| M. Ansori Nst, T. Herawan, D. Darnoko dan L. Erningpraja |
Dalam perekonomian Indonesia, non migas merupakan sektor penerimaan penting yang diharapkan oleh pemerintah dapat menggantikan kedudukan migas sebagai penyumbang utama pada masa mendatang. Alasanya bahwa migas merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui sehingga terdapat keterbatasan dan kendala dalam upaya penyediaanya lebih lanjut. Salah satu komoditas non migas yang diharapkan menjadi andalan dalam sektor penerimaan negara dari adalah subsektor perkebunan, diantaranya industri kelapa sawit yang pada saat ini merupakan komoditas unggulan. Subsektor perkebunan merupakan cabang produksi yang mengelola sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable). Produk perkebunan merupakan penyumbang terbesar dalam struktur perekonomian nasional mengingat berbagai manfaatnya sangat besar baik sebagai produk pangan maupun non-pangan (1). Ketersediaan bahan bakar minyak bumi semakin hari semakin terbatas. Indonesia yang saat ini dikenal sebagai salah satu negara pengekspor minyak bumi, telah menjadi konsumsi bahan bakar minyak, karena produksi dalam negeri sudah di bawah satu juta barrel per hari, bahkan pernah timbul wacana Indonesia ” dikeluarkan” dari OPEC. Dengan makin meningkatnya harga minyak bumi dunia yang sekarang sudah diatas USD 60 per barel dan juga kebutuhan masyarakat yang terus meningkat (6), tentu saja hal ini sangat memberatkan keuangan negara dan berdampak negatif untuk masyarakat Indonesia. Keadaan ini memaksa kita untuk memanfaatkan dan mengembangkan berbagai potensi energi alternatif. Salah satu energi alternatif yang telah berhasil dikembangkan oleh PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) adalah Biodiesel dari minyak sawit (2). Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia mempunyai potensi untuk mengembangkan biodiesel baik untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. Sampai saat ini harga biodiesel masih belum dapat bersaing dengan minyak solar di dalam negeri. Sedangkan untuk harga di luar negeri harga biodiesel sudah bersaing dengan harga bahan bakar petrodiesel. Bahkan harga biodiesel lebih rendah dibandingkan dengan harga petrodiesel karena di negara-negara tersebut biodesel mendapat keringanan atau pembebasan pajak. | Produksi biodiesel dari Crude Palm Oil | | M. Ansori Nst, Bagus Giri Yudanto dan D. Darnoko | Dalam perekonomian Indonesia, non migas merupakan sektor penerimaan penting yang diharapkan oleh pemerintah dapat menggantikan kedudukan migas sebagai penyumbang utama pada masa mendatang. Justifikasinya adalah bahwa migas merupakan sumber daya alam yang tak dapat diperbarui sehingga terdapat keterbatasan dan kendala dalam upaya pengembangan lebih lanjut. Salah satu komoditas non migas yang diharapkan menjadi andalan dalam sektor penerimaan adalah subsektor perkebunan, diantaranya kelapa sawit yang pada saat ini merupakan komoditas unggulan. Subsektor perkebunan merupakan cabang produksi yang dilakukan melalui pengolahan sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable). Produk perkebunan merupakan penyumbang terbesar dalam struktur perekonomian nasional mengingat keragaman manfaatnya sangat besar baik sebagai produk pangan maupun non-pangan(1). Salah satu produk hilir minyak sawit yang dapat dikembangkan di indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar mesin diesel. Ketersediaan bahan bakar minyak bumi semakin hari semakin terbatas. Indonesia yang saat ini dikenal sebagai salah satu Negara pengekspor minyak bumi, telah menjadi “net importer” bahan bakar minyak pada tahun ini, karena produksi dalam negeri sudah dibawah satu juta barrel per hari. Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia mempunyai potensi untuk mengembangkan biodiesel baik untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. Sampai saat ini harga biodiesel masih belum dapat bersaing dengan minyak solar di dalam negeri. Sedangkan untuk harga di luar negeri harga biodiesel sudah bersaing dengan harga bahan bakar petrodiesel. Bahkan harga biodiesel lebih rendah dibandingkan dengan harga petrodiesel. | Pengaruh jumlah dan jenis adsorben pada penyerapan warna crude glycerol dari hasil samping pembuatan biodiesel | | Eka Nuryanto dan Dewi Kasita |
