| Arsyad. D. Koedadiri, Rachmad Adiwiganda, and Kusnu Martoyo |
Penelitian mengenai pertumbuhan dan produksi kelapa sawit varietas DxP pada tanah Hemic Troposaprist (gambut agak dalam dan gambut dalam) telah dilakukan di kebun Sungai Galuh PTP Nusantara V, Propinsi Riau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat produktivitas dan peubah pertumbuhan vegetatif kelapa sawit pada tanah gambut Hemic Troposaprist dibandingkan dengan pada tanah gambut Fluvaquentic Troposaprist (gambut dangkal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh peubah vegetatif kecuali lingkaran batang dan produksi aktual tandan buah sawit pada tanah Hemic Troposaprist nyata lebih rendah dibandingkan dengan pada tanah Fluvaquentic Troposaprist. Produksi tandan buah sawit dan pertumbuhan secara berangsur-angsur menjadi lebih rendah pada gambut Hemic Troposaprist. Hal ini diakibatkan oleh buruknya sifat fisik dan kimia tanah gambut Hemic Troposaprist. Indeks luas daun pada gambut agak dalam Hemic Troposaprist dan gambut dalam Hemic Troposaprist berturut-turut adalah 5,46 dan 3,88, lebih rendah dari indeks luas daun normal. Oleh karena itu kerapatan tanaman kelapa sawit pada gambut demikian dapat direkomendasikan dari 130 pohon/ha menjadi 143 pohon/ha.
| Deteksi dini Ganoderma pada kelapa sawit dengan teknik ELISA | | Condro Utomo, kabul Pamin, Frank Niepold and Christian Mollers |
Poliklonal - poliklonal antibodi dibuat dengan jalan mengimunisasi kelinci dengan ekstrak protein miselia dari isolat tunggal Ganoderma dan campuran 9 isolat Ganoderma. Kespesifikan kedua antibodi tersebut diuji dengan menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay tidak langsung terhadap contoh akar kelapa sawit dan jamur-jamur saprofitik yang berasosiasi dengan akar kelapa sawit sakit. Akar kelapa sawit sehat tidak memperlihatkan reaksi antibodi. Namun, antibodi bereaksi silang lemah dengan jamur-jamur saprofitik. Kedua antibodi dalam sistem enzyme-linked immunosorbent assay tidak langsung dapat mendeteksi keberadaan jamur Ganoderma pada kelapa sawit sehingga berguna untuk deteksi dini jamur tersebut.
| Formulasi minyak margarin dengan pendekatan linear programming | Minyak sawit dan minyak inti sawit beserta fraksi-fraksinya merupakan bahan yang baik untuk berbagai aplikasi di bidang pangan termasuk margarin. Margarin merupakan produk emulsi dengan tipe emulsi air di dalam minyak yang dibuat dari fase minyak, fase air, emulsifier, dan bahan lainnya seperti bahan penambah aroma, pewarna dan vitamin, serta antioksidan. Fase minyak margarin sangat menentukan sifat fisik margarin. Pada penelitian ini telah dilakukan formulasi minyak margarin menggunakan linear programming yang dapat menghemat waktu dan bahan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa komposisi bahan baku yang disarankan untuk pembuatan minyak margarin hanya dipengaruhi oleh perbedaan fungsi kendala. Pengujian kesesuaian titik leleh minyak margarin hasil formulasi dengan margarin acuan memperlihatkan bahwa titik leleh minyak margarin hasil formulasi mendekati titik leleh margarin acuan.
| Pemurnian dan sifat-sifat fruktosa ester asam lemak sawit yang disintesis secara enzimatis | | Tjahyono Herawan, Rakmi Abdul-Rahman and Othman Omar |
Etil asetat telah digunakan sebagai pelarut dalam pemurnian fruktosa ester asam lemak sawit secara khromatografi elusi. Dengan menggunakan pelarut ini hampir seluruh fruktosa ester yang disintesis secara enzimatis seperti fruktosa palmitat, fruktosa oleat dan fruktosa stearat dapat diisolasi, sementara dengan menggunakan pelarut khloroform hanya fruktosa palmitat dan fruktosa stearat saja yang dapat diisolasi. Hasil analisis sifat-sifat fisika kimia menunjukkan bahwa fruktosa ester ini mempunyai titik leleh antara 49 - 52,3 0C dan hydrophile lipophile balance yang termasuk ke dalam rentang untuk penggunaan kosmetik, deterjen dan makanan. Surfaktan ini juga dapat menurunkan tegangan permukaan air dari 72 dyne/cm kepada 38,3 dyne/cm.
| Sifat fisikokimiawi minyak goreng sawit merah dan minyak goreng sawit biasa | | Angga Jatmika and Purboyo Guritno |
Minyak sawit mentah yang diekstrak dari mesokarp buah kelapa sawit (Elaeis guineensis, Jacq.) merupakan bahan nabati yang paling tinggi mengandung karotenoida. Sebagian besar karotenoida di dalam minyak sawit mentah berupa b- dan a-karoten yang memiliki aktivitas provitamin A sangat tinggi. Untuk mempertahankan keberadaan karoten ini pada produk minyak sawit maka telah dikembangkan proses pembuatan minyak goreng sawit merah, jenis minyak sawit yang masih kaya karoten. Saat ini sudah terdapat tiga macam metode pembuatan minyak goreng sawit merah yaitu 1) dengan cara rafinasi kimiawi dipadu dengan deodorizer konvensional, 2) rafinasi menggunakan distilasi molekuler dan 3) rafinasi kimiawi dipadu dengan rotary evaporator. Sifat-sifat fisikokimiawi minyak goreng sawit merah yang dibuat dengan ketiga cara tersebut memiliki sifat fisikokimiawi yang hampir sama kecuali dalam hal aroma dan kadar karotennya. Dibandingkan dengan minyak goreng sawit biasa, minyak goreng sawit merah memiliki komponen beraktivitas sebagai provitamin A dan vitamin E berupa b-karoten dan a-tokoferol yang lebih tinggi. Karakter ini membuat minyak goreng sawit merah sangat baik dipandang dari segi kesehatan manusia. |
|
|
|
|