Pilihan Bahasa : 

Jurnal Vol 14 No.1 2006

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007

 

 

Vol. 14 No.1

 

 

* Keragaan awal pertumbuhan dan potensi produktivitas berbagai varietas kelapa sawit yang ditanam dengan populasi tinggi

* Studi jamur penyebab penyakit busuk buah pada kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacg) di berbagai daerah ketinggian tanam

* Faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh pada konsumsi minyak goreng sawit di rumah tangga di kawasan perkotaan

* Isolasi gen kitinase dari Trichoderma harzianum dalam rangka pengembangan kelapa sawit tahan Ganoderma

* Strategi mengembalikan kejayaan kelapa sawit Indonesia dengan barometer Malaysia

Keragaan awal pertumbuhan dan potensi produktivitas berbagai varietas kelapa sawit yang ditanam dengan populasi tinggi
Iman Yani Harahap, Yusran Pangaribuan, dan Eka Listia

Untuk mengetahui respon awal keragaan berbagai varietas kelapa sawit yang ditanam dengan populasi yang tinggi, maka dilakukan pengamatan pada Agustus 2006 terhadap areal pertanaman yang didisain khusus untuk populasi tanaman yang tinggi dan menggunakan beberapa varietas kelapa sawit yang dirilis oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Penanaman tersebut dilakukan pada September 2001. Penelitian dilakukan di Kebun Membang Muda PTP Nusantara III, Aek Konopan, Sumatera Utara, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, dengan perlakukan faktor I: varietas kelapa sawit dan faktor II: populasi tanaman (tinggi, 181 pohon per ha dan normal, 128 pohon per ha). Perlakuan varietas kelapa sawit terdiri dari 6 jenis, yang merupakan bahan tanaman unggul yang telah dirilis oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Padahal yang diamati adalah organ vegetatif dan generatif.

Hasil pengamatan menunjukkan Keragaan awal yang menunjukkan terjadinya cekaman lingkungan akibat penanaman dengan populasi tinggi adalah pertumbuhan memanjang rachis pelepah daun. Rachis pada varietas Rispa, Yangambi, Dolok Sinumbah dan Dolok Sinumbah x Bah Jambi yang ditanam dengan populasi tinggi lebih panjang dibanding dengan populasi normal, sedang varietas LaMe dinilai relatif toleran terhadap cekaman tersebut, yang terlihat dari panjang rachisnya yang tidak berbeda nyata antara yang ditanam dengan populasi tinggi dan populasi normal. Jumlah tandan buah dan bunga betina per pohon umumnya tidak berbeda antara pertanaman berpopulasi tinggi dan berpopulasi normal pada sebagian besar varietas yang dicobakan. Sehingga pada pertanaman berpopulasi tinggi memiliki produksi tandan buah dan bunga betina lebih tinggi dibandingkan pada pertanaman berpopulasi tinggi berkisar 22,5-30,6 ton per ha per tahun. Produktivitas ini jauh lebih tinggi sekitar 34% dibanding pada pertanaman dengan populasi normal yang berkisar 17,7 - 22,9 ton per ha per tahun. Berdasar keragaan awal vegetatif dan potensi produktivitasnya, maka varietas LaMe dinilai sebagai bahan tanaman yang berpotensial untuk digunakan pada sistem pengaturan populasi.

Katakunci: kelapa sawit, varietas, populasi, vegetatif,produktivitas.

Studi jamur penyebab penyakit busuk buah pada kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacg) di berbagai daerah ketinggian tanam
Agus E.Prasetyo, Agus Susanto dan A.R. Rambe

Penyakit busuk buah Marasmius, disebabkan oleh Marasmius palmivorus, umumnya dijumpai pada kelapa sawit umur 3-9 tahun, diatasnya kejadian penyakit ini sangat beragam. Jamur atau spesies lain penyebab penyakit ini selalu dijumpai, tetapi tidak menimbulkan masalah serius. Sampel dari penyakit ini selalu dijumpai, tetapi tidak menimbulkan masalah serius. Sampel dari penyakit pada penelitian ini diambil dari beberapa kebun dengan ketinggian tempat dari permukaan laut yang berbeda. Adapun lokasi pengambilan sampel yaitu; PTPN IV kebun Bah Jambi (368m dpl); PTPN IV kebun Bah Birung Ulu (831m dpl) dan Kebun Percobaan Aek Pancar (50m dpl). Gejala serangan yang muncul dari yang terberat sampai yang teringan berturut-turut adalah kebun Bah Birung Ulu (33-34%), kebun Bah Jambi (11-12%) dan kebun Aek Pancur (0,88-1%). Pada penelitian ini beberapa jamur berhasil diisolasi dari bagian buah yang busuk. Jamur-jamur tersebut adalah; Marasmius sp.; Sclerotium sp.; Rhizoctonia sp.; Fusariumsp.; Aspergillus sp.; Ceratocystis sp.; Penicillium sp.

