|
* Pengaruh Penyimpanan Terhadap Kualitas Biodiesel Minyak Sawit
* Penerapan Good Agriculture Practice dan Good Manufakture Pratice Dalam Meningkatkan Mutu dan Keamanan Pangan Minyak Kelapa Sawit
* Keragaan Material DP Simalungun Hasil Siklus Kedua Program Pemuliaan Kelapa Sawit PPKS
* Cisolasi Promotor Spesifik Akar Pada Tanaman Kelapa Sawit Dalam Rangka Pengembangan Kelapa Sawit Tanah Gonoderma
* Potensi Peningkatan Rendemen Pabrik Kelapa Sawit Melalui Pemipilan Ulang Buah Sawit di Unstrip Bunch Menggunakan Mesin Empty Bunch Crusher
| Pengaruh Penyimpanan Terhadap Kualitas Biodiesel Minyak Sawit |
| Tri Haryati, Tjahjono Herawan, Sabarida, dan Safruddin |
Selama penyimpanan biodiesel minyak sawit diperkirakan akan mengalami oksidasi membentuk peroksida dan air. Air akan memacu terjadinya hidrolisis pada biodiesel sawit dan menghasilkan asam lemak bebas. Evaluasi pengaruh penyimpanan biodiesel sawit (berbahan baku CPO dan RBDPO) terhadap perubahan kandungan asam lemak bebas, air dan bilangan peroksida dilakukan selama 12 minggu. Perubahan kandungan asam lemak bebas terlihat signifikan setelah 7 minggu. Pengaruh penyimpanan terhadap perubahan bilangan peroksida juga serupa dengan perubahan kandungan asam lemaknya, sementara dalam periode pengamatan yang sama kandungan airnya menurun. Penyimpanan pada suhu rendah dapat menghambat perubahan kualitas biodiesel, sementara penggunaan konteiner yang berbeda (plastik, gelas maupun kaleng) tidak memberikan pengaruh yang nyata.
| Penerapan Good Agriculture Practice dan Good Manufakture Pratice Dalam Meningkatkan Mutu dan Keamanan Pangan Minyak Kelapa Sawit |
| Donald Siahaan dan Luqman Erningpraja |
Tantangan komoditas kelapa sawit dalam perdagangan global tidak ringan di masa mendatang. Perdagangan ekspor dan kesadaran higiene dan kesehatan masyarakat Indonesia menuntut diperlengkapinya industri perkebunan dan pengolahan kelapa sawit nasional dengan perangkat yang membantu capaian kesesuaian mutu dan keamanan pangan. Perangkat tersebut di antaranya Good Agricultural Practice (GAP) pada industri perkebunan kelapa sawit dan Good Manufacturing Practice (GMP) pada industri pengolahan kelapa sawit. Faktor resiko terbesar yang menjadi sumber kontaminasi dan penurun mutu CPO adalah: residu pestisida dan logam berat; cemaran pelumas dan minyak hidrolik, benda asing; penggunaan fat trap atau fat fit; adulterasi karena alat transpor dan bahan pembersih yang tidak tepat. GAP menjadi perangkat yang mencegah kontaminasi dan mengurangi deoteriorasi mutu pada rantai produksi pertama (kebun) dan kedua (panen dan transpor ke PKS). Parameter kualitas pada produk utama yang dihasilkan dalam kedua rantai produksi ini adalah asam lemak bebas dan DOBI (untuk mutu) dan logam berat, residu pestisida dan hidrokarbon (untuk keamanan pangan). GAP pada fasilitas, sumberdaya manusia, panen dan transportasi TBS dan teknologi pendukung dalam hal pengendalian hama dan penyakit secara hayati dan pemupukan organik disajikan dalam makalah ini. Demikian juga GMP bagi PKS meliputi fasilitas dan peralatan, pengolahan, dll. juga disajikan dalam makalah ini secara singkat.
