| Iman Yani Harahap, Yusran Pangaribuan, dan Eka Listia | Untuk mengetahui respon awal keragaan berbagai varietas kelapa sawit yang ditanam dengan populasi yang tinggi, maka dilakukan pengamatan pada Agustus 2006 terhadap areal pertanaman yang didisain khusus untuk populasi tanaman yang tinggi dan menggunakan beberapa varietas kelapa sawit yang dirilis oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Penanaman tersebut dilakukan pada September 2001. Penelitian dilakukan di Kebun Membang Muda PTP Nusantara III, Aek Konopan, Sumatera Utara, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, dengan perlakukan faktor I: varietas kelapa sawit dan faktor II: populasi tanaman (tinggi, 181 pohon per ha dan normal, 128 pohon per ha). Perlakuan varietas kelapa sawit terdiri dari 6 jenis, yang merupakan bahan tanaman unggul yang telah dirilis oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Padahal yang diamati adalah organ vegetatif dan generatif. Hasil pengamatan menunjukkan Keragaan awal yang menunjukkan terjadinya cekaman lingkungan akibat penanaman dengan populasi tinggi adalah pertumbuhan memanjang rachis pelepah daun. Rachis pada varietas Rispa, Yangambi, Dolok Sinumbah dan Dolok Sinumbah x Bah Jambi yang ditanam dengan populasi tinggi lebih panjang dibanding dengan populasi normal, sedang varietas LaMe dinilai relatif toleran terhadap cekaman tersebut, yang terlihat dari panjang rachisnya yang tidak berbeda nyata antara yang ditanam dengan populasi tinggi dan populasi normal. Jumlah tandan buah dan bunga betina per pohon umumnya tidak berbeda antara pertanaman berpopulasi tinggi dan berpopulasi normal pada sebagian besar varietas yang dicobakan. Sehingga pada pertanaman berpopulasi tinggi memiliki produksi tandan buah dan bunga betina lebih tinggi dibandingkan pada pertanaman berpopulasi tinggi berkisar 22,5-30,6 ton per ha per tahun. Produktivitas ini jauh lebih tinggi sekitar 34% dibanding pada pertanaman dengan populasi normal yang berkisar 17,7 - 22,9 ton per ha per tahun. Berdasar keragaan awal vegetatif dan potensi produktivitasnya, maka varietas LaMe dinilai sebagai bahan tanaman yang berpotensial untuk digunakan pada sistem pengaturan populasi. Katakunci: kelapa sawit, varietas, populasi, vegetatif,produktivitas. | Studi jamur penyebab penyakit busuk buah pada kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacg) di berbagai daerah ketinggian tanam | | Agus E.Prasetyo, Agus Susanto dan A.R. Rambe | Penyakit busuk buah Marasmius, disebabkan oleh Marasmius palmivorus, umumnya dijumpai pada kelapa sawit umur 3-9 tahun, diatasnya kejadian penyakit ini sangat beragam. Jamur atau spesies lain penyebab penyakit ini selalu dijumpai, tetapi tidak menimbulkan masalah serius. Sampel dari penyakit ini selalu dijumpai, tetapi tidak menimbulkan masalah serius. Sampel dari penyakit pada penelitian ini diambil dari beberapa kebun dengan ketinggian tempat dari permukaan laut yang berbeda. Adapun lokasi pengambilan sampel yaitu; PTPN IV kebun Bah Jambi (368m dpl); PTPN IV kebun Bah Birung Ulu (831m dpl) dan Kebun Percobaan Aek Pancar (50m dpl). Gejala serangan yang muncul dari yang terberat sampai yang teringan berturut-turut adalah kebun Bah Birung Ulu (33-34%), kebun Bah Jambi (11-12%) dan kebun Aek Pancur (0,88-1%). Pada penelitian ini beberapa jamur berhasil diisolasi dari bagian buah yang busuk. Jamur-jamur tersebut adalah; Marasmius sp.; Sclerotium sp.; Rhizoctonia sp.; Fusariumsp.; Aspergillus sp.; Ceratocystis sp.; Penicillium sp. Kata kunci: busuk tandan, Marasmius, ketinggian tempat | Faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh pada konsumsi minyak goreng sawit di rumah tangga di kawasan perkotaan | | Teguh Wahyono dan Heru Irianto | Penelitian yang berjudl " Faktor-Faktor Sosial Ekonomi yang Berpengaruh pada Konsumsi Minyak Goreng Sawit di Rumah Tangga Di Kawasan Perkotaan" telah dilaksanakan pada tahun 2005. