pada perkebunan sangat ditentukan oleh ketersediaan pakan hijauan secara berkesinambungan. Tingkat pemeliharaan ternak yang menguntungkan akan dapat dipertahankan apabila ketersediaan pakan hijauan yang menurun sejalan dengan bertambahnya umur kelapa sawit dapat disubstitusi oleh sumber bahan pakan lain, terutama yang tersedia di areal tersebut. Penelitian dilakukan untuk mempelajari nilai nutrisi pelepah kelapa sawit sebagai pakan ternak domba. Degradasi bahan kering, serat deterjen netral dan protein kasar ditentukan secara in situ menggunakan sapi berfistula pada rumen. Sebagai pembanding digunakan rumput alam Ottochloa nodosa dan leguminosa pohon Gliricidia maculata. Potensi konsumsi pelepah sawit dan koefisien cerna in vivo dan keseimbangan nitrogen ditentukan dengan menggunakan domba yang ditempatkan pada kandang individu. Studi mengenai tingkat substitusi pelepah sawit terhadap rumput alam dalam ransum domba dilakukan pada 30 ekor domba lepas sapih yang diberi lima komposisi ransum dengan imbangan pelepah sawit dan rumput yang berbeda. Degradasi bahan kering, serat deterjen netral dan protein kasar pelepah sawit lebih rendah dibandingkan dengan O. nodosa maupun G. maculata pada masa inkubasi 24-72 jam. Fraksi bahan kering dengan sifat sukar larut pada pelepah sawit lebih tinggi dibandingkan dengan O. nodosa maupun G. maculata. Laju degradasi fraksi bahan kering diperoleh sebesar 2,4% per jam pada pelepah sawit dan 3,1% per jam pada O. nodosa serta 3,5% per jam pada G. maculata. Tingkat konsumsi pelepah sawit yang diberikan sebagai pakan tunggal diperoleh sebesar 1,6% dari bobot badan domba dan konsumsi rumput mencapai 2,8% dari bobot badan domba. Koefisien cerna bahan kering pelepah kelapa sawit adalah moderat yaitu 0,51.Substitusi rumput dengan pelepah sawit sampai sebesar 83% tidak berpengaruh negatif terhadap pertambahan bobot badan domba. Atas dasar penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelepah sawit dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak domba, terutama sebagai substitusi sebagian rumput dalam ransum. | Pemanfaatan serat tandan kosong sawit untuk pot tanaman kelapa sawit pada pembibitan awal | | Erwinsyah , Kabul Pamin and Purboyo Guritno |
Pembibitan tanaman merupakan suatu tahapan penting dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit. Secara umum, pembibitan kelapa sawit dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu pembibitan awal dan pembibitan utama. Di pembibitan awal, kantong plastik mini biasanya digunakan untuk pembibitan kelapa sawit dengan ukuran tinggi, lebar, dan tebal berturut-turut 22 cm x 14 cm x 0,1 mm. Untuk lahan perkebunan dibutuhkan kantong plastik mini sebanyak 200 polibeg/ha. Jika rata-rata pertambahan luas pekebunan kelapa sawit sekitar 100.000 ha/tahun, maka jumlah kantong plastik mini yang dibutuhkan sekitar 20 juta polibeg atau 100 ton kantong plastik mini. Di lain pihak, tandan kosong sawit belum dimanfaatkan seluruhnya dan selalu menjadi masalah lingkungan. Tandan kosong sawit tersedia dalam jumlah yang besar dan berkesinambungan sepanjang tahun. Dalam penelitian ini, tandan kosong sawit diuraikan dan dibentuk seperti kantong plastik. Kantong dari tandan kosong sawit ini selanjutnya disebut polipot TKS. Setelah penggunaan percobaan selama 8 minggu, polipot TKS masih dapat mempertahankan bentuknya dan tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam pertumbuhan tanaman kelapa sawit antara tanaman yang di tanam dalam polipot TKS dengan tanaman dalam kantong plastik mini. | Formulasi margarin kaya provitamin A dari minyak sawit merah | Penelitian mengenai pemanfaatan lebih lanjut dari minyak sawit merah telah dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan formula tertentu dalam pembuatan margarin kaya provitamin A dari minyak sawit merah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minyak sawit merah dapat dijadikan sebagai bahan baku margarin kaya provitamin A. Margarin kaya provitamin A dapat dibuat dengan komposisi minyak margarin terdiri dari stearin 29,079%, minyak sawit yang dimurnikan, dipucatkan, dan dideodorisasi 24,385%, minyak inti sawit 11,041%, dan minyak sawit merah 34,000%. Pengujian kesesuaian sifat margarin tersebut memperlihatkan bahwa titik leleh dan komposisi asam lemak margarin hasil formulasi tidak jauh berbeda dengan titik leleh dan komposisi asam lemak margarin acuan. Kadar karoten margarin hasil formulasi adalah 84 ppm. Karoten tersebut sebagian besar mempunyai aktivitas provitamin A. |
|
|
|
|