| Winarna, M.L. Fadli, D. Wiratmoko, dan E.S. Sutarta | Pemanfaatan tanah yang terbentuk dari bahan abu vulkanik terutama yang terbentuk dari aluvial ash mempunyai karakteristik khas sehingga diperlukan pemahaman yang tepat dan menyeluruh. Upaya mengetahui karakteristik dan kesesuaianya untuk pemgembangan kelapa sawit pada tanah yang terbentuk dari aluvial ash telah dilakukan studi di Dataran Arfak, kabupaten Manokwari. Hasil studi menunjukkan tanah yang terbentuk dari aluvial ash di Dataran Arfak meliputi Typic Udipsaments - halus - campuran - isohipertermik, Aeric Endoaquepts - halus campuran - isohipotermik, dan Typic Eutrudepts - halus - campuran - isohipertermik. Secara umum tanah-tanah tersebut memiliki tingkat kesuburan tanah yang cukup baik, hak ini dapat dilihat antara lain dari nilai pH, KTK, kejenuhan basa tanah, dan kejenuhan Al. Kelas kesesuaian lahan (KKL) aktual pada lahan yang tersusun atas tanah dari bahan aluvial ash di dataran Arfak terdiri dari kelas S2 (Sesuai) pada lahan yang didominasi oleh tanah Typic Udipsamments, S3 (sesuai bersyarata) pada lahan yang didominasi oleh tanah Aeric Endoaquepts, dan kelas N2 (tidak sesuai parmanen) pada lahan yang didominasi oleh tanah Typic Eutrudepts. Unit kesesuaian lahan aktual berturut-turut S2-bl.sl.tl.dl, S3-s2.d2, dan N2-b3.s3.tl. Lahan yang didominasi oleh jenis tanah Typic Eutrudepts dengan kelas lahan N2 tidak disarankan untuk pengembangan tanaman kelapa sawit karena memiliki faktor pembatasan Kata kunci : Aluvial ash, kelapa sawit. Perbaikan sifat fisik dan tingkat kesuburan tanah dapat dilakukan antara lain dengan aplikasi bahan organik (antara lain : TKS dan limbah cair), penanaman tanaman kacangan penutup tanah, dan pemupukan yang berimbang. Melalui perbaikan tersebut kelas lahan potensial yang dapat dicapai adalah kelas S2 dengan potensi produksi TBS rat-rata sebesar 22 to/ha/th selama satu siklus pertanaman kelapa sawit (25 tahun). Kata kunci : abu aluvial, kelapa sawit. | Analisis intersepsi hujan tanaman kelapa sawit | | Hasril H. Siregar, K. Mutilaksono dan E. S. Sutarta | Penelitian dilakukan di Afdeling III, blok 375, 415, dan 414 atau disebut blok 1, 2, dan 3 perkebunan kelapa sawit Unit Usaha Rejosari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, lampun,. Pengukuran lolosan tajuk (throughfall) dan aliran batang (stemflow) dilakukan pada musim hujan (Januari 2006) hingga awal musim kemarau (Mei 2006). Lolosan tajuk (throughfall) dihitung dengan memasang penakar hujan di bawah tajuk tanaman kelapa sawit dalam tiga model, yaitu berupa penampung besi, corong, dan talang. Aliran batang (stemflow) diukur dengan menampung air hujan yang mengalir pada bagian ujung bawahnya yang ditanam di tanah. Lolosan tajuk dan aliran batang diukur setiap pagi hari setelah turun hujan sehari sebelumnya. Pengukuran lolosan tajuk dan aliran batang dilakukan pada tiga tanaman contoh pada setiap micro catchment di dalam setiap blok penelitian atau sembilan set stasiun pengamatan di seluruh lokasi penelitian. Pada curah hujan yang tinggi, intersepsi ditentukan nilai maksimumnya (pada curah hujan 25 mm untuk blok 1 dan 2; serta curah hujan 20 mm untuk blok 3), dan curah hujan yang lebih kecil atau sama dengan 3.0 mm, seluruhnya diintersepsi oleh tajuk tanaman kelapa sawit. Intersepsi rata-rata bulanan pada setiap blok bervariasi yaitu 12 hingga 34 persen. Nilai intersepsi tanaman kelapa sawit bukan hanya karena tertahan oleh daun dan pelepah tetapi lebih banyak tertahan pada "ketiak" pelepah yaitu pangkal pelepah dengan batang pohon kelapa sawit. Kata kunci: aliran batang, cucuran tajuk, intersepsi maksimum | Isolation of partial laccase gene of Ganoderma in oil palm using primer designed from Copper-Binding Region | | Condro Utomo | Sepasang primer yang dirancang dari sekuen konsensus yang berasal dari daerah " copper-binding" pada domain N-terminal dari gen-gen laccase jamur dari klas basiodiomycet digunakan untuk mengisolasi gen laccase yang berasal dari Ganoderma pada kelapa sawit. Pasangan primer Lac 2a-Lac 2r menghasilkan produk PCR berukuran kira-kira 1617 bp. Pencarian identitas berdasarkan komputer pada bankdata dari produk PCR menunjukkan bahwa produk PCR tersebut adalah benar gen laccase. Sekuen dari gen laccase dari Ganoderma asal kelapa sawit menunjukkan homologi sekuen sebesar 44,5-76,7% dengan gen laccase dari jamur basidiomycet lain dan mengelompok pada jamur Tremetes villosa pada pohon philogenetik. Kata kunci: gen laccase partial, kelapa sawit, Ganoderma | Pengaruh penggunaan bahan bakar Biodiesel sawit terhadap tenaga kendaraan | | M. Ansori Nasution, T. Herawan, Darnoko | Mulai tahun 2006 biodiesel mulai dikembangkan secara komersial di Indonesia setelah adanya beberapa Peraturan Pemerintah yang mendorong substitusi BBM (bahan bakar minyak) dengan Biofuel. Walaupun demikian uji coba biodiesel, terutama untuk kendaraan dengan mesin diesel jenis terbaru belum banyakk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan biodiesel terhadap tenaga yang dihasilkan oleh mesin diesel Common Rail. Uji coba dilakukan dengan dua unit kendaraan Innova diesel 2500 cc dengan variasi bahan bakar solar dan campuran biodiesel solar. Tenaga mesin diukur dengan Dyno Test pada beberapa putaran mesin. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada RPM 3500 tenaga yang dihasilkan Innova dengan bahan bakar biodiesel B10 lebih besar dan responsif dibandingkan dengan Innova dengan bahan bakar solar. Hal ini menunjukan bahwa biodiesel sangat mutu BBM yang tinggi. Pencampuran biodiesel dengan solar yang ada di Indonesia dapat meningkatkan mutu BBM tersebut. Kata kunci: bahan bakar, Dyno test, responsif, putaran mesin. | Potensi pengembangan perkebunan kelapa sawit di dataran tinggi | | Heri Santoso, Edy Sigit Sutarta, Hasril H Siregar | Konversi perkebunan teh menjadi perkebunan kelapa sawit di areal yang berada pada ketinggian tempat antara 650 s/d 1.300 m dpl di kebun Marjandi, Bah Birung Ulu, Bah Butong, Sidamanik, Tobasari, dan Sibosur didasarkan data klimatologi, pengamatan ekofisiologi, keragaan dan produktivitas tanaman kelapa sawit yang telah ada pada areal dengan ketinggian 650-850 m dpl di kabupaten Simalungun. Tanaman kelapa sawit yang telah ada tersebut dapat tumbuh dan berproduksi dengan kendala "Stress temperatur udara rendah". Pada areal survei dengan ketinggian 600-850 m dpl terutama di kebun Marjandi, Bah Birung Ulu, dan sebagian kebun Bah Butong) dengan temperatur udara minimum rata-rata setelah periode tahun 1990 lebih dari 180 C yang berarti sudah memenuhi syarat tumbuh minimal bagi tanaman kelapa sawit. Pengaruh parameter iklim lainnya diperkirakan relatif tidak berbeda nyata dengan tanaman kelapa sawit di Marihat (369 m dpl). Tanah yang berkembang di areal survei adalah Andic Kandiudults, Andic Dystrudepts, dan Thaptic Hydrudands dengan sifat kimia bermuatan tidak tetap dan terjadi pengikatan (retensi P) tetapi mempunyai sifat fisik yang baik yaitu struktur gembur dan mudah diolah. Analisis kelas kesesuaian lahan untuk areal yang berada pada ketinggian antara 650 s/d 850 m dpl berada pada KKL S3 dengan faktor pembatas berupa parameter iklim untuk pertumbuhan dan produktivitas tanaman kelapa sawit. Topografi juaga merupakan faktor pembatas ringan-sedang dan kemasaman tanah merupakan faktor pembatas ringan. Sedangkan areal survei yang berada pada ketinggian > 850 m dpl yaitu kebun Sidamanik, Tobasari, dan Sibosur serta sebagian kebun Bah Butong tidak disarankan untuk dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit karena temperatur udara minimum cenderung kurang dari 180 C. Kata kunci : Kelapa sawit, ketinggian tempat, iklim [ Back ] | | | | |