Kata kunci: busuk tandan, Marasmius, ketinggian tempat

Faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh pada konsumsi minyak goreng sawit di rumah tangga di kawasan perkotaan
Teguh Wahyono dan Heru Irianto

Penelitian yang berjudl " Faktor-Faktor Sosial Ekonomi yang Berpengaruh pada Konsumsi Minyak Goreng Sawit di Rumah Tangga Di Kawasan Perkotaan" telah dilaksanakan pada tahun 2005. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui tingkat konsumsi minyak goreng sawit, kebutuhan rumah tangga dan keinginan konsumen. Penelitian ini bersifat deskriptif, dengan metode analisis berupa regresi linier terkait dengan ekonometrik, khususnya untuk menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi pada permintah minyak goreng sawit.Sampel daerah yang dipilih secara purposive, yaitu di pasar tradisional, pasar swalayan mini dan pasar swalayan besar, yang masing-masing sejumlah 70 sampel, sehingga seluruhnya berjumlah 210 sampel.

Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel sosial ekonomi secara simultan yaitu: umur; pendidikan, jumlah anggota keluarga, pendapatan, harga minyak sawit, harga minyak non sawit, variable dummy tingkat konsumen, adalah signifikan (tingkat kepercayaan 90%) terhadap tingkat konsumen minyak sawit. Pengaruh variable secara individu, yang signifikan terhadap tingkat kepercayaan 90% adalah umur dan jumlah anggota keluarga. aPerilaku konsumen juga memperhatikan pilihan tempat pembelian, variasi pembungkusan/kemasan, kriteria kualitas minyak sawit dan aroma minyak goreng.

Kata kunci: kelapa sawit, minyak goreng, konsumsi.

 

Isolasi gen kitinase dari Trichoderma harzianum dalam rangka pengembangan kelapa sawit tahan Ganoderma
Condro Utomo, A. Razak Purba, Endang Nurhayati, Retno D.Setiowati dan Nancy D. Haro

Sepasang primer yang dirancang dari daerah homolog gen kitinase dari 4 species Trichoderma yang didepositkan di GenBank digunakan untuk mengaplikasi gen kitinase yang berasal dari Trichoderma harzianum PPKS. Sebagai primer forward dapat didesain sebagai Ktn 1F (5 TCACTCATGTCATCTACTC 3) dan sebagai primer reverse adalah Ktn 2R (5 AAAGAGATGAGCTCCTT 3). Hasil amplifikasi Polymerase chain reaction (PCR) menghasilkan pita DNA tunggal yang berukuran 1000 bp untuk Trichoderma harzianum PPKS. Hasil sekuensing dan konfirmasi di GenBank menujukkan bahwa produk PCR yang disekuen mempunyai homologi sebesar 97% dengan gen kitinase dari T.reesei yang telah didepositkan di GenBank. “Multiple sequence alignment” digunakan untuk mengkontruksi pohon phylogenetik dan ternyata T. harzianum PPKS menunjukkan mengelompok (Cluster) dengan T. reesei dan tidak mengelompok dengan T. harzianum didepositkan di GenBank.

Kata kunci: Trichoderma harzianum, gen kitinase, PCR dan rancangan primer

Strategi mengembalikan kejayaan kelapa sawit Indonesia dengan barometer Malaysia
Luqman Erningpraja, Teguh Wahyono, M.Akmal, Ratnawati N, Ambar Kurniawan

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan perkebunan maupun industri kelapa sawitnya. Keadaan agroklimat yang mendukung, masih adanya ketersediaan lahan, letak geografis yang strategis dan ketersediaan tenaga kerja yang cukup banyak menjadi modal utama dalam pengembangan industri kelapa sawit. Namun sangat disayangkan, potensi Indonesia yang begitu besar, belum dimanfaatkan dengan baik sehingga Indonesia masih mengalami ketertinggalan dengan Malaysia, tetapi itu hanya disebabkan perluasan areal saja. Hal tersebut disebabkan masih banyak kelemahan yang dimiliki Indonesia seperti kurangnya koordinasi dalam perumusan kebijakan dan regulasi, minimnya dukungan terhadap penelitian dan pengembangan, serta faktor keamanan dan lingkungan. Hal tersebut perlu segera diatasi bukan hanya untuk menyaingi Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar saat ini, tetapi bertujuan untuk segera menentukan arah kebijakan sebagai pondasi utama dalam membangun industri kelapa sawit yang tangguh. Dengan demikian, harapan meraih kembali kejayaan minyak sawit Indonesia sebagai market leader minyak sawit dunia dapat diwujudkan.

Kata kunci : Indonesia, kelapa sawit, strategi pengembangan.

 

 

 

 

 

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 2347
  • Unique Visitor: 774
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.98
  • Since: 2010-01-10