Pengukuran hasil panen tandan buah yang diskrit akan menyebabkan informasi yang bias mengenai produktivitas sesungguhnya tandan buah segar. Untuk menganalisis produktivitas tandan buah kelapa sawit untuk tujuan anlalisis fisiologis tanaman, maka pengukuran bobot tandan secara “standing biomass” dapat dilakukan untuk mengurangi bias tersebut. Paper ini bertujuan mengembangkan metode pengukuran pertumbuhan tandan buah segar secara “standing biomass” untuk tujuan analisis respons fisiologis kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan di kebun Bah Jambi, PTP Nusantara IV, pada tanaman berumur 10 tahun. Penelitian dilakukan dalam 2 seri pengukuran. Seri pertama pengukuruan bertujuan untuk membangun persamaan regresi yang dapat mengestimasi bobot tandan buah secara non-destruktif. Seri kedua pengukuran bertujuan mengaplikasikan metode non-destruktif untuk mengukur bobot tandan buah segar secara ”standing biomass”. Sembilan puluh empat persen hasil pengukuran hubungan antara diameter melintang tandan buah dengan bobot segar tandan buah dapat digambarkan dengan baik oleh suatu persamaan eksponensial. Panen tandan buah segar selama periode 1 tahun menunjukkan bobot yang lebih tinggi sekitar 11 % terhadap hasil pengukuran pertumbuhan tandan buah segar secara standing biomass. Untuk mengurangi bias analisis hasil suatu percobaan lapang kelapa sawit, maka disarankan menggunakan akumulasi data yang relatif panjang (misal 3 tahun). Apabila data hasil panen yang digunakan sekitar 1 tahun, maka data tersebut selayaknya dikoreksi dengan mengurangi sekitar 11 % terhadap hasil panen tandan buah segar. Kata kunci: standing biomass, pengukuran, tandan buah | Feromon: Era baru pengendalian hama ramah lingkungan di perkebunan kelapa sawit | | Condro Utomo, Tjahjono Herawan dan Agus Susanto |
Feromon merupakan senyawa kimia yang bersifat alami, ramah lingkungan dan spesifik spesies serta mencegah terjadinya resistensi terhadap serangga hama sehingga menjadikan pilihan alternatif yang tepat dalam pengelolaan hama. Feromon sebagai alat monitoring dan penangkapan secara masal telah diaplikasikan pada hama-hama di perkebunan kelapa sawit. Sebagai alat monitoring, dengan feromon timbulnya hama dapat diprediksi dan sebagai alat penangkap secara masal, populasi hama dapat diturunkan pada posisi di bawah ambang ekonomi. Penelitian feromon di Pusat penelitian Kelapa Sawit difokuskan untuk mensintesis dan memproduksi feromon untuk hama-hama dari golongan coleoptera, lepidoptera dan isoptera di perkebunan kelapa sawit. Dua feromon untuk Oryctes rhinoceros dan Rhynchophorus ferrugineus telah berhasil disintesis dan diproduksi secara komersial, sedangkan feromon-feromon lainnya masih dalam evaluasi dan pengujian di lapang untuk uji efektivitas terhadap hama-hama target. Kata kunci: kelapa sawit, feromon, hama, traping | Asam dikarboksilat dan dimetil ester stearat dari hasil karbonilasi asam oleat menggunakan katalis PdCl2 | | Nimpan Bangun dan Donald Siahaan | | Asam oleat yang dikarbonilasi pada suhu kamar di bawah tekanan gas CO dan O2 menggunakan katalis PdCl2. Turn over reaksi ini adalah 0,5 per jam. Struktur produk yang dihasilkan berbentuk siklis anhidrik. Hal ini telah dibuktikan dari turunan-turunan reaksi, yang di hydrolysis dalam basa dan diekstraksi dalam larutan asam yang menghasilkan suatu asam dikarboksilat, kemudian diesterifikasi menggunakan campuran methanol/asam sulfat. Turunan akhir yang diperoleh adalah dimetil-2-oktil undekana - 1.11-dioat. Karakterisasi asam dikarboksilat dan diester dengan menggunakan spektroskopi infra merah ditandai dengan resonansi proton nuclear magnetic. GC-MS digunakan untuk penentuan bobot molekul diester. Puncak utama pada M.+356 tidak dapat dikenali, tetapi diperoleh bahwa (M-COOCH3)+ sebagai fragmen CH2(CH2)16 COOCH3+ Kata kunci: Asam dikarboksilat, asam oleat, diester, PdCl2 | Pengaruh penggunaan bahan bakar biodiesel sawit terhadap konsumsi dan emisi mobil diesel tipe common rail | | M. Ansori Nasution, Darnoko, Tjahjono Herawan | Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pemakaian bahan bakar dan emisi gas toyota Innova diesel dengan sistem pembakaran common rail. Perbandingan penggunaan bahan bakar adalah dengan membandingkan petrodiesel dengan biodiesel 10%. Jarak tempuh selama pengujian mencapai 40.000 Km. Emisi gas diukur dengan menggunakan gas analyzer dan konsumsi bahan bakar dengan metode make-up tank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendaraan menggunakan 10% biodiesel memiliki emisi gas lebih rendah dari kendaraan menggunakan petrodiesel. Kata kunci: Biodiesel, Common rail, Gas emission. | Faktor pendukung dan penghambat pengembangan wilayah transmigrasi kelapa sawit di perbatasan (Kasus UPT Simanggaris dan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur) | Roby Fauzan dan Luqman Erningpraja | Telah dilakukan identifikasi faktor pendukung dan penghambat pengembangan kawasan transmigrasi di kawasan perbatasan Kalimantan – Malaysia dengan studi kasus UPT Simanggaris dan Sebuku di Kabupaten Nunukan provinsi Kalimantan Timur. Pengambilan data dilakukan melalui pengamatan lapangan dan wawancara kepada tokoh kunci yang dibahas secara kualitatif eksploratif. Berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa faktor pendukung di kedua lokasi transmigrasi tersebut adalah adanya industri perkayuan yang menopang kegiatan ekonomi setempat serta pembangunan jalan negara. Faktor penghambat antara lain buruknya kondisi keuangan perusahaan bapak angkat, adanya transmigran kutu loncat, kurangnya SDM yang kompeten dari pihak pemerintah Kabupaten serta kurangnya infrastruktur air dan listrik. Secara khusus, faktor pendukung lainnya untuk kawasan Sebuku adalah mudahnya akses dengan ibukota kabupaten Malinau via darat dan ibukota kabupaten Nunukan via air. Faktor pendukung lainnya di kawasan Simanggaris adalah lahan transmigrasi relatif jauh dengan penduduk asli. Faktor penghambat lainnya untuk lokasi Sebuku adalah peredaran bibit palsu dan konflik lahan perusahaan bapak angkat dengan penduduk asli, sedangkan di Simanggaris faktor penghambat lainnya adalah kurangnya ketersediaan infastruktur telekomunikasi dan informasi serta frekuensi kapal bersubsidi dari ibukota Kabupaten. Kata kunci: transmigrasi, pembangunan kawasan perbatasan Kalimantan – Malaysia [ Back ] |
|
|
|
|