Pilihan Bahasa : 

Vol 16, No. 1 Apr 2008

1997Vol 5, No 1 Apr 1997Vol 5, No 2 Apr 1997Vol 5, No 3 Apr 1997
1998Vol 6, No 1 Apr 1998Vol 6, No 2 Apr 1998Vol 6, No 3 Apr 1998
1999Vol 7, No 1 Apr 1999Vol 7, No 2 Apr 1999Vol 7, No 3 Apr 1999
2000Vol 8, No 1 Apr 2000Vol 8, No 2 Apr 2000Vol 8, No 3 Apr 2000
2001Vol 9, No 1 Apr 2001Vol 9, No 2-3 Apr 2001 
2002Vol 10, No 1 Apr 2002Vol 10, No 2-3 Apr 2002 
2003Vol 11, No 1 Apr 2003Vol 11, No 2 Apr 2003Vol 11, No 3 Apr 2003
2004Vol 12, No 1 Apr 2004Vol 12, No 2 Agst 2004Vol 12, No 3 Des 2004
2005Vol 13, No 1 Apr 2005Vol 13, No 2 Agstr 2005Vol 13, No 3 Des 2005
2006Vol 14, No 1 Apr 2006Vol 14, No 2 Agst 2006Vol 14, No 3 Des 2006
2007Vol 15, No 1 Apr 2007Vol 15, No 2 Agst 2007Vol 15, No 3 Des 2007
2008Vol 16, No 1 Apr 2008  

 

Vol. 16 No.1

  

* Pengembangan deodorizer dan proses deodorisasi skala bench berbahan baku olein sawit kasar dalam produksi minyak sawit merah

* Mikroenkapsulasi minyak makan merah untuk produk suplemen dan fortifikan pangan

* Hubungan karakteristik lahan gambut dengan produksi kelapa sawit

* Karakteristik pedoagroklimat dan upaya optimalisasi produksi kelapa sawit di wilayah perbatasan Indonesia - Malaysia

* Kajian diferensiasi jenis kelamin pada pembentukan bunga kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) melalui pendekatan kuantitatif-statistik

Pengembangan deodorizer dan proses deodorisasi skala bench berbahan baku olein sawit kasar dalam produksi minyak sawit merah
Donald Siahaan, Jawaris Sinaga, dan Anton Tumanggor

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah mengembangkan teknologi proses dan alat skala bench untuk menghasilkan minyak sawit merah dan minyak makan.Salah satu masalah yang belum diselesaikan adalah proses deodorisasi untuk meningkatkan kualitas minyak. Pengembangan teknologi ini untuk mengatasi masalah rendahnya viabilitas industri kelapa sawit karena tingkat keragaman produk kelapa sawit serta sentra industri dan perkebunan yang berjauhan. Penelitian ini bertujuan merancang deodorizer skala bench dan menentukan faktor teknologi optimum yaitu suhu, tekanan uap dan waktu proses untuk deodorisasi olein kasar.

Deodoriser yang dirancang dalam penelitian ini berkapasitas 3 kg/bacth yang tersusun atas  dua buah silinder baja anti karat berdiameter masing-masing 8,5 inci dan 6,5 inci dan tinggi 20 inci, ruang di dalam diperlengkapi dengan silinder pensirkulasi (diameter 4 inci, tinggi 12 inci, menggantung 2 inci dari dasar deodoriser) dan dihubungkan dengan pompa vakum dan pressure cooker. Hasil pengujian fungsional menunjukkan bahwa deodoriser mampu menghasilkan minyak makan merah dengan kualitas yang baik secara fisik maupun kimia.

Semakin tinggi suhu proses cenderung memucatkan warna minyak yang dihasilkan karena kandungan karoten yang menurun. Suhu yang lebih tinggi juga menurunkan kadar air dan kandungan asam lemak bebas.  Suhu proses yang optimum adalah 160 oC dan waktu proses 120 menit dipandang dari karakteristik kehilangan bau yang tidak dikehendaki, warna, kadar air dan kadar asam lemak bebas. Pada kondisi optimum, mutu produk yang dihasilkan selain memiliki bau yang netral adalah kandungan karoten 518 ppm, tingkat warna merah 9,6, tingkat warna kuning 12,4, kadar air 0,009% dan kadar asam lemak bebas 0,171%.

Key words: Deodorizer, karoten, minyak sawit merah, olein sawit kasar.