| Keragaan Material DP Simalungun Hasil Siklus Kedua Program Pemuliaan Kelapa Sawit PPKS |
| Yurna Yenni dan Abdul Razak Purba |
DxP Simalungun berpotensi menghasilkan 7,53 ton CPO/ha/thn pada umur 6-9 tahun, merupakan material hasil persilangan dari tetua dura terbaik hasil seleksi siklus kedua program pemuliaan reciprocal recurrent selection (RRS) dan tetua pisifera keturunan SP 540T yang dikenal sebagai tetua pisifera terbaik. Pengujian projeni yang dilakukan pada penelitian ini untuk mengetahui potensi tetua melalui keragaan keturunannya. Persilangan yang diuji pada program RRS siklus kedua merupakan rekombinasi dari tetua-tetua terbaik pada program RRS siklus pertama. Pengujian dilakukan terhadap 252 persilangan DxP/T di Kebun Bah Jambi, Kebun Marihat, Kebun Tanjung Garbus, dan Kebun Rambutan. Berdasarkan hasil analisis, telah terpilih beberapa persilangan yang memiliki keunggulan dari aspek produksi bila dibandingkan dengan rerata produksi secara keseluruhan, yang kemudian dikelompokkan berdasarkan orijin tetua pisifera turunan SP 540T yang memiliki potensi produksi CPO 9,3-13,9% lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat produksi rata-rata seluruh persilangan.
| Cisolasi Promotor Spesifik Akar Pada Tanaman Kelapa Sawit Dalam Rangka Pengembangan Kelapa Sawit Tanah Gonoderma |
| Condro Utomo. A. Razak Purba, Endang Nurhayati, Retno D. Setiowati, Nancy D. Haro |
Pasangan primer Aka1f dan Aka2 yang diamplifikasi dengan metoda polymerase chain reaction (PCR) menghasil akan pita DNA berukuran 650 bp. Setelah tahapan purifikasi, kloning dan sekuensing pita DNA tersebut, sekuen DNA selanjutnya dikirim ke GenBank melalui program BLASTN dan dikonfirmasi sebagai promotor spesifik akar pada tanaman kelapa sawit. Pada sekuen yang diperoleh dari hasil amplifikasi dengan menggunakan primer Aka1f dan Aka 2 terbukti terdapat beberapa elemen penting antara lain: a root specific element, an ethylene responsive element (ERE), a metal responsive element (MRE) dan GCC box sekuen yang merupakan ciri khas dari promotor yang spesifik beraktifitas pada daerah perakaran atau promotor spesifik akar.
| Potensi Peningkatan Rendemen Pabrik Kelapa Sawit Melalui Pemipilan Ulang Buah Sawit di Unstrip Bunch Menggunakan Mesin Empty Bunch Crusher |
|
Salah satu penyebab kehilangan minyak tertinggi di pabrik kelapa sawit (PKS) adalah unstrip bunch (USB). Penurunan unstrip bunch secara langsung akan meningkatkan rendemen minyak. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka telah dikembangkan suatu teknologi rekayasa alsin pemipil buah sawit di tandan kosong sawit (TKS), yaitu; Empty Bunch Crusher (EBC). Alat ini terdiri dari beberapa susunan cakram dengan poros bertingkat yang berjumlah 9 tingkat dan memiliki arah putaran yang sama. Putaran cakram tersebut selain berfungsi untuk mendistribusikan TKS agar dapat melalui beberapa poros bertingkat, juga berfungsi untuk memipil buah yang berada pada bagian dalam TKS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi peningkatan rendemen pabrik yang dapat diperoleh dari pengutipan buah sawit di TKS melalui mesin EBC. Pengamatan dilakukan di PKS Mini Aek Pancur Kapasitas 5 Ton TBS/jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengutipan buah sawit (katekopen) yang diperoleh dari USB dengan menggunakan mesin EBC, secara signifikan dapat meningkatkan rendemen pabrik sekitar 1,06% (terhadap TBS). Peningkatan rendemen tersebut secara ekonomi dapat memberikan tambahan minyak sekitar 0,23 ton CPO/hari dengan nilai sekitar Rp. 805.000,-/hari (jika harga CPO Rp. 3500,-/kg). Apabila dalam setahun pabrik mengolah sebanyak 300 hari dengan jam olah 20 jam/hari, maka diperoleh tambahan CPO sekitar 69 ton dengan nilai sekitar Rp. 241.500.000,-/th.
|
|
|
|
|
|