Hasil samping dari pembuatan metil ester adalah crude glycerol. Kandungan warna crude glycerol ini adalah yellow sebesar 2,2 yang akan dihilangkan melalui proses adsorpsi dengan menggunakan adsorben karbon aktif dan arang tempurung kelapa. Dua puluh sampel crude glycerol diadsorpsi dengan variasi jumlah penggunaan adsorben 0,1% sampai 5%. Kondisi yang optimum diperoleh pada penggunaan 0,4% karbon aktif. Dari hasil analisa dan perhitungan yang telah dilakukan diperoleh bahwa hubungan antara variasi penggunaan karbon aktif dengan kadar warna adalah berbanding terbalik dengan persamaan garis regresi hiperbola Y = 0,414 – 1,458 X-1 dengan harga koefisien korelasi r = -0,4016. Sedangkan hubungan antara variasi penggunaan arang tempurung kelapa dengan kadar warna adalah berbanding lurus dengan persamaan garis regresi linier Y = 2,36 + 0,6446 X dengan harga r = 0,946. | Prospek usaha dan titikjenuh pengembangan areal perkebunan kelapa sawit Indonesia | | Luqman Erningpraja dan A. Kurniawan |
Permintaan minyak nabati dunia (termasuk fats) memiliki tren meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar, 3,01% per tahun. Penemuan teknologi baru di bidang pengolahan minyak terutama menyangkut sumber energi alternatif pengganti minyak bumi semakin meningkatkan potensi permintaan atas minyak nabati dunia termasuk di dalamnya minyak kelapa sawit. Prospek usaha yang cerah, harga produk yang kompetitif dan industri berbasis kelapa sawit yang beragam dengan skala usaha yang fleksibel, telah menjadikan banyak perusahaan dalam berbagai skala maupun petani yang berminat untuk membangun industri kelapa sawit, mulai dari kebun hingga industri hilir. Bagi Indonesia, peluang pengembangan kelapa sawit juga ditunjang oleh potensi sumberdaya alam yang dimiliki, antara lain terjaminnya ketersediaan lahan dan tenaga kerja, letak geografis yang sangat strategis dan daya tarik investasi yang cukup tinggi. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kelapa sawit dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di seluruh nusantara. Tidak semua industri kelapa sawit akan kompetitif untuk dibangun di seluruh wilayah Indonesia dan dapat dilakukan oleh semua golongan pengusaha/orang. Beberapa faktor yang terkait dengan kelayakan usaha relatif menekan laju pengembangan industri kelapa sawit Indonesia, termasuk di dalamnya masalah permodalan hingga kondisi dan ketersediaan infrastruktur dan sarana penunjang industri lainnya. Sementara itu isu liberelisasi dan globalisasi perdagangan mengharuskan pencapaian produk dari suatu proses produksi yang efisien, tidak terkecuali untuk produk-produk kelapa sawit Indonesia. Titik jenuh pengembangan areal perkebunan kelapa sawit Indonesia diproyeksikan seluas 7,54 juta ha dan dicapai dalam periode 10-15 tahun mendatang atau pada tahun 2014-2019. Terlepas dari proyeksi tersebut, secara prinsip aktual pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia akan terus berjalan sampai dengan sebuah kondisi dimana “manfaat ekonomi” yang diperoleh dari pertambahan satu satuan luas areal kebun kelapa sawit tidak lagi memberikan nilai lebih dari “biaya ekonomi” yang harus dikeluarkan. |
|
|
|