Mikroenkapsulasi minyak makan merah untuk produk suplemen dan fortifikan pangan
Jenny Elisabeth, Donald Siahaan dan Nuri Andarwulan

Minyak kelapa sawit merupakan sumber beta-karoten dan vitamin E yang tinggi. Diversifikasi minyak sawit menjadi suplemen makanan yang memanfaatkan kandungan gizi minor yang tinggi ini merupakan strategi yang baik untuk meningkatkan nilai tambahnya sekaligus penyediaan gizi minor bagi masyarakat dengan mengandalkan produk lokal. Tulisan ini melaporkan hasil penelitian pengembangan teknologi proses mikroenkapsulasi minyak makan merah untuk dapat  digunakan sebagai bahan suplemen (farmasetikal atau nutrasetikal) dan fortifikan produk pangan sumber provitamin A dan vitamin E.  

Proses mikroenkapsulasi minyak makan merah dilakukan melalui penyemprotan emulsi minyak dan air dengan metode spray drying menggunakan beberapa jenis bahan penyalut.  Faktor-faktor lain yang diteliti adalah jumlah minyak dalam formula (30 – 70% b/b bahan penyalut) serta kondisi homogenisasi yang mencakup kecepatan putar alat homogenizer dan teknik pencampuran bahan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa laktosa Na-caseinat dan β-cyclodextrin merupakan bahan penyalut yang paling baik untuk pembuatan mikrokapsul minyak makan merah.  Jumlah minyak optimum yang digunakan pada bahan penyalut laktosa Na-caseinat adalah 30%, sedangkan β-cyclodextrin adalah 44%. Jumlah minyak yang terenkapsulasi pada bahan penyalut laktosa Na-caseinat lebih tinggi dibandingkan yang terdapat pada permukaan mikrokapsul, dan hal sebaliknya yang terjadi pada bahan penyalut β-cyclodextrin.  Terdapat penurunan kandungan karoten pada minyak makan merah yang dienkapsulasi apabila dibandingkan dengan bahan baku minyak awalnya, di mana tingkat retensi karoten minyak makan merah yang terdapat pada mikrokapsul berkisar 73 - 90%.  Sebaliknya, kandungan α -tokoferol pada minyak  makan merah yang dienkapsulasi relatif stabil.  Penambahan minyak yang dilakukan secara bertahap pada saat proses emulsifikasi merupakan cara yang lebih baik untuk meningkatkan efektivitas proses mikroenkapsulasi.  Dengan cara ini, kecepatan perputaran homogenizer yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi (1500 rpm).

Kata kunci: Karoten, mikroenkapsulasi, minyak makan merah, vitamin E

Hubungan karakteristik lahan gambut dengan produksi kelapa sawit
 Winarna dan Suroso Rahutomo

Penelitian untuk mengetahui model hubungan komponen-komponen (karakteristik) lahan gambut dengan produksi  kelapa sawit telah dilakukan di 19 lokasi yang tersebar di beberapa perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut di wilayah Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kondisi iklim seperti curah hujan, bulan kering, dan temperatur bukan merupakan faktor pembatas, produksi kelapa sawit di lahan gambut memiliki hubungan korelasi dengan kematangan gambut, kedalaman gambut, kandungan bahan kasar, kadar abu, kedalaman sulfidik, dan pH tanah. Model hubungan tersebut adalah Y = –27,364 + 0,045*Kematangan + 0,162*Kedalaman + 0,145*Kandungan Bahan Kasar – 0,202*Kadar Abu + 0,207*Kedalaman Sulfidik + 0,170*pH tanah, dengan R = 0,972.

