|
Evaluation of the primer pairs designed from the nucleotide sequence corresponding to the amino acid sequence ILHCHI of laccase gene as reverse primer Lac 2b 2 (5'GATGTGGCAGTGGAGGAT3') and the introns of laccase gene as forward primer was tested for the specificity for Ganoderma isolated from oil palm. PCR amplification by using primer pairs of Lac 2b 2-Intron 5 (5'TATTCCCTCCTCCCCTGT3') and Lac 2b 2-Intron 2 (5'GAAGGCCTCCAAGACAAG 3') produced a single band with PCR product about 1012 bp and 213 bp for Ganoderma isolated from oil palm and no PCR product any other Ganoderma species tested, indicating that they are species-specific primers for oil palm Ganoderma. The primer pairs Lac 2b 2-Intron 1 (5'AGGGTCCAGGTACAGCAG 3') and Lac 2b 2- Intron 9 (5'CTCATGGTAGT GCGCAG 3') showed no cross-reaction with any other Ganoderma species tested but there were additional bands observed as the results of the random amplification using the primers in several other Ganoderma species Amplification with primer pair Lac 2b 2-Intron 4 (5'GTCCCCTTCGGATAA CAG 3') indicated a cross-reaction by producing a faont band of about 508 bp for G. applanatum BAFC 2552 and applanatum BAFC 2408.
Keywords: specific primer, laccase gene, Ganoderma
| Studi permasalahan water management pada kebun kelapa sawit menggunakan pendekatan Geographic Information System (Kasus kebun Bentayan, Sumatera Selatan) |
| Heri Santoso dan Hasril H. Siregar |
Areal pengembangan tanaman kelapa sawit di kebun Bentayan dengan luas areal 5.278 ha terletak pada lahan kering seluas 4.093 ha dan lahan basah seluas 1.185 ha. Jenis tanah yang dijumpai di kebun Bentayan adalah Typic Plinthudults, Typic Dystrudepts, dan Aeric Endoaquepts (red: Alluvial dan Podsolik) dengan tingkat kesuburan tanah yang rendah-sedang untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Interprestasi peta hasil overlay antara peta kebun hasil digitasi dengan peta kontur yang diturunkan dari data DEM USGS serta survei lapangan dengan GPS menunjukkan bahwa areal yang mempunyai masalah drainase sebenarnya merupakan areal cekungan yang terisi air yang tidak bisa ke luar (terjebak). Areal cekungan dengan kondisi air terjebak berada ketinggian 13-16 meter di atas permukaan laut (m dpl) dan bisa digolongkan pada ketinggian 17-20 m dpl mempunyai karakteristik permasalahan drainase yang relatif lebih mudah ditangani (kategori ringan) dibandingkan dengan areal pada ketinggian 13-16 m dpl. Areal yang berada pada ketinggian lebih dari 20 m dpl praktis tidak terdapat permasalahan drainase.
Kata kunci: drainase, water management, kelapa sawit.
| Isolasi, karakterisasi dan pemurnian cendawan mikoriza arbuskular dari dua lokasi perkebunan kelapa sawit (bekas hutan dan bekas kebun karet) |
| Elis Kartika, Sudirman Yahya, dan Sri Wilarso |
|
Setiap rhizosfir suatu tanaman dalam suatu ekosistem memiliki berbagai jenis mikroorganisme termasuk Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA). Masing-masing ekosistem mengandung jenis CMA yang beragam dan untuk mengetahui jenis CMA tersebut perlu diadakan kegiatan isolasi, karakterisasi dan pemurnian spora CMA. Penelitian ini bertujuan mengiswolasi, mengkarakterisasi dan memurnikan CMA dari dua lokasi perkebunan kelapa sawit yaitu pada tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) bekas hutan dan PMK bekas kebun karet. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pada setiap jenis tanah hanya ditemukan dua genus CMA yaitu Glomus dan Acaulospora. Jenis CMA di rizosfir kelapa sawit yang ditanam pada kedua jenis tanah tersebut masing-masing diperoleh sembilan jenis CMA yaitu di tanah PMK bekas hutan terdiri dari lima tipe Acaulospora dan empat tipe Glomus dan dua tipe Acaulospora. CMA di rizosfir kelapa sawit yang ditanam pada tanah PMK bekas hutan didominasi oleh jenis Acaulospora, sedangkan di tanah PMK bekas kebun karet didominasi oleh Glomus.
Kata kunci: isolasi, karakterisasi, pemurnian, CMA, PMK
| Analisis kegagalan bottom cone-hydrocyclone pada alat dan mesin pemisah antara inti dan cangkang sawit |
| Bagus G. Yudanto dan Darnoko |
Proses fabrikasi elemen mesin melalui teknik pengecoran rentan mengalami cacat yang dapat meningkatkan kegagalan produk sebelum umur pakai tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kegagalan yang sering terjadi pada salah satu komponen alat pemisah antara cangkang dan inti sawit, yaitu bottom cone-hydrocyclone. Pengamatan dilakukan menggunakan metode analisis kegagalan (failure analysis) dengan pendekatan secara makro dan mikro. Analisis kegagalan merupakan suatu metode investigasi secara sistematik yang dilakukan untuk mengungkapkan kegagalan yang terjadi pada sebuah obyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurunnya umur pakai bottom cone-hydrocyclone disebabkan karena struktur mikronya yang berbentuk serpihan tajam (flake), cacat volume berupa inklusi, dan permukaan kasar akibat pengerjaan mesin menjadi pemicu utama terdegradasinya permukaan bottom cone secara sporadik. Degradasi permukaan secara sporadik di bawah pengaruh kecepatan aliran fluida, partikel dan gelembung udara yang menhantam permukaan diding bottom cone hingga menyebabkan pitting dan cenderung membentuk alur menuju satu arah ini, diidentifikasi sebagai serangan korosi erosi.
Kata kunci: Analisa Kegagalan, Korosi Erosi, Hydrocyclone.
| Keragaan vegetatif, kualitas minyak dan karakter tandan hasil silang balik BC-1 antara Elaeis oleifera x E. guineensis |
|
Hernawan Y. Rahmadi, Nanang Supena, Heri A. Siregar, Sujadi dan A. Razak Purba
|
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan tanaman kelapa sawit unggul yang mempunyai kandungan CPO sekaligus ALTJ yang tinggi serta keragaan vegetatif yang kompak. Dari hasil pengamatan tanaman BC-1 diketahui bahwa pertumbuhan meninggi dan panjang pelepah BC-1 lebih lambat dan pendek dibandingkan tetua E. guineensis-nya. Pada umur 16 tahun persilangan C tinggi tanaman dan panjang pelepahnya hanya mencapai 497,13 dan 430,73 cm. Kualitas minyak BC-1 juga masih lebih baik dibandingkan tetua E. guineensis-nya, rasio kandungan ALJ dan ALTJ persilangan C mencapai 48,97% dan 50,94%. Dari persilangan C ini diperoleh empat individu yang memiliki performa terbaik dan potensial menjadi kandidat varietas kelapa sawit yang kompak. Dari hasil pengamatan karakter tandan diketahui bahwa bentuk tandan dan buah BC-1 lebih lonjong serta durinya lebih pendek dibanding varietas DP La Me, Yangambi dan Simalungun.
Kata kunci: keragaan vegetatif, kualitas minyak, silang balik, E.guineensis, E.oleifera.
[ Back ]
|
|
|
|
|