S. Rahutomo, H. H. Siregar, dan E. S. Sutarta
| Keterbatasan lahan dengan karakteristik yang optimal untuk budidaya kelapa sawit di Indonesia telah menimbulkan wacana bagi para praktisi perkebunan untuk melirik lahan-lahan marjinal bagi pengembangan kelapa sawit di masa depan, misalnya lahan-lahan di wilayah yang memiliki curah hujan agak rendah atau distribusinya yang akan dihadapi pada wilayah seperti ini tentunya adalah keterbatasan air terutama pada musim kemarau. Pada kondisi ini, irigasi penting untuk mencegah dampak buruk cekamanm kekeringan terhadap pertumbuhan vegetatif dan produksi kelapa sawit yang timbul akibat terbatasnya suplai air terkait dengan rendahnya curah hujan pada bulan-bulan tertentu dalam setiap tahunnya. Terhadap beragam sistem irigasi yang berpotensi untuk diaplikasikan di perkebunan kelapa sawit misalnya surface irrigation, sub irrigation, spinkler, drip, dan beberapa sistem lainnya. Pertimbangan biaya, sumber air, efisiensi penggunaan air, efektivitas, dan kelayakan untuk diterapkan pada kondisi spesifik lokasi harus menjadi dasar sebelum mengambil keputusan untuk mengaplikasikan salah satu sistem irigasi tersebut demi meraih keuntungan maksimal dari upaya irigasi pada perkebunan kelapa sawit. Kata kunci: irigasi, air, kelapa sawit | Pengaruh jumlah dan jenis adsorben pada penyerapan warna crude glycerol dari hasil samping pembuatan biodiesel | | Eka Nuryanto dan Dewi Kasita | Hasil samping dari pembuatan metil ester adalah crude glycerol. Kandungan warna crude glycerol ini adalah yellow sebesar 2,2 yang akan dihilangkan melalui proses adsorpsi dengan menggunakan adsorben karbon aktif dan arang tempurung kelapa. Dua puluh sampel crude glycerol diadsorpsi dengan variasi jumlah penggunaan adsorben 0,1% sampai 5%. Kondisi yang optimum diperoleh pada penggunaan 0,4% karbon aktif. Dari hasil analisa dan perhitungan yang telah dilakukan diperoleh bahwa hubungan antara variasi penggunaan karbon aktif dengan kadar warna adalah berbanding terbalik dengan persamaan garis regresi hiperbola Y = 0,414 – 1,458 X-1 dengan harga koefisien korelasi r = -0,4016. Sedangkan hubungan antara variasi penggunaan arang tempurung kelapa dengan kadar warna adalah berbanding lurus dengan persamaan garis regresi linier Y = 2,36 + 0,6446 X dengan harga r = 0,946. | Prospek usaha dan titikjenuh pengembangan areal perkebunan kelapa sawit Indonesia | | Luqman Erningpraja dan A. Kurniawan | Permintaan minyak nabati dunia (termasuk fats) memiliki tren meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar, 3,01% per tahun. Penemuan teknologi baru di bidang pengolahan minyak terutama menyangkut sumber energi alternatif pengganti minyak bumi semakin meningkatkan potensi permintaan atas minyak nabati dunia termasuk di dalamnya minyak kelapa sawit. Prospek usaha yang cerah, harga produk yang kompetitif dan industri berbasis kelapa sawit yang beragam dengan skala usaha yang fleksibel, telah menjadikan banyak perusahaan dalam berbagai skala maupun petani yang berminat untuk membangun industri kelapa sawit, mulai dari kebun hingga industri hilir. Bagi Indonesia, peluang pengembangan kelapa sawit juga ditunjang oleh potensi sumberdaya alam yang dimiliki, antara lain terjaminnya ketersediaan lahan dan tenaga kerja, letak geografis yang sangat strategis dan daya tarik investasi yang cukup tinggi. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kelapa sawit dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di seluruh nusantara. Tidak semua industri kelapa sawit akan kompetitif untuk dibangun di seluruh wilayah Indonesia dan dapat dilakukan oleh semua golongan pengusaha/orang. Beberapa faktor yang terkait dengan kelayakan usaha relatif menekan laju pengembangan industri kelapa sawit Indonesia, termasuk di dalamnya masalah permodalan hingga kondisi dan ketersediaan infrastruktur dan sarana penunjang industri lainnya. Sementara itu isu liberelisasi dan globalisasi perdagangan mengharuskan pencapaian produk dari suatu proses produksi yang efisien, tidak terkecuali untuk produk-produk kelapa sawit Indonesia. Titik jenuh pengembangan areal perkebunan kelapa sawit Indonesia diproyeksikan seluas 7,54 juta ha dan dicapai dalam periode 10-15 tahun mendatang atau pada tahun 2014-2019. Terlepas dari proyeksi tersebut, secara prinsip aktual pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia akan terus berjalan sampai dengan sebuah kondisi dimana “manfaat ekonomi” yang diperoleh dari pertambahan satu satuan luas areal kebun kelapa sawit tidak lagi memberikan nilai lebih dari “biaya ekonomi” yang harus dikeluarkan. | | |