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui tingkat konsumsi minyak goreng sawit, kebutuhan rumah tangga dan keinginan konsumen. Penelitian ini bersifat deskriptif, dengan metode analisis berupa regresi linier terkait dengan ekonometrik, khususnya untuk menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi pada permintah minyak goreng sawit.Sampel daerah yang dipilih secara purposive, yaitu di pasar tradisional, pasar swalayan mini dan pasar swalayan besar, yang masing-masing sejumlah 70 sampel, sehingga seluruhnya berjumlah 210 sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel sosial ekonomi secara simultan yaitu: umur; pendidikan, jumlah anggota keluarga, pendapatan, harga minyak sawit, harga minyak non sawit, variable dummy tingkat konsumen, adalah signifikan (tingkat kepercayaan 90%) terhadap tingkat konsumen minyak sawit. Pengaruh variable secara individu, yang signifikan terhadap tingkat kepercayaan 90% adalah umur dan jumlah anggota keluarga. aPerilaku konsumen juga memperhatikan pilihan tempat pembelian, variasi pembungkusan/kemasan, kriteria kualitas minyak sawit dan aroma minyak goreng. Kata kunci: kelapa sawit, minyak goreng, konsumsi. | Isolasi gen kitinase dari Trichoderma harzianum dalam rangka pengembangan kelapa sawit tahan Ganoderma | | Condro Utomo, A. Razak Purba, Endang Nurhayati, Retno D.Setiowati dan Nancy D. Haro | Sepasang primer yang dirancang dari daerah homolog gen kitinase dari 4 species Trichoderma yang didepositkan di GenBank digunakan untuk mengaplikasi gen kitinase yang berasal dari Trichoderma harzianum PPKS. Sebagai primer forward dapat didesain sebagai Ktn 1F (5 TCACTCATGTCATCTACTC 3) dan sebagai primer reverse adalah Ktn 2R (5 AAAGAGATGAGCTCCTT 3). Hasil amplifikasi Polymerase chain reaction (PCR) menghasilkan pita DNA tunggal yang berukuran 1000 bp untuk Trichoderma harzianum PPKS. Hasil sekuensing dan konfirmasi di GenBank menujukkan bahwa produk PCR yang disekuen mempunyai homologi sebesar 97% dengan gen kitinase dari T.reesei yang telah didepositkan di GenBank. “Multiple sequence alignment” digunakan untuk mengkontruksi pohon phylogenetik dan ternyata T. harzianum PPKS menunjukkan mengelompok (Cluster) dengan T. reesei dan tidak mengelompok dengan T. harzianum didepositkan di GenBank. Kata kunci: Trichoderma harzianum, gen kitinase, PCR dan rancangan primer | Strategi mengembalikan kejayaan kelapa sawit Indonesia dengan barometer Malaysia | | Luqman Erningpraja, Teguh Wahyono, M.Akmal, Ratnawati N, Ambar Kurniawan | Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan perkebunan maupun industri kelapa sawitnya. Keadaan agroklimat yang mendukung, masih adanya ketersediaan lahan, letak geografis yang strategis dan ketersediaan tenaga kerja yang cukup banyak menjadi modal utama dalam pengembangan industri kelapa sawit. Namun sangat disayangkan, potensi Indonesia yang begitu besar, belum dimanfaatkan dengan baik sehingga Indonesia masih mengalami ketertinggalan dengan Malaysia, tetapi itu hanya disebabkan perluasan areal saja. Hal tersebut disebabkan masih banyak kelemahan yang dimiliki Indonesia seperti kurangnya koordinasi dalam perumusan kebijakan dan regulasi, minimnya dukungan terhadap penelitian dan pengembangan, serta faktor keamanan dan lingkungan. Hal tersebut perlu segera diatasi bukan hanya untuk menyaingi Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar saat ini, tetapi bertujuan untuk segera menentukan arah kebijakan sebagai pondasi utama dalam membangun industri kelapa sawit yang tangguh. Dengan demikian, harapan meraih kembali kejayaan minyak sawit Indonesia sebagai market leader minyak sawit dunia dapat diwujudkan. Kata kunci : Indonesia, kelapa sawit, strategi pengembangan. | | | | |