Pilihan Bahasa : 

Vol.5 No.1


 

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007
2008 Vol 16, No 1 Apr 2008    

 



* Pengaruh kelembaban nisbi dan media tumbuh terhadap pertumbuhan planlet kelapa sawit di pra pembibitan

* Pengaruh perbedaan subgrup tanah di lahan kering marjinal terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa sawit

* Kajian keragaman Ganoderma pada tanaman kelapa sawit dengan teknik ELISA

* Evaluasi penerimaan konsumen terhadap produk pangan yang digoreng dengan minyak sawit merah

* Pembuatan minyak sawit merah dengan proses fraksinasi ganda

Pengaruh kelembaban nisbi dan media tumbuh terhadap pertumbuhan planlet kelapa sawit di pra pembibitan
Subronto, G. Ginting, dan Fatmawati

Pertumbuhan planlet kelapa sawit di prapembibitan masih mempunyai masalah, yaitu sulitnya planlet tumbuh akibat stres yang dialami selama tahap aklimatisasi, karena belum berfungsinya akar secara optimum dan tidak tersedianya cadangan mekanan atau endosperma seperti halnya bibit yang berasal dari benih. Untuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan kejaguran komposisi media tumbuh di polibeg prapembibitan telah dilakukan penelitian pengaruh komposisi media tumbuh di polibeg dan kelembaban nisbi. Ternyata pengaruh perlakuan kelembaban nisbi yang lebih tinggi dari 70% (24,50C) meningkatkan pertumbuhan planlet antara lain: tinggi, jumlah daun, luas daun, dan kandungan klorofil sedangkan pengaruh media tumbuh tidak nyata terhadap seluruh parameter yang diamati.
 

Pengaruh perbedaan subgrup tanah di lahan kering marjinal terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa sawit
Rachmat Adiwiganda, A.D. Koedadiri, dan Z. Poeloengan

Penelitian keragaan tanaman kelapa sawit pada setiap subgrup tanah tersier marjinal telah dilakukan pada kompleks tanah yang didominasi koloid liat beraktivitas rendah (LAR) di kebun Sungai Buatan PTP Nusantara V Provinsi Riau. Penyebar­an subgrup tanah dipetakan dengan sistem Puslittanak Bogor. Untuk mengklasifikasikan tanah digunakan sistem Taksonomi Tanah 1990. Rancangan Acak Kelompok (RAK) telah digunakan untuk mengetahui pengaruh setiap subgrup tanah terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa sawit DxP tahun tanam 1985/86. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaan vegetatif dan produksi tanaman pada tanah Typic Paleudult nyata lebih tinggi dibanding dengan dua subgrup tanah lainnya, yaitu Psammentic Paleudult dan Plinthic Paleudult. Sedangkan diantara tanah Psammentic Paleudult dan Plinthic Paleudult tidak menunjuk­kan adanya perbedaan yang nyata baik dalam pertumbuhan vegetatif maupun produksi. Walaupun keragaan produksi kelapa sawit pada tanah Typic Paleudult adalah tertinggi dibanding dengan pada tanah-tanah LAR lainnya, namun masih tergolong lebih rendah dari produktivitas kelapa sawit pada lahan yang tergolong kelas kesesuaian lahan S3. Oleh karena itu peningkatan dosis pupuk dan pengelolaan tanah LAR yang lebih spesifik perlu dilakukan oleh pihak kebun.

Kajian keragaman Ganoderma pada tanaman kelapa sawit dengan teknik ELISA
Condro Utomo, Frank Niepold, dan Christian Mollers

Ekstrak protein larut dari Ganoderma dan campuran dari sembilan isolat Ganoderma digunakan untuk menghasilkan antibodi poliklonal pada kelinci. Dalam teknik ELISA tak langsung, PAb-campuran lebih peka dibandingkan dengan PAb-3 dalam identifikasi isolat Ganoderma dari kebun-kebun kelapa sawit. Meskipun kedua antibodi tersebut berbeda dalam hal kepekaan, keduanya menunjukkan pola yang hampir sama dalam identifikasi adanya keragaman Ganoderma. Reaksi homolog antigen pada isolat Ganoderma bervariasi antara 105-284% untuk PAb-campuran dan 100-280% untuk PAb-3.

 

Evaluasi penerimaan konsumen terhadap produk pangan yang digoreng dengan minyak sawit merah
Angga Jatmika dan Purboyo Guritno

Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui penerimaan konsumen terhadap minyak sawit merah dengan evaluasi penerimaan konsumen terhadap tahu dan telur yang digoreng dengan minyak sawit biasa dan minyak sawit merah. Minyak sawit merah memiliki keunggulan karena kandungan karotennya yang tinggi yaitu lebih dari 400 ppm bila dibandingkan dengan minyak sawit yang telah dipucatkan (minyak sawit biasa) yang mengandung 17 ppm. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kadar air, kadar minyak, dan komposisi asam lemak dari produk yang digoreng dengan minyak sawit merah tidak berbeda dengan produk yang digoreng dengan minyak sawit biasa. Produk yang digoreng dengan minyak sawit merah mempunyai kadar karoten lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang digoreng dengan minyak sawit biasa.Untuk menggoreng telur, minyak sawit merah dapat diterima konsumen setara dengan minyak sawit biasa. Sedangkan untuk menggoreng tahu, konsumen lebih menyukai penggunaan minyak sawit biasa. Nilai penerimaan konsumen terhadap produk pangan yang digoreng dengan minyak sawit merah umumnya antara biasa (netral) sampai agak suka.

Pembuatan minyak sawit merah dengan proses fraksinasi ganda
Endang Susilawati, Purboyo Guritno, dan Eka Nuryanto

Olein dapat diproduksi melalui proses fraksinasi ganda yang menghasilkan olein dengan sifat yang berbeda dengan olein yang dihasilkan dengan proses fraksinasi tunggal. Olein yang dihasilkan dengan cara fraksinasi ganda memiliki cold stability yang lebih baik. Pada penelitian ini proses fraksinasi ganda dilakukan untuk menghasilkan minyak sawit merah. Proses fraksinasi ganda meliputi dua tahapan proses. Olein yang dihasilkan dengan cara fraksinasi tunggal, difraksinasi ulang dengan suhu awal air pendingin 13oC, untuk mendapatkan fase supersaturated yang mendorong terjadinya pembentukan kristal. Olein yang dihasilkan didegumming menggunakan 0.1% (v/v) H3PO4 85% dan dinetralisasi dengan 24% (v/v) Na2CO3 14%. Perolehan minyak sawit merah adalah sebesar 72%, dengan Bilangan lod sebesar 59,26, Cloud Point 70C, dan Kadar Karoten 410 ppm.
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 2355
  • Unique Visitor: 775
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.95
  • Since: 2010-01-10