Kata kunci : Karakteristik lahan, gambut, kelapa sawit 

Karakteristik pedoagroklimat dan upaya optimalisasi produksi kelapa sawit di wilayah perbatasan Indonesia - Malaysia
S. Rahutomo, E.S. Sutarta, H. Santoso, E.N.  Ginting, D. Wiratmoko
Pembangunan wilayah perbatasan menjadi kebutuhan mendesak agar wilayah ini dapat tumbuh menjadi sentra-sentra ekonomi baru. Salah satu alternatif ini dapat tumbuh menjadi sentra-sentra ekonomi baru. Salah satu alternatif pembangunan wilayah perbatasan adalah melalui pengembangan perkebunan kelapa sawit yang selama ini telah terbukti mampu menciptakan multiplier effects dalam mendorong percepatan pembangunan wilayah. Untuk membangun perkebunan kelapa sawit dengan produktivitas yang optimal sekaligus ramah lingkungan, informasi karakteristik pedoagroklimat dan kultur teknis yang tepat sangat diperlukan. Dalam rangka memenuhi tuntutan tersebut, telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk (i) menganalisis karakteristik pedoagroklimat di wilayah perbatasan serta kaitannya dengan persyaratan agronomis kelapa sawit, dan (ii) menginventaris upaya-upaya pendukung untuk optimalisasi produksi kelapa sawit. Penelitian dilakukan melalui analisis data sekunder yang didukung dengan observasi lapangan pada salah satu lokasi yang merupakan bagian dari areal pengembangan perkebunan kelapa sawit di wilayah perbatasan, yaitu di Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sanggau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakteristik pedoagroklimat, wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia terutama pada rentang 10 km dari garis batas memiliki memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai areal budidaya kelapa sawit, yaitu seluas  + 71.506 ha di Kabupaten Sanggau dan + 44.662 ha di Kabupaten Sintang. Untuk budidaya kelapa sawit, kebijakan pemupukan yang tepat perlu diperhatikan mengingat kesuburan tanah yang umumnya rendah serta curah hujan yang melebihi 300 mm per bulan pada bulan-bulan tertentu. Upaya-upaya pendukung lainnya yang perlu dilakukan untuk optimalisasi produktivitas kelapa sawit di wilayah perbatasan adalah survei yang lebih detil untuk penataan wilayah sesuai daya dukung tanah dan iklim, pembukaan lahan tanpa bakar, pembangunan konservasi tanah dan air, serta perlakuan reklamasi lahan bekas tambang utamanya untuk areal-areal bekas kegiatan pertambangan di Kabupaten Sintang.  

Kata kunci: kelapa sawit, pedoagroklimat, wilayah perbatasan.

Kajian diferensiasi jenis kelamin pada pembentukan bunga kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) melalui pendekatan kuantitatif-statistik

Iman Yani Harahap

Periode pembentukan suatu jenis bunga masih belum banyak diketahui, demikian juga periode aborsi yang diduga berperan dalam pengaturan genetis proporsi jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan mengkaji keteraturan susunan seri diferensiasi jenis kelamin dan aborsi tandan bunga pada kondisi lingkungan yang tidak tercekam melalui pendekatan kuantitatif-statistik. Penelitian dilakukan di kebun Bah Jambi, Simalungun, Sumatera Utara, yang memiliki jenis tanah Typic Dystrudept. Tanaman kelapa sawit yang diamati berumur 10 tahun, yang merupakan material klon MK-60. Analisis statistik yang dilakukan meliputi uji runtunan untuk mengetahui sifat keteraturan diferensiasi jenis kelamin tandan bunga, uji kebaikan-suai menggunakan statistik Ñ…2 (Chi-square) pada hitung peluang munculnya suatu seri sekuensial susunan diferensiasi jenis kelamin tandan bunga (termasuk peristiwa aborsi), dan uji non parametrik peringkat Spearman untuk mengetahui keterkaitan peristiwa aborsi dengan produksi tandan bunga betina dan jantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rerata sex-ratio adalah 0,63 dengan jumlah tandan bunga yang aborsi adalah 10 % . Susunan seri pembentukan jenis bunga kelapa sawit tidak acak dan  memilki pola keteraturan. Peluang terbentuknya tandan bunga betina adalah besar apabila pembentukan bunga ebelumnya juga betina (FFF, FFM, dan FFA).  Peluang pembungaan terkecil adalah seri bunga aborsi, betina, dan jantan atau aborsi (AFM, AFA) . Pembentukan bunga jantan memiliki peluang yang besar apabila sebelumnya juga telah terbentuk bunga jantan dan setelah bunga jantan tersebut muncul peluang terbesar berikutnya adalah munculnya bunga jantan lagi (MMM). Pada kejadian tandan bunga aborsi, maka peluang tertingi bunga yang muncul berikutnya adalah kejadian aborsi kembali. Kejadian tandan bunga aborsi tidak terkait dengan jumlah produksi tandan bunga jantan dan betina dalam suatu periode.  

Kata Kunci: Diferensiasi jenis kelamin, bunga jantan, bunga betina, aborsi, sex-ratio, peluang, kelapa sawit

 

[ Back ]

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12802
  • Unique Visitor: 3191
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.100
  • Since: 2